"Leon, itu...siapa?" tunjuk Faux pada pemuda di sebelah kakak sulungnya. Leon menghela napas, Gancanagh mengeratkan pegangannya pada baju Faux. Leon lalu merangkul orang yang ditunjuk oleh Faux.
"Ini Zen. Pacarku. Kurang lebih."
"...."
"...."
"...."
"Oi, katakan sesua--
"AYAAAAAAAAAAAAAAH!!!"
"O--OI! FAUX! JANGAN PULANG DULU!"
"AYAAAAAAAAAAAAAAH!!! LEOOOOON!!! AYAAAAAAAAAAAAAH!!!"
"FAUX! BERHENTI! BERHENTI KATAKU!"
.
.
.
Debu-debu hasil kejar-kejaran kedua kakaknya itu pada akhirnya menghilang, menyisakan Gancanagh dalam keheningan tanpa ujung bersama pemuda-kekasih-hati-sang-kakak yang kini sedang berdiri di sebelahnya. Rambutnya ikal sebahu, tubuhnya sedikit lebih pendek dari Gancanagh. Ia menatap Gancanagh dan mengulurkan tangannya.
"Halo, kau pasti Gacchi? Namaku Zen."
Gancanagh ragu, kagok, awkward total. "Uh, ya." Kata-kata tanpa arti itu adalah yang berhasil ia ucapkan dalam keadaan canggung seperti itu. Ia menyambut uluran tangan Zen. Zen tersenyum lebar.
"Kau tahu? Leon selaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaalu cerita tentang kalian. Kurasa adik-adiknya adalah orang-orang yang menyenangkan, dan ternyata dugaanku benar! Faux persis seperti perkiraanku. Impulsif dan berisik, sementara kau cenderung diam namun sebenarnya otakmu itu sedang memproses segala macam. Yayaya, kalian memang benar-benar menarik," ujar Zen panjang lebar sambil mengangguk-angguk. Tangannya belum lepas dari tangan Gancanagh.
"Um, tanganku?"
"Lalu, kau harus tahu, kemarin Leon kalang kabut heboh tidak jelas gara-gara hari ini aku memaksa ingin datang ke rumah kalian. Kurasa, cara terbaik untuk bisa diterima adalah lewat adik-adiknya terlebih dahulu, bukan? Hehehe."
Gancanagh berusaha melepaskan pegangan tangannya, namun bahkan detektif muda itu tidak bisa melepaskan pegangan Zen dengan mudah, membuatnya bertanya-tanya tentang pekerjaan pemuda itu.
"Zen."
"Ya?" tanya Zen, yang kini sedang dalam proses menariknya keluar dari kerumunan.
"Pekerjaanmu apa?"
Zen mengerutkan dahinya sejenak. "Aku masih kuliah, sih. Kenapa?"
Gancanagh menggeleng. "Tidak. Tanya saja."
Zen mengedip sekali, lalu tersenyum sangat lebar. "Kalian memang saudara kandung. Kalau tidak pun, taruhan kalian berempat sangat dekat."
"Memangnya kenapa?"
"Karena, Leon pun suka tidak jadi bertanya dan mendadak diam aneh begitu kalau jawaban yang kuberikan tidak sesuai perkiraannya."
somplak woooooiiii urang baru pulang karokean sama nihonjin-tachi terus disuguhinnya kayak giniiii aaaaaaa mati ajaaaa gueeeeee~!!!
ReplyDelete