Bel berbunyi empat kali, tanda waktunya masuk kelas. Siswa-siswi,
pelan tapi pasti, masuk ke dalam kelas dengan teratur. Semua, kecuali beberapa
orang berandal muda yang ketahuan merokok di kamar mandi sekolah.
“FARDI! JAKA! THEO! JANGAN LARI KALIAN!” seru seorang
bapak-bapak tua yang kelihatannya sudah mencapai usia paruh baya.
“ASAL BAPAK NGGAK NGEHUKUM SAYA SIH OKE AJA, PAK!!!” seru
Fardi, dengan cengir tolol menghias wajahnya.
“ZARA! KAMU JUGA BERHENTI!” lanjut beliau, yang mempercepat
langkahnya. Zara menengok ke belakang dan memasang ekspresi horor ketika
melihat jarak antara dirinya dan sang guru hanya tinggal beberapa langkah saja.
“AMPUN PAK AMPUUUUUUUUUUUUUUN!!!”
Adegan teriak-teriak sambil lari-lari ini berlangsung selama
beberapa saat, sampai akhirnya satu-satu tertangkap, menyisakan Zara tertinggal
dalam kejar-kejaran solo antara dirinya dan Pak Mahdi. Sang guru killer mantan
peraih medali emas PON cabang atletik di masanya masih tidak mau menyerah dalam
memburu Zara, siswa paling bermasalah di angkatannya. Prestasi anak itu
sebenarnya bagus, di atas rata-rata malah. Yang harus dibenahi dan dididik
lebih lanjut adalah caranya bersikap terhadap yang lebih tua dan sikap
ngawurnya.
Seperti ketika ia akhirnya melompat dan menggelantung di
pipa, untuk kemudian salto dan menjamin keselamatan dirinya dari terkaman sang
guru matematika dengan diam di atap sekolah.
“Zara! Turun kamu!” seru Pak Mahdi sambil menendang tong
sampah terdekat ketika menemukan sang pemuda tanggung sedang tertawa
terbahak-bahak di atap sekolah.
“Nanti aja, Pak! Pas pulang sekolah! Udah ah, Pak. Saya mau
tidur dulu!”
Langit terlalu biru
untuk disia-siakan belajar matematika di kelas.
No comments:
Post a Comment