Sunday, 29 June 2014

Goodbye

Disclaimer :

K (c) GoRa & GoHands

.
.
.

Hari itu, tiga minggu setelah kematian Totsuka Tatara, dunia Suoh Mikoto runtuh seutuhnya.

Ketika Pedang Damoscles nya mulai jatuh dalam gemuruh, ia terlalu larut dalam perih harapan bahwa dirinya akan bebas di pelukan maut. Ia terlalu percaya bahwa Reishi akan menjalankan tugasnya sebagai Raja Biru dan mengirimnya ke alam sana dalam satu gerak cepat.

Ia lupa, bahwa sedingin apapun sang Raja Biru, satu potongan besar hatinya terisi oleh sosoknya. Sosok Suoh Mikoto.

Dan Reishi, tidak sekuat itu untuk dapat hidup tanpa Suoh Mikoto di dalamnya.

.
.
.

Yang ia lihat di hadapannya sosok pemuda yang terbaring dengan merah menggenang di sekelilingnya.

Semuanya terlalu cepat bagi Mikoto. Yang ia bisa tangkap, adalah bahwa Reishi melakukan sesuatu yang membuat Weissman level-nya kembali normal.

Dan Pedang Damoscles Reishi pecah jadi serpih.

"Su...oh."

Mikoto berlutut di samping Reishi. Matanya panas entah oleh apa. Ia menggenggam tangan Reishi yang terjulur ke arahnya. Dingin. Mikoto membakar aura merahnya untuk menghilangkan sensasi dingin tersebut, namun nihil.

Reishi semakin dingin, semakin pucat.

"Su...oh.... Maaf... aku tidak bisa membunuhmu."

"Apa maumu, Munakata?"

"Aku... tidak sekuat itu... Suoh." Reishi mengatur napasnya. Ia menekan bagian tubuhnya yang mengeluarkan darah. "Scepter 4 akan baik-baik saja tanpaku. Tapi HOMRA akan gila tanpamu. Dan aku...."

"Kau apa?"

"Aku... tidak...."

Aku tidak mau membunuhmu. Aku tidak bisa kehilanganmu.

"Dan kau pikir, yang kau lakukan ini tidak akan memberikan efek apapun padaku?"

Reishi mengerjap sesaat, lalu tersenyum tipis. Napasnya makin berat, matanya semakin mengantuk.

"Maaf.... Mikoto. Sampai... jumpa."

No comments:

Post a Comment