Disclaimer :
K (c) GoRa & GoHands
made for mikoreiweek day 2 : motifs.
.
.
.
Hari Senin minggu kedua setiap
bulannya, ketika semua anggota HOMRA sudah kembali ke rumah masing-masing,
adalah saat dimana Izumo Kusanagi mengeluarkan coffee maker yang tersimpan apik di dalam lemari. Dengan hati-hati
ia menyimpan mesin tersebut di atas counter
bar-nya yang mengkilat. Salah satu alasan mengapa benda ini hanya dikeluarkan
sebulan sekali, adalah karena Senin minggu kedua adalah hari di mana Totsuka
Tatara menginap di lantai dua bar miliknya, dan pemuda yang selalu tersenyum
itu memiliki kesenangan yang aneh dengan kopi susu. Setelah mengelap mesin
kopinya, ia mengambil setoples penuh biji kopi yang siap diproses. Baru saja ia
memasukkan satu sendok besar ke dalam toples, lonceng pintu bar berdenting
pelan.
Kusanagi menoleh ke puntu masuk
dan mengharapkan menemukan Totsuka Tatara sedang tersenyum ceria sambil
berseru, “Halo Izumo-san! Hari ini
aku menginap lagi!”
Namun, yang sedang berdiri di
sana bukanlah pemuda bersurai coklat madu, melainkan seseorang dengan rambut
biru pekat. Dengan wajah datar, Munakata Reishi masuk ke dalam bar sambil
menepuk-nepuk pundaknya yang penuh salju.
Kusanangi mengerutkan dahinya. Jarang-jarang
sang Raja Biru mau bertandang ke markas musuh besarnya seperti ini. Ralat. Sejak kapan Munakata Reishi memilih
HOMRA sebagai tempatnya melepas penat sebelum pulang ke rumah?
“Halo, Munakata-san. Ada angin
apa sampai Raja Biru datang ke tempat ini? Tidak ada salah satu anggota klan
kami yang sedang adu jotos sampai menghancurkan separo kota, ‘kan?” tanya Izumo
was-was.
“Sejauh yang kudengar, tidak ada.
Lagi pula, ini sudah pukul dua belas.Aku yakin semua anggota klan merah sudah
kembali ke rumahnya masing-masing, kecuali kau dan strain kecil itu,” jawab Reishi sambil berjalan ke counter. Ia lalu duduk di salah satu
kursi, dan menatap gelas-gelas transparan berbagai bentuk serta berbagai macam
botol minuman beralkohol. “Koleksi minumanmu lengkap juga, padahal menjadi
bartender bukan pekerjaan utamamu, ‘kan?”
Izumo terkekeh geli, kemudian
kembali pada pekerjaannya membersihkan coffee
maker. “Menjadi bartender ini seperti hobi, Munakata-san. Dan aku tidak mau menjadikan hobiku sebagai pekerjaan utamaku.”
“Begitu?”
“Uh-huh. Jadi, ada apa kau datang
kemari, Munakata-san?”
“Aku datang karena kalah taruhan.”
Kali ini, Izumo benar-benar
menghentikan pekerjaannya dan mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Reishi. “Maksudmu?”
Reishi menghela napas. “Suatu
hari ia datang ke ruanganku di markas SCEPTER 4 untuk alasan yang aku tidak
tahu apa dan menghabiskan satu bungkus rokok, memenuhi mejaku dengan abunya,
dan membuat laporan-laporan yang harus kubaca kotor. Hampir saja Awashima-kun menebas kepalanya. Kemudian
kukatakan—
“—kalau aku berhasil tidak
merokok seminggu maka ia akan datang ke HOMRA dan minum denganku.”
Suara serak dan berat yang
meneruskan kalimat Reishi berasal dari pintu. Ia dan Izumo menoleh, menemukan pemuda
bersurai merah berantakan sedang berdiri dengan seorang pemuda berwajah manis
tiba-tiba muncul dari balik punggungnya.
“Yo, Kusanagi-san! Aku bertemu Raja di jalan. Kuajak saja
dia ke sini sekalian!” tukasnya. Ia lalu masuk, melewati Suoh Mikoto yang masih
berdiri di depan pintu, dan menghampiri Munakata. “Selamat malam, Raja Biru! Kenalkan,
namaku Totsuka Tatara!”
“Halo, Tatara-kun. HOMRA memang dipenuhi orang-orang
yang menarik, ya?” Seulas senyum menghiasi wajah Reishi. Totsuka membalasnya dengan
senyum yang lebar dan polos, seperti biasa.
“Baiklah, aku mau membereskan
futon di kamar atas. Kusanagi-san,
aku mau kopi susu!” ujarnya lagi, kali ini pada sang pemilik bar. Izumo hanya
menghela napas sebelum memberikan gestur tangan supaya Totsuka menyegerakan
apapun yang hendak ia lakukan.
“Baiklah, aku tidak tahu apa
masalah kalian berdua, tapi kumohon jangan
sedikitpun kalian menghancurkan atau membuat keributan di sini. Oke?” Izumo
menekankan kalimatnya, sebelum dengan cepat membuat dua kopi susu panas dan
pergi ke lantai dua.
Meninggalkan Munakata Reishi
dengan Suoh Mikoto berdua saja.
Munakata menghela napas. “Aku
tidak mengerti, kenapa aku mau saja terlibat taruhan bodohmu.”
Satu dengus mengejek, dan
beberapa detik setelahnya Mikoto sudah duduk di samping Reishi. “Kalau itu
berarti kau datang ke HOMRA, bertaruh berapa kali lagi pun pasti kulakukan.”
Reishi menatap Mikoto dengan
ekspresi yang sulit dibaca. Manik ungunya menatap lekat wajah di hadapannya. Sesekali,
manik amber Mikoto melirik Munakata
sampai akhirnya ia tertawa kecil dan memalingkan wajahnya.
“Kau yakin menang, Suoh?”
“Oh, aku selalu menang, Munakata.”
No comments:
Post a Comment