Tuesday, 19 February 2013

Siblings

Ciel membanting tasnya ke kasur, menimbulkan bunyi debam keras. Otaknya mendidih. Panas, menggelegak, tidak bisa berpikir jernih. Bukan karena dosennya tercinta baru saja melakukan tes kecil-kecilan yang susah minta ampun, atau karena objek cintanya membatalkan janji nonton demi mengurus sang pacar. Bukan.

Ia kesal, setengah mati, pada pernyataan teman-temannya di jurusan lain, yang menghakimi, semena-mena, dan nggak pake otak.

.
.
.

BRAK!

Luca terpaksa mengerenyit sembari menyipitkan mata ketika Ciel pulang. Ia masuk ke rumah dengan muka ditekuk, menabrak-nabrak meja makan, lalu membanting pintu kamarnya. Luca lalu menghela napas.

"Apa lagi 'sih, cowok paling rempong sedunia itu?"

.
.
.

"Gue ga rempong, Luke. Nggak rempong!" sembur Ciel.

Luca memutar mata lalu membenamkan wajahnya ke bantal coklat berbulu dengan motif tokoh kartun milik Ciel. "Iya, lo nggak rempong, tapi super duper amat sangat rem--

Duk!

"EH LO GA USAH JITAK-JITAK GUE, NYET!"

"GUE UDAH BILANG GUE GA REMPONG! MAU LO APA SI--

Bantal coklat melayang tepat menghantam wajah Ciel, memancing meteran emosinya yang sudah maksimum sejak kejadian tadi siang untuk semakin-semakin-semakin-semakin naik.

"ANJIR LUKE LO NGAJAK BERANTEM?!"

"SINI COWOK REMPONG! MAJU LO!"

.
.
.

"...Ga?"

"Hem?" Rangga menjawab sekenanya sembari membolak-balik majalah. Di sampingnya, Arya beringsut-ingsut tidak jelas.

"Itu, Ciel sama Luca apa dibiarin aja?"

Rangga menoleh ke arah datangnya keributan, kamar Ciel, lalu kembali ke majalahnya. "Biarin aja. Ntar juga adem sendiri."

Arya memainkan mulutnya, kebiasaan ketika ia tidak yakin dengan keadaannya. Rangga mendengus lalu menepuk-nepuk kepala adik keduanya itu.

"Santai, Ar. Mereka bukan lagi bocah yang mesti kita perhatiin tiap detik."

Arya mengangguk-angguk. "Oke deh. Gue udah lama aja nggak pernah denger mereka ribut besar begitu."

Rangga mendengus geli. "Bagus, dong? Makin ribut makin akrab," ujarnya, lalu tertawa-tawa, memancing gerutu tidak setuju dari Arya.

"Santai banget sih lo?"

"Kalo nggak begini, gue udah gila dari entah kapan. Susah tau, ngurus adek-adek yang range kelakuannya labil kayak lo semua. Hari ini imbisil, besok bego, lusa blunder parah ngapa-ngapain salah, besoknya lagi malah jadi ekstra jenius dan dapat diandalkan dalam keadaan apapun, tapi besoknya lagi malah memberontak cari-cari perhatian. Hebat aja lo semua sekarang pada sukses. Hebat guenya sih, bener ngedidiknya."

"Dih, mau lo aja."

Rangga angkat bahu. "Itu kenyataan, adekku sayang. Terimalah."

"Terserah. Gue mau ngelerai mereka deh," balas Arya, yang tidak bisa tahan dengan sikap narsis sang kakak sulung, sembari berdiri dan berjalan menuju kamar Ciel. Kini, teriakan-teriakan mereka sudah diselingi dengan benda-benda keras yang saling bertubrukan.

.
.
.

"NGGAK USAH BAWA-BAWA SUSAH MOVE ON!"

Boneka siberian husky pemberian Luca melayang cepat dan menabrak dinding.

"APA? MAU GUE UNGKIT URUSAN TADI LEYKA MILIH PACARAN DARIPADA NEMENIN LO NONTON?!"

Guling melayang menghantam wajah Ciel.

"EH BEKE! GA USAH NGELEMPAR KE MUKA GUE BISA?!"

Selimut kusut yang sudah berapa kali dilempar melayang melintasi ruangan, mendarat di atas kepala Luca, menghalangi pandangannya. Kesempatan ini tidak disia-siakan Ciel. Ia langsung merangsek, menerjang Luca sampai gadis yang sedang berlutut di atas kasur Ciel itu terjatuh dan berbaring dengan Ciel menindihnya. Luca bermaksud menendang Ciel, namun kakaknya beda lima menit itu berhasil menangkak kakinya. Tanpa basa-basi, ia langsung mengelitiki telapak kaki Luca.

"Cil! Jangan! Ka! Ki! AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

"Nyerah ga lu? Heh? Nyerah ga?"

"Ka Rangga! Ka Arya! Tolong. Cil udaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah gue nyeraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!!!"

.
.
.

Arya menghempaskan dirinya ke sofa kulit hitam empuk di depan televisi, membuat badan Rangga bergoyang sedikit ketika busa kursi yang didudukinya melesak karena berat badan si adik. Ia melirik pada Arya dari sudut matanya. Pemuda berkacamata itu sedang memindah-mindahkan saluran televisi dengan wajah datar.

"Udah, ngelerainya?"

"Beres sendiri kok."

Rangga mendengus. "Gue bilang juga apa."

"Hem."

"...."

"...."

"...."

"...."

"...apa?"

"Ranggaaaaaa adik-adik gue udah pada besar semuaaaa gue sediiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiih."

"Aaaaaaah! Nggak ngelendot-lendot gitu ah! Panas ih! Jijik!" seru Rangga kesal, mencoba melepaskan diri dari pelukan Arya yang tiba-tiba.


No comments:

Post a Comment