Defteros kira, ada yang menebar jutaan koin emas di tangga reruntuhan. Ia pikir, kilau emas matahari terlempar ke bumi dan mendarat di anak tangga kuil. Bahkan ia sempat mengira, kalau mendadak seorang tukang bunga memutuskan untuk menyimpan puluhan bunga kuning di situs kuno purbakala ini. Akal sehatnya melayang-layang tanpa batas, sampai akhirnya sang otak berhasil menyimpulkan asal muasal warna kuning emas yang mencuri fokusnya ini.
Seorang pemuda. Berambut pirang panjang. Tertidur pulas. Di reruntuhan tangga kuil kuno Sanctuary.
Kalau saat ini Aspros ada di dekatnya, dia pasti sudah teriak-teriak tidak jelas dan merusak kedamaian yang kini menyelimuti Defteros. Ia menghela napas sebelum menghampiri sang pangeran tidur. Perlahan, ia mengatur kameranya dan mengarahkan benda tersebut pada si pemuda. Komposisinya sederhana. Helai rambut, batu di anak tangga, dan sedikit langit biru. Seutas Cahaya. Ya, frase itu akan cocok dijadikan judul fotonya ini.
.
.
.
"Mmh," gumam Asmita. Matanya lalu mengerjap beberapa kali sebelum ia menoleh ke arah Defteros. Kameramen itu menghalangi cahaya matahari, membuat pandangannya gelap. Yang ia dapat hanyalah kulit kecoklatan terbakar matahari dan rambut kebiruan. Sisanya samar.
"Halo." Defteros buru-buru memasukkan kameranya ke dalam tas. "Kalau mau istirahat, jangan di sini. Bahaya."
"...ya. Maaf." Asmita berkata tidak jelas. Pandangannya masih belum fokus. Defteros menyadari gelagat Asmita dan menepuk-nepuk kepalanya pelan.
"Ayo, cepat kumpulkan nyawamu," candanya. Asmita menoleh ke arah orang asing ini lalu tersenyum tipis.
.
.
.
Senyuman yang kelak akan menghantui Defteros sepanjang hidupnya, memaksa tubuhnya melakukan apapun hanya untuk bisa melihatnya untuk yang kedua, tiga, empat, dan sekian kali.
No comments:
Post a Comment