Saturday, 19 January 2013

The One Who Chasing The Sun #4

Asmita terduduk diam di ujung anak tangga. Ia menikmati sepoi angin yang menyentuh leher, menyusup ke sela pakaian, dan menggerak-gerakkan helai rambut pirang keemasannya. Nafasnya masih memburu, keringat masih merembes keluar dari pori-pori kulitnya. Beberapa menit berlalu dan Asmita menyerah pada rengekan otot punggungnya. Ia lalu bersandar di undakan tangga. Kepalanya tengadah menatap langit biru cerah dengan awan-awan putis melayang ringan. Sebuah pesawat lewat, melintasi Athens untuk mendarat di bandara internasional, meninggalkan asap putih tipis dan deru kencang. Damai, tenang. Lima ratus euro untuk sebuah reruntuhan kuno dianggap sebagai harga yang tidak wajar oleh turis dan penduduk lokal, padahal Asmita rela menukarkan semua gajinya yang memiliki enam digit angka nol di belakangnya demi kedamaian dan kesunyian seperti ini. Ironis.

Ketenangannya ini harus diganggu oleh dering telepon genggam yang mendadak berbunyi. Setelah sedikit terkejut, pemuda bermata biru ini lalu mengambil benda elektronik yang sejak tadi tersimpan di saku belakang celana panjangnya. Ia lalu menatap kosong benda berwarna putih tersebut.

"Harpy," gumamnya sebelum menekan tanda merah pada ponsel dengan teknologi layar sentuh itu, lalu memutuskan untuk mematikannya dan menyimpannya kembali di saku celana. Asmita kembali merebahkan dirinya di undakan tangga dan memejamkan mata.

No comments:

Post a Comment