Sunday, 19 August 2012

That Blue Sky


Bel berbunyi empat kali, tanda waktunya masuk kelas. Siswa-siswi, pelan tapi pasti, masuk ke dalam kelas dengan teratur. Semua, kecuali beberapa orang berandal muda yang ketahuan merokok di kamar mandi sekolah.

“FARDI! JAKA! THEO! JANGAN LARI KALIAN!” seru seorang bapak-bapak tua yang kelihatannya sudah mencapai usia paruh baya.

“ASAL BAPAK NGGAK NGEHUKUM SAYA SIH OKE AJA, PAK!!!” seru Fardi, dengan cengir tolol menghias wajahnya.

“ZARA! KAMU JUGA BERHENTI!” lanjut beliau, yang mempercepat langkahnya. Zara menengok ke belakang dan memasang ekspresi horor ketika melihat jarak antara dirinya dan sang guru hanya tinggal beberapa langkah saja.

“AMPUN PAK AMPUUUUUUUUUUUUUUN!!!”

Adegan teriak-teriak sambil lari-lari ini berlangsung selama beberapa saat, sampai akhirnya satu-satu tertangkap, menyisakan Zara tertinggal dalam kejar-kejaran solo antara dirinya dan Pak Mahdi. Sang guru killer mantan peraih medali emas PON cabang atletik di masanya masih tidak mau menyerah dalam memburu Zara, siswa paling bermasalah di angkatannya. Prestasi anak itu sebenarnya bagus, di atas rata-rata malah. Yang harus dibenahi dan dididik lebih lanjut adalah caranya bersikap terhadap yang lebih tua dan sikap ngawurnya.

Seperti ketika ia akhirnya melompat dan menggelantung di pipa, untuk kemudian salto dan menjamin keselamatan dirinya dari terkaman sang guru matematika dengan diam di atap sekolah.

“Zara! Turun kamu!” seru Pak Mahdi sambil menendang tong sampah terdekat ketika menemukan sang pemuda tanggung sedang tertawa terbahak-bahak di atap sekolah.

“Nanti aja, Pak! Pas pulang sekolah! Udah ah, Pak. Saya mau tidur dulu!”

Langit terlalu biru untuk disia-siakan belajar matematika di kelas.

No comments:

Post a Comment