Andreas & Shinji (c) Pratiwi Fitriani
.
.
.
.
.
.
Matahari mulai naik dari timur. Lidah apinya memancarkan gelombang cahaya, mewarnai langit dalam semburat kekuningannya yang megah. Fajar menyingsing, memancing jam tubuh untuk berdetak lagi setelah istirahat semalaman. Namun bagi Andreas, tubuhnya tidak bekerja dalam standar hitungan manusia. Jam tidurnya menghilang sempurna dalam larutan kesibukannya sebagai entitas reinkarnasi dewa. Pagi adalah malam, sore adalah siang, begitu seterusnya.
Andreas bekerja seperti orang gila, tidak kenal waktu dan tempat. Selesai dengan satu kasus, beralih ke kasus lainnya, begitu selanjutnya. Terus, sampai ia menemukan rekan yang sepadan dengan jam kerjanya yang gila-gilaan. Shinji.
Namun, segila apapun Shinji, sesinting apapun stamina pria itu, sebrilian apapun otaknya, pemuda itu tetap seorang manusia. Mortal. Kebalikan dengan dirinya. Bekerja dengan Shinji membuat ia kembali ingat bahwa meskipun ia tidak bisa mati dan bertambah tua, dia pernah jadi manusia, dan ia hidup di antaranya.
Dan itulah alasan dirinya bermalas-malasan di apartemen minimalisnya, dengan segelas kopi dan sepiring mozarella goreng. Matanya bergerak-gerak, memindai cepat lembaran kertas yang sedang dipegangnya. Semenjak menjadi rekan Shinji, ia jadi sering menghabiskan banyak waktu untuk beristirahat--menyesuaikan dengan kebutuhan tetangga sebelahnya. Tergantung seberapa berat kasus yang mereka selesaikan, Andreas akan memberikan hari libur bagi Shinji, membiarkan pemuda itu menikmati hidupnya.
Begitulah, mengapa ia bisa tergeletak bosan di atas sofa, dengan anjing Siberian Husky-nya ikut-ikutan malas-malasan di dekat jendela.
"Apa sebaiknya aku jalan-jalan, ya?"
"Woof."
"Atau mengganggu Shinji? Menurutmu yang mana, Nara?"
"Woof. Woof."
.
.
.
.
.
Dugh! Dugh!
"Shinji! Cepat keluar! Ayo kita kerja lagi! Shinji!"
Dugh! Dugh!
Shinji mengerang, kesal dan mengantuk. Tanpa ada niatan sedikitpun untuk menggubris orang bodoh di luar, ia kembali bersiap masuk ke alam mimpinya.
Cklik.
Shinji menggeram. Bunyi derap langkah yang menghentak-hentak menandakan tetangganya yang gila kerja itu sudah memasuki tempat sucinya, melanggar privasinya dengan meminjam kunci pada pemilik apartemen. Langkah ringan yang mengikuti menandakan bahwa peliharaan si bodoh yang sama bodohnya itu ikut masuk ke dalam ruangan. Sudah berapa kali Shinji bilang untuk tidak memasukkan anjing ke dalam apartemennya?
Tanpa basa-basi, Andreas membuka pintu kamar tidur Shinji. "Oy! Shinji! Bangun! Ayo kita kerj--
"...."
Andreas mengedip beberapa kali, meragukan matanya sendiri. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan keadaan kamar ini. Masih kosong dan monoton, dengan beberapa foto di atas meja, ponsel, jam tangan, dan lainnya. Pakaian Shinji juga berhamburan seadanya di lantai. Pemuda itu memang punya hobi tidur hanya dengan pakaian dalam saja. Kebiasaan Shinji setiap dia mendobrak masuk ke dalam kamarnya pun sama. Shinji mendudukkan dirinya, mengurut dahi, menatapnya kesal. Yang berbeda adalah, ada untai-untai keperakan yang menyembul dari balik selimut, di sisi tempat tidur Shinji yang seharusnya kosong. Sisi yang biasanya dingin dan sepi itu kini menggunduk dan bergerak-gerak, begitu juga surai perak yang menyembul dari balik selimut.
"Shin?"
Telinga Andreas menangkap frekuensi suara yang lirih, tipis, serak, dan rendah. Tidak serendah suaranya atau Shinji, tapi jelas lebih rendah daripada suara Leyka.
"Tidur saja," Shinji menjawab pertanyaan penghuni tempat tidurnya sambil beranjak dari kasur, setelah sebelumnya mengacak rambut peraknya. Pada saat yang sama, makhluk misterius itu menyibak selimutnya dan mendudukkan dirinya. Matanya tidak fokus ketika mengikuti sosok Shinji yang bergerak menuju kamar mandi. Tatapannya lalu beralih pada Andreas, yang mematung dan membatu di pintu kamar.
"Halo, kau pasti Andreas. Namaku Freyr. Salam kenal."
.
.
.
.
"Woof!"
sumpah urang udah ngga paham lagi WOOOOIIIII NGGA PAHAAAAAMMMM...!!! #gulinggulinggila
ReplyDeletehaaaa terus kapaaaaan ini urang bisa mengeluarkan ide di kepala urang kalau dalam 24 jam ke depan urang masih harus nemenin nihonjin-tachi njiiiisssss...!!!