Friday, 17 August 2012

(Jatuh) Cinta


“Gimana caranya mau jatuh cinta, kalau buat jatuh aja kamu takut?!!” sembur Leyka. Aku menunduk dan melirik kiri-kanan, berpura-pura tidak mengenal wanita muda berambut hitam legam sepinggang dan mata hijau besar dan wajah garang di depanku.
“Uh, yeah, karenanya, aku bilang aku-tidak-mau-jatuh-cinta. Aku tidak mau jatuh di tempat dan karena orang yang salah.”
Leyka menghela napas. “Justru itu, Luce. Justru itu. Bukannya aku meminta kau untuk jatuh pada orang tidak jelas yang baru saja kau kenal tapi….”
Aku mengangkat tangan, menghentikan lanjutan tapi milik Leyka. “Ya ya, Oke. Aku butuh waktu. Aku masih butuh waktu, Ley. Kau sendiri yang paling tahu kalau aku adalah orang yang paling sulit lupa tentang hal gila dan tidak penting yang terjadi di sekitarku sementara paling mudah lupa dengan hal vital semacam nama orang dan peta kota. Hebat aku tidak tersesat sepanjang kiprahku menyetir di kota penuh jalan tikus ini.”
“Itu karena kau menyetir denganku atau dengan orang lain yang tahu jalan, adik bodoh.”
“Yayaya, kakak sialan,” jawabku sekenanya sambil mengacungkan gelas plastik berisi Thai Tea yang sudah habis setengah dan satu tangan lagi memelintir ujung rambut pirang ikal di bahu. Sungguh, pembicaraan yang tidak akan ada habisnya kalau mengenai topik yang satu ini.

Cinta.

Menurut satu film Mandarin tentang monyet emas yang menjelajah ke Barat bersama seekor babi, seekor Kappa, dan seorang biksu, cinta itu deritanya tiada akhir. Cinta itu kosong.

Cinta itu mengada-ada dan harap belaka.

Aku sedikit meregangkan otot bahuku sebelum kembali menyeruput latte dan menatap Leyka--yang sedang menatapku garang. Ah, orang keras kepala, manusia yang hanya beda dua tahun dariku ini.

"Udahlah, Ley. I'll be fine, even without some lucky man to be loved. Toh selama dua puluh tahun ini juga gue survive tanpa dicintai oleh seorang pria, kecuali Bokap dan dua kakak bego pengidap sister-complex-parah itu. Really, I'll be fine."

Leyka menghela napas, pasrah. "Mau sampai kapan lu bergantung pada cinta dari Om Raki, Mas Rangga, dan Kak Arya? Mereka nggak akan ada terus-terusan dalam hidup lo."

Kini giliranku yang menghela napas. "Iya, Ley, iya. Ayah udah punya Ibu. Mas Rangga udah jadi sama lu, akhirnya, setelah masa-masa galau dari abang paling tsundere yang pernah gue punya, dan Kak Arya lagi pedekate sama anaknya Om Aldi. Ya, gue tau, cuma gue sendiri di sini yang punya bad luck dalam masalah cinta. Tapi mau gimana?" nada suaraku sedikit naik. Leyka menghela napas lagi.

"Gimana, sama Haki, anaknya Om Ditya?"

Oh. Ya. Topik ini lagi.

"Dulu nyokap gue jatuh kaki di kepala dan kepala di kaki sama Om Ditya tapi ngga dapet. Friendzone. Sekarang Haki yang suka sama gue tapi guenya udah kepalang nganggep dia sahabat. Gue cerita begini ke nyokap dan lo harus tebak responnya apaan."

"Apa, memangnya?"

"Haki? Oh, ya udah, kamu sama dia aja. Dia yang suka sama kamu, 'kan, bukan kamu yang suka sama dia? Bagus. Berarti dendam mama bisa terbalaskan. Sana, kamu pacaran aja sama dia, terus putus-nyambung-putus-nyambungin. Gantungin aja statusnya kalo perlu. Abis itu, friendzone dia. Biar bapaknya tau gimana rasanya jadi mama," ujarku, meniru gaya bicara mama.

Dahi Leyka mengerut dan alisnya naik. "Oh... ya?" tanyanya tidak percaya. Aku mengangguk.

"Terus si ayah malah nambahin, 'Haki anaknya Om Ditya? Eh, Zara, ini Luca dikejar-kejar sama Haki anaknya Ditya. Jadi inget masa lalu ga? Hahahahaha.'"

"Bokap-nyokap lu, semacam unik, ya?"

"Barang langka, mereka," lanjutku sambil bergelung di kursi berlengan itu. "Tapi, Ley, Haki emang ganteng, 'sih. Sungguh. Baik, senyumnya manis, kalo ngomong bahasa Inggris aksen British-nya kedengeran banget, wangi, gentleman, soleh juga. Tanpa cela, dia itu. Sayang kalo jadi sama cewek serampangan macem gue. Hahaha," tawaku hambar. Aku lalu menatap Leyka dan menemukan tetangga sekaligus teman mainku sejak pertama kali dia pindah ke rumah sebelah itu sedang tersenyum manis. Maniiiiiiiiiiiiiiiiiiis sekali, sampai aku tidak heran kalau Mas Rangga sangat sayang dan cinta padanya.

"Nah, itu, kamu bisa tau poin baiknya dia apa, poin jeleknya kamu apa. Taruhan, dia juga mikir yang baik-baik dari kamu dan yang terburuk dari dia. Itu namanya 'penerimaan'. Kalau udah sampai tahap itu, berarti emang kalian udah saling su--

"Tapi--

"Denial itu adalah tanda pertama dari cinta, Luce. Inget itu."

Aku terpaksa menelan bantahan yang sudah siap meluncur mentah-mentah. Denial is the first sign of love. Itu yang diajarkan ibuku dan Tante Aida pada Kak Arya.

"Oke, oke. Terserah. Yang penting sekarang, gue mau tambah minuman cokelat dan lo harus bayarin. Titik."

.

.

.




No comments:

Post a Comment