Disclaimer : K © GoRa & GoHands
made for mikoreiweek in tumblr. Day 1 : rivalry
.
.
.
Dahinya berkerut. Jari tangan
kirinya mengetuk-ngetuk meja tidak sabaran. Di hadapannya, terhampar
potongan-potongan puzzle yang
berantakan dan separuh jadi. Tangan yang satunya memegang sekeping potongan puzzle dan memutar-mutar benda itu.
Kalau ada satu hal yang bisa
membuat Munakata Reishi mengerutkan dahi hanya
untuk berpikir, maka jigsaw puzzle
adalah jawabannya.
Sudah setengah jam ia berusaha
menyelesaikan permainan ini—sesuatu yang biasanya dapat ia selesaikan dalam
lima belas menit saja—namun tidak berhasil. Ia hanya bisa menyelesaikan
sebagian kecil sudut bawah dan sedikit sisi atas. Padahal ini adalah puzzle 1000 kepingnya yang biasa. Apa
karena ini versi terbaru dari yang sebelumnya ia mainkan, ia tidak paham.
Rasanya tidak ada yang berubah kecuali warna dan gambarnya—Munakata melirik
sedikit contoh gambar di kotak mainan tersebut.
Apa yang salah dengan benda ini
sampai ia tidak bisa memainkannya seperti biasa?
“Kapten.”
Suara monoton yang tiba-tiba
muncul membuatnya kembali ke dunia nyata. Ia mendongak dan melihat sang vanguard dari SCEPTER 4 sedang berdiri
di depan mejanya dengan wajah malas yang biasa. Keberadaannya yang mengagetkan
Munakata meyakinkan sang kapten bahwa anak buahnya ini—lagi-lagi—mengizinkan
dirinya sendiri masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Oh. Fushimi-kun. Aku tidak mendengar kau masuk ke dalam ruangan.”
Saruhiko mendengus. “Tadi aku
mengetuk pintu tapi sepertinya kau terlalu sibuk dengan apapun yang sedang kau
kerjakan jadi aku masuk saja.”
Munakata tersenyum tipis. Ia
sangat menyukai saat-saat dimana anak buah kesayangannya yang satu ini merasa
terganggu. “Ah. Begitu kah?”
“Tch.”
Ini dia! Kalau Munakata bisa bertindak di luar karakter, maka ia
akan menunjuk wajah Saruhiko dan mengatakan hal tersebut. Karena ada wibawa
yang dipertaruhkan dari jabatannya, Munakata hanya mendengus geli dan berdeham.
“Ada yang bisa kubantu, Fushimi-kun?”
“Aku hanya mau mengantar laporan
mengenai kegiatan HOMRA minggu kemarin,” ujar Saruhiko datar.
“Baiklah. Simpan saja di tumpukan
map itu,” Munakata menunjuk satu sudut di mejanya, “nanti kulihat. Terima
kasih, Fushimi-kun.”
Saruhiko buru-buru menyampaikan
tugasnya dan angkat kaki dari ruangan itu. Lebih lama lagi ia mendengar ocehan
Munakata, bisa-bisa ia terjebak di obrolan satu sisi tanpa akhir dari Munakata.
Dalam perjalanannya menuju ruang kerjanya, ia melihat Letnan Awashima berjalan
menuju ruangan Munakata dengan membawa nampan makanan berisi nasi kepal dan semangkuk pasta kacang merah.
“Ah, Fushimi-kun. Kau baru dari
ruangan Kapten?”
Saruhiko tidak bisa mengalihkan
pandangannya dari semangkuk pasta kacang
merah yang berada di atas nampan. Perutnya serasa melilit dan siap
memuntahkan segala isinya saat itu juga.
“Fushimi-kun?”
“Permisi.”
Seri menaikkan alisnya ketika
Saruhiko melangkah lebar-lebar dan berbelok ke kamar mandi tanpa membalas
sapaannya. Memutuskan bahwa Saruhiko memang seorang pemuda dengan masalah
tatakrama yang sudah tidak bisa diperbaiki lagi, ia meneruskan perjalanannya
menuju ruangan Munakata.
.
.
.
“Kau ingin tahu hubunganku dengan
Suoh Mikoto???”
Munakata hampir saja tersedak
nasi ketika Seri—tidak ada angin tidak ada hujan—memutuskan untuk mengeluarkan
isi pikirannya.
“Ya, Kapten. Maaf jika saya
lancang. Rumor mengenai dirimu dan Raja Merah sudah terlalu banyak beredar.
Mulai dari cerita tentang kalian adalah teman satu SMA, tetangga sejak kecil,
atau rekan minum setiap malam di bar milik Kusanagi, dan lainnya yang bahkan di
luar logika. Saya ingin mengetahui yang sebenarnya, dan kemudian memperbaiki
rumor yang ada.” Seri menjelaskan panjang lebar. Munakata mengerjap sebentar
sebelum menghela napas dan bersandar di kursinya.
“Sebenarnya, Awashima-kun, semua
rumor itu benar adanya. Aku dan Suoh Mikoto adalah tetangga sejak kecil, teman
SMA, dan rekan minum di bar HOMRA. Kau tidak perlu memperbaiki apapun lagi.”
Seri terdiam, berusaha mencerna
informasi yang baru saja ia dapat. “Kalau, kau dan Raja Merah memang teman
sejak kecil, kenapa hubungan kalian jadi seperti ini?”
“Selain karena kami sama-sama
Raja?”
Seri mengangguk.
“Hmm…. Ceritanya panjang,
Awashima-kun.”
.
.
.
Munakata kecil adalah replika
dirinya yang sudah dewasa dalam bentuk lebih bantat dan polos. Sejak dulu, ia
selalu membela teman-temannya yang dijahili oleh sekelompok anak-anak penguasa.
Selalu jadi pahlawan di lingkungan kecilnya. Di taman kanak-kanak, ia adalah
ketua kelas yang dapat diandalkan oleh semua guru. Di sekolah dasar, ia adalah
ketua OSIS yang dihormati oleh semuanya. Begitu pula di jenjang pendidikan
selanjutnya. Sebut saja nama jabatan-jabatan penting yang ada, maka nama
Munakata Reishi akan tercetak sebagai salah satu yang pernah memilikinya.
Munakata Reishi begitu menyukai
keteraturan, ketenangan dan keadaan yang seimbang, sampai sedikit keganjilan
pun membuat tangannya gatal.
Dan keganjilan yang terus
mengganggunya, adalah Suoh Mikoto.
Suoh Mikoto adalah salah satu
bocah kecil yang tinggal di daerah rumahnya. Ketika Munakata kecil sedang hobi-hobinya
menjelajah, ia menemukan anak kecil seumurannya sedang mengayuh sepedanya di
pinggir sungai, dengan tiga ekor anjing besar mengejarnya. Anehnya, bocah
berambut merah menyala itu tetap mengayuh sepedanya dengan santai seolah-olah
tidak sedang dikejar oleh apapun, dan ketika pada akhirnya ketiga anjing
tersebut berhasil menghadang jalannya, yang ia lakukan adalah turun dari sepeda
dan menghela napas panjang.
“Menyusahkan saja.”
Lalu, menit selanjutnya, Munakata
melihat ketiga ekor anjing tersebut sedang merintih tidak jelas di tanah,
dengan si bocah berambut merah kembali melanjutkan perjalanannya sambil
bersiul-siul sumbang.
Kali berikutnya mereka bertemu
adalah di sekolah dasar. Ia kemudian mengetahui nama bocah tersebut adalah Suoh
Mikoto. Rasa penasaran tidak membuatnya mencari lebih lanjut mengenai si rambut
merah. Ia hanya mengamati saja ketika Mikoto lewat di hadapannya, atau ketika
ia dihukum karena terlambat dan tertidur di kelas, atau ketika ia memergokinya
tidur di bawah pohon, atau ketika nama mereka yang berdekatan—Munakata dan
Mikoto—membuat keduanya berada dalam satu lomba lari jarak pendek yang sama.
Karena terlalu banyak mengamati,
Munakata jadi tidak fokus dan kalah dalam pertandingan pertama mereka. Setelah
itu, mereka tidak pernah berhubungan lagi. Kelas yang berbeda, lingkungan yang
berbeda, dan pilihan SMP yang berbeda membuat keduanya terpisah begitu saja.
Interaksi mereka yang selanjutnya
adalah ketika keduanya berada di SMA. Munakata adalah wakil dari murid baru
yang diharuskan memberikan sambutan pada saat penerimaan siswa, ketika ia
melihat ada warna merah yang mencuat di antara semua kepala.
Kehidupan SMA-nya setelah itu
tidak lagi sama.
Munakata Reishi adalah ketua OSIS
sekaligus anggota komite kedisiplinan, kapten klub kendo, dan seorang ketua
kelas. Entah apa dosanya, Mikoto selalu membuat ulah dan dialah yang ketiban
sial untuk membereskan segalanya. Ia juga yang diberi tugas oleh guru-guru dan
ketua komite disiplin untuk mengingatkan Mikoto agar memakai seragamnya dengan
benar dan mengurangi waktu tidurnya di kelas. Ia juga yang harus melerai anggota
klub ketika tanpa sengaja Mikoto mengalahkan mereka semua di pertandingan kendo
antar kelas.
Dan Munakata juga yang harus
mengejar-ngejar Mikoto ke atap, di kantin, atau di taman sekolah hanya untuk
menyeretnya masuk kelas—karena ia adalah ketua kelas dan satu kelas dengan si
rambut merah sialan.
“Tidak bisakah kau melakukan
sesuatu dengan benar, sekali saja?”
Satu hari di musim semi tahun
kedua, Munakata hampir meledak ketika menemukan dirinya terjebak lagi dengan
Mikoto di kelas yang sama. Setelah menyeret kakinya ke atap sekolah hanya untuk
menemukan si rambut singa sedang makan roti melon dan minum susu strawberry dengan tenangnya sambil
melihat langit biru, ia tidak tahan lagi.
Sementara Mikoto hanya menatapnya
bingung. “Hah?”
“Mikoto Suoh! Bisakah kau masuk
kelas dengan benar, memakai seragam dengan benar, dan melakukan semuanya sesuai
aturan? Sekali saja?” Munakata terdengar payah tapi ia tidak lagi peduli.
Namun, Mikoto lebih tidak peduli.
Lebih tepatnya, ia tidak mau pusing.
“Untuk?”
Detik ini, Munakata sudah habis
akal dan ia berteriak kesal sebelum menerjang Mikoto dan memaksanya memakai
seragam dengan benar sementara si rambut merah melawan.
.
.
.
“…Maaf kalau aku memotong
ceritamu, Kapten. Tapi, kau benar-benar melakukan hal itu?”
Munakata mengerjap sebentar, lalu
menyesap teh hijau yang sudah tersedia di mejanya. “Tidak, tentu saja. Itu
hanya sekedar bumbu dalam cerita. Jadi, kau mau dengar lanjutannya?”
.
.
.
“Apa kau tidak bosan menggangguku
begini, Munakata?”
Nada suara Mikoto yang monoton
membuat sang ketua OSIS ingin menjambak rambut merah tersebut, lalu
membenturkan kepala di tangannya ke dinding terdekat.
“Justru kau yang menggangguku,
Suoh. Kau pikir bagaimana kehidupanku tiga tahun terakhir ini?”
“Membosankan,” jawab Mikoto
sambil menguap.
“Yang membosankan itu hidupmu.”
“Hm.”
“Kau dengar aku atau tidak?!”
“Ya. Jadi, apa maumu?”
Munakata menghela napas. Hari
sudah sore, langit sudah berwarna oranye, hampir semua siswa sudah pulang, dan
ia terjebak di ruang OSIS dengan Mikoto karena pemuda tanggung tersebut
memutuskan untuk merusak keran air di kamar mandi dan membakar satu wajan di
kelas tataboga.
“Aku mau, kau tidak lagi merusak
keran di kamar mandi dan membakar apapun lagi di kelas tataboga. Malah, sebaiknya
kau tidak usah ikut kelas tataboga atau kelas apapun yang melibatkan
benda-benda berbahaya.”
“Bukan salahku kerannya macet,
dan bukan salahku wajannya tidak tahan api.”
“Dan bukan salahku juga kalau kau
dapat hukuman untuk membersihkan taman satu minggu. Perintah langsung dari
kepala sekolah. Catatan tambahannya, jangan
merusak tanaman.”
Mikoto terdiam sebelum tersenyum
tipis. “Kalau itu maumu.”
“Itu bukan mauku, Suoh. Itu mau
kepala sekolah.”
Suoh mengangkat bahu dan berbalik
keluar ruangan. Ia menyempatkan diri untuk berhenti di depan pintu sebentar
sebelum benar-benar pergi dari sana.
“Kusarankan sebaiknya kau membawa
sarung tangan dan sekop mulai besok, Munakata.”
Dan yang selanjutnya terjadi
sudah dapat dibayangkan. Dengan ajaibnya,
semua tanaman yang sudah susah payah ditanam kepala sekolah jadi rusak dan
berantakan dan…. Intinya, Munakata-lah yang harus membereskan semuanya.
.
.
.
Seri mengurut dahinya. “Jadi,
hubungan kalian berdua sudah seperti ini sejak, dulu?”
Munakata kembali meneguk teh
hijaunya. “Ya, kurang lebih. Hanya saja, dulu kami bukan Raja dan tidak
memiliki kekuatan ini, ataupun Pedang Damoscles. Jadi, pertengkaran kami hanya
berakhir di beberapa kursi patah dan banyak jendela pecah, atau di beberapa
lebam di wajah dan sedikit omelan guru.”
“… begitu?”
“Ya. Ada lagi yang mau kau
tanyakan, Awashima-kun?”
Seri menggeleng. “Semuanya sudah
jelas untukku, Kapten. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Terima kasih sudah
meluangkan waktu untuk bercerita padaku. Saya permisi dulu.” Seri menunduk
singkat sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja Munakata.
Setelah ia keluar, terdengar dengusan geli dari balik pintu kertas yang
membatasi ruang kerja Munakata dengan ruangan tatami. Pintu kertas tersebut
dibuka, dan seorang berambut merah dengan wajah mengantuk sedang duduk dengan
ekspresi wajah yang sulit ditebak.
“Kau tidak cerita waktu aku jadi
raja dan kau marah-marah tidak jelas di atap sekolah.”
“Aku juga tidak cerita kalau kau
adalah seniorku dan kau sempat mengulang satu tahun karena terlalu banyak tidur
di atap sekolah. Atau ketika kau diare karena kebanyakan makan roti melon.”
“Hng.” Mikoto mendengus dan
merebahkan dirinya lagi di atas tatami. “Cepat selesaikan pekerjaanmu. Aku
lapar.”
“Kalau lapar, makan saja
sendiri.”
“Tidak mau. Hari ini kau janji
mau masak kare dan mentraktirku parfait.”
“Kalau anggota HOMRA tahu kau
suka strawberry, apa reaksi mereka?”
“Bukan urusanku. Cepat
selesaikan. Aku lapar.”
“Baiklah, Raja Manja. Asal kau
tutup mulut dan biarkan aku berkonsentrasi.”
.
.
.
Satu jam kemudian, Munakata
diseret paksa dari mejanya ketika sedang memasang keping puzzle yang terakhir.
.
.
.
End
No comments:
Post a Comment