Friday, 27 June 2014

Bet

Disclaimer :

K (c) GoRa & GoHands

made for mikoreiweek day 2 : motifs.

.

.

.

Hari Senin minggu kedua setiap bulannya, ketika semua anggota HOMRA sudah kembali ke rumah masing-masing, adalah saat dimana Izumo Kusanagi mengeluarkan coffee maker yang tersimpan apik di dalam lemari. Dengan hati-hati ia menyimpan mesin tersebut di atas counter bar-nya yang mengkilat. Salah satu alasan mengapa benda ini hanya dikeluarkan sebulan sekali, adalah karena Senin minggu kedua adalah hari di mana Totsuka Tatara menginap di lantai dua bar miliknya, dan pemuda yang selalu tersenyum itu memiliki kesenangan yang aneh dengan kopi susu. Setelah mengelap mesin kopinya, ia mengambil setoples penuh biji kopi yang siap diproses. Baru saja ia memasukkan satu sendok besar ke dalam toples, lonceng pintu bar berdenting pelan.

Kusanagi menoleh ke puntu masuk dan mengharapkan menemukan Totsuka Tatara sedang tersenyum ceria sambil berseru, “Halo Izumo-san! Hari ini aku menginap lagi!”

Namun, yang sedang berdiri di sana bukanlah pemuda bersurai coklat madu, melainkan seseorang dengan rambut biru pekat. Dengan wajah datar, Munakata Reishi masuk ke dalam bar sambil menepuk-nepuk pundaknya yang penuh salju.

Kusanangi mengerutkan dahinya. Jarang-jarang sang Raja Biru mau bertandang ke markas musuh besarnya seperti ini. Ralat. Sejak kapan Munakata Reishi memilih HOMRA sebagai tempatnya melepas penat sebelum pulang ke rumah?

“Halo, Munakata-san. Ada angin apa sampai Raja Biru datang ke tempat ini? Tidak ada salah satu anggota klan kami yang sedang adu jotos sampai menghancurkan separo kota, ‘kan?” tanya Izumo was-was.

“Sejauh yang kudengar, tidak ada. Lagi pula, ini sudah pukul dua belas.Aku yakin semua anggota klan merah sudah kembali ke rumahnya masing-masing, kecuali kau dan strain kecil itu,” jawab Reishi sambil berjalan ke counter. Ia lalu duduk di salah satu kursi, dan menatap gelas-gelas transparan berbagai bentuk serta berbagai macam botol minuman beralkohol. “Koleksi minumanmu lengkap juga, padahal menjadi bartender bukan pekerjaan utamamu, ‘kan?”

Izumo terkekeh geli, kemudian kembali pada pekerjaannya membersihkan coffee maker. “Menjadi bartender ini seperti hobi, Munakata-san. Dan aku tidak mau menjadikan hobiku sebagai pekerjaan utamaku.”

“Begitu?”

“Uh-huh. Jadi, ada apa kau datang kemari, Munakata-san?”

“Aku datang karena kalah taruhan.”

Kali ini, Izumo benar-benar menghentikan pekerjaannya dan mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Reishi. “Maksudmu?”

Reishi menghela napas. “Suatu hari ia datang ke ruanganku di markas SCEPTER 4 untuk alasan yang aku tidak tahu apa dan menghabiskan satu bungkus rokok, memenuhi mejaku dengan abunya, dan membuat laporan-laporan yang harus kubaca kotor. Hampir saja Awashima-kun menebas kepalanya. Kemudian kukatakan—

“—kalau aku berhasil tidak merokok seminggu maka ia akan datang ke HOMRA dan minum denganku.”

Suara serak dan berat yang meneruskan kalimat Reishi berasal dari pintu. Ia dan Izumo menoleh, menemukan pemuda bersurai merah berantakan sedang berdiri dengan seorang pemuda berwajah manis tiba-tiba muncul dari balik punggungnya.

“Yo, Kusanagi-san! Aku bertemu Raja di jalan. Kuajak saja dia ke sini sekalian!” tukasnya. Ia lalu masuk, melewati Suoh Mikoto yang masih berdiri di depan pintu, dan menghampiri Munakata. “Selamat malam, Raja Biru! Kenalkan, namaku Totsuka Tatara!”

“Halo, Tatara-kun. HOMRA memang dipenuhi orang-orang yang menarik, ya?” Seulas senyum menghiasi wajah Reishi. Totsuka membalasnya dengan senyum yang lebar dan polos, seperti biasa.

“Baiklah, aku mau membereskan futon di kamar atas. Kusanagi-san, aku mau kopi susu!” ujarnya lagi, kali ini pada sang pemilik bar. Izumo hanya menghela napas sebelum memberikan gestur tangan supaya Totsuka menyegerakan apapun yang hendak ia lakukan.

“Baiklah, aku tidak tahu apa masalah kalian berdua, tapi kumohon jangan sedikitpun kalian menghancurkan atau membuat keributan di sini. Oke?” Izumo menekankan kalimatnya, sebelum dengan cepat membuat dua kopi susu panas dan pergi ke lantai dua.

Meninggalkan Munakata Reishi dengan Suoh Mikoto berdua saja.

Munakata menghela napas. “Aku tidak mengerti, kenapa aku mau saja terlibat taruhan bodohmu.”

Satu dengus mengejek, dan beberapa detik setelahnya Mikoto sudah duduk di samping Reishi. “Kalau itu berarti kau datang ke HOMRA, bertaruh berapa kali lagi pun pasti kulakukan.”

Reishi menatap Mikoto dengan ekspresi yang sulit dibaca. Manik ungunya menatap lekat wajah di hadapannya. Sesekali, manik amber Mikoto melirik Munakata sampai akhirnya ia tertawa kecil dan memalingkan wajahnya.

“Kau yakin menang, Suoh?”

“Oh, aku selalu menang, Munakata.”


No comments:

Post a Comment