Thursday, 2 August 2012

Home

Hiruk-pikuk manusia, hutan beton dan asap knalpot yang tebal mendadak jadi hal asing bagi Kiara. Gadis belia dengan wajah berminyak dan rambut kelimis bau keringat itu melirik sekelilingnya, mencoba mencari hal-hal familiar dari lingkungan barunya sekarang. Baligo besar, jembatan penyebrangan berkarat, zebra cross yang pudar, puntung rokok, pedagang asongan, pedagang kaki lima, pengamen, dan anak-anak muda dengan rambut warna-warni dan tindik sana-sini. Semuanya terasa asing, namun tidak asing juga. Kiara sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan sekarang.

Setelah sepuluh menit termangu dalam bisu seperti orang bingung, akhirnya ia mengangkat tas kuning besar dan menyeret koper hitamnya dari kehebohan terminal bis. Perjalanan sepuluh jam dari desa di pedalaman Jawa sudah lebih dari cukup untuk membuat gadis berambut hitam-merah keriting tanggung itu terlihat lebih bloon daripada seharusnya. Sembari melangkah setengah hati, ia mengambil ponsel dan melihat layarnya. Ada dua pesan singkat.

Thursday 14/5/14 13:09
From : Popski  

Sudah sampai? Pulang sama siapa?

Kiara memajukan bibirnya dan sedikit bersiul ketika membalas pesan singkat dari ayahnya  'Udeh, ini lagi nyari angkot'. Setelah selesai, ia maju ke pesan singkat berikutnya.

Thursday 14/5/14 14:43
From : Derry

Selamat datang lagi di Bandung, cewek kucel.

Kali ini Kiara mengerutkan dahinya. Jahat sekali temannya yang satu ini. Tidak ada angin atau hujan, langsung menyebutnya kucel padahal ketemu juga tidak. Baru saja ia mengetik pesan untuk membalas pesan dari Derry, sepasang tangan menutupi matanya.

"Halo kucel. Nyari tumpangan?"

Hampir saja Kiara melancarkan jurus Banting-Tas-Kuning-pada-Siapapun-yang-Berani-Menggangguku-di-Tempat-Umum kalau si penyergap amatir tidak bicara. Sebagai ganti dari jurus yang namanya super panjang itu, ia menyikut perut lawannya dan berbalik. Di hadapannya, pemuda berambut tanggung dan senyum bodoh tersungging di bibir berdiri.

"Selamat datang di kota, Kiara Hasta Dariya. Perlu tour guide untuk memandu jalan-jalan Anda di kota besar?" ujarnya dengan lagak sok. Kiara tidak bisa menahan diri untuk meninjunya sekali lagi.

Akhirnya, sesuatu yang familiar muncul. Yang sudah ditunggunya selama setahun, yang hanya bisa ia dengar dari sinyal elektrik saja, yang ia rindukan sejak lama.

"Halo, Derry Putra Satyapermana. Kebetulan saya memang butuh guide. Bisa tolong bawa saya ke rumah?"

No comments:

Post a Comment