Saturday, 11 August 2012

Mask #1

Kota Regalo hari ini damai, seperti biasa. Hiruk-pikuk kehidupan terjadi dengan semestinya tanpa ada gangguan yang berarti. Anak-anak masih heboh berlarian di jalanan, para pedagang masih semangat berjualan meski matahari memanggang, dan sekelompok orang berpakaian hitam masih terlihat berpatroli mengelilingi kota.

Ya, hari yang biasa bagi seluruh penduduk dan Arcana Famiglia.


Hari ini adalah hari patroli biasa bagi serie Cawan, pimpinan Nova--pemilik Arcana ke-13. Pemuda ramping berambut biru tua itu berjalan-jalan keliling kota dengan diiringi oleh bawahannya, seperti biasa. Memperhatikan apakah ada kesulitan pada warganya, mendengarkan percakapan di lorong-lorong gelap, atau sekedar memicingkan mata untuk fokus pada transaksi aneh di balik bayangan gedung. Hari ini pun, Nova bekerja dengan baik dan sempurna untuk menjaga keamanan dan ketertiban kota Regalo.


"Kurasa hari ini cukup," ujar Nova setelah mereka selesai mengelilingi kota, "kalian bisa kembali ke markas dan membuat laporan. Serahkan padaku sebelum makan malam, atau taruh saja di mejaku sebelum itu. Aku berniat melaporkan semuanya pada Kapten setelah makan malam," lanjutnya. Anggukan serempak dari para bawahannya dan satu isyarat tangan darinya cukup untuk membuat ia berdiri sendirian di tengah kota.


Selesai sudah, pekerjaan hari i--


"Hi-yo-ko-ma-me!" seru girang seseorang dari belakangnya, dan tensi darah Nova langsung naik drastis mendengarnya. Ia berbalik dan menemukan pemuda berambut pirang dan bermata hijau sedang tersenyum lebar dan memamerkan giginya sedang melambaikan tangan. Nova langsung mengerutkan dahinya dan memisuh.


"Berhenti memanggilku begitu, Libertà!"


Tawa renyah meluncur dari sela bibir Libertà. "Oh, ayolah, Nova. Jangan marah-marah di tengah kota begini."


"Memangnya siapa yang mulai duluan, hah?!" balas Nova, nada suaranya naik. Libertà hanya membalas dengan tertawa saja. Kelihatan jelas moodnya sedang bagus.


"Ah, sudahlah. Temani aku makan! Hari ini Debito mau mentraktir Lasagna di L'Osteria! Ayo!" serunya sambil menarik Nova keluar dari hiruk-pikuk kota dan menulikan diri dari sumpah-serapah sang La Morte yang menyuruhnya melepaskan tangan atau berhenti menariknya atau sekedar beralasan seperti 'aku banyak kerjaan'.  


.

.
.

"Tambah Lasagna-nya!" seru Libertà dengan mulut setengah penuh.


"Oi oi, jangan mentang-mentang aku yang bayar lalu kau seenaknya begitu, Bocah." Debito angkat suara sambil meneguk lemonade.


"Sudahlah, Debito. Jarang-jarang 'kan kau mau mentraktir, orang pelit sepertimu," tukas Luca. Debito menghela napas.


"Ya. Kalau yang perutnya seperti ruang hampa cuma Libertà seorang, aku tidak akan ambil pusing. Tapi--


"Aku juga tambah!" seru Pace.


"--tapi aku bisa bangkrut kalau yang makan mereka berdua!" seru pemimpin serie Koin tersebut sambil menunjuk Libertà dan Pace yang kini sedang menghabiskan porsi Lasagna mereka yang keempat. Luca hanya tergelak dan melanjutkan acara makan siangnya, membiarkan Debito merutuk dan memisuh tentang bagaimana keadaan dompetnya setelah acara makan siang ini selesai.


Ini dan itu, meninggalkan Nova sendirian dengan es krim gelato-nya. Pikirannya berkelana entah ke mana, mungkin ke tumpukan kertas di atas mejanya atau ke percakapan-percakapan dan tindakan-tindakan aneh yang tadi ia temukan di sepanjang patrolinya.


Setelah ini, sebaiknya aku mengecek ulang dermaga dan gang sempit sebelum pasar. Sekilas tentang 'daun' dan pertemuan rahasia ini terdengar an--"WUAH!"


Duo pemimpin serie dan Luca langsung menengok mendengar teriakan Nova, untuk menemukan sang pemimpin dari serie Cawan sedang memegang tengkuknya dan merona. Libertà, yang duduk di sampingnya, tersenyum sangat lebar sambil memegang es batu.


"Mukamu jelek sekali, Hiyokomame, tidak cocok dengan gelato strawberry yang sedang kau makan."


Oh, rasanya ingin Nova menghajar Libertà saat itu juga. "Bukan urusanmu, Bodoh."


"Hei sudah, kalian berdua," Luca geleng-geleng kepala melihat kelakuan dua rekan sesama Tarocco-nya.


"Si Bodoh ini yang mulai!" sengit Nova, menunjuk Libertà yang masih tertawa-tawa. "Berhenti tertawa, Tukang Topeng!"


--hening. Libertà berhenti tertawa, begitu pula tiga seniornya yang lain. Ekspresi di wajah sang Il Matto langsung mengeras. Ia segera mengambil serbet dan mengelap jari serta mulutnya, lalu berdiri.


"Aku duluan."


.

.
.

Nova menghela napas sangat panjang. Hari ini akan jadi hari yang sangat panjang, sepertinya.



.
.
.

Arcana Famiglia (c) Hunex (au) & Ruru (ar)

No comments:

Post a Comment