Shinji masih tidak percaya.
Ia menolak untuk percaya.
Napas pemuda di tangannya mulai berat, tercekat. Ia lalu memaksakan senyum tipis. "Maaf, Oniichan.... Aku...."
"Sayonara...."
Dan tangannya terjatuh. Lemas. Hilang.
.
.
.
Shinji tidak mau percaya. Ini hanya mimpi, pikirnya. Ia menolak percaya pada hangat air di tangannya, pada paras pucat pemuda di pangkuannya, pada merah pekat yang mengalir tanpa henti dari satu luka menganga di tubuh si pemuda. Ia menolak percaya pada sesak yang tumbuh di dada dan air mata yang mengalir tanpa aba-aba. Ia menolak percaya pada gemetar di kedua lengannya ketika memeluk erat tubuh dingin berharganya.
Shinji menolak untuk percaya pada kenyataan bahwa kini ia sendirian. Tidak lagi ditemani oleh suara menyebalkan dan tampang-minta-ditonjok di pagi harinya, tidak lagi ditemani celetukan asal yang membuatnya naik darah, atau kepala yang selalu bisa dijadikan kantung samsak pribadinya.
Tidak lagi, ditemani oleh Yuuji.
"Yuuji," bisiknya.
Tidak ada lagi yang menjawab panggilannya.
"Yuu...."
Atau sekedar menolehkan kepala dan memandangnya bosan juga mengantuk.
Tidak ada lagi yang memanggilnya kakak. Tidak ada lagi yang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu dan langsung berguling-guling di karpet tanpa menuntut apapun kecuali eksistensinya.
Tidak ada lagi adik untuk dilindungi, dimanja.
Tidak ada lagi Yuuji dalam hidupnya.
.
.
.
Hari itu, Shinji menangis. Meraung. Marah, putus asa. Untuk pertama dan terakhir kali dalam hidupnya. Untuk Yuuji-nya. Yuuji miliknya.
.
.
.
L.A.S.P (c) Pratiwi Fitriani
No comments:
Post a Comment