(c) Cassandra Clare
Faux (c) tasyatazzu
.
.
.
Prang!
Alec tidak bisa tidak melepaskan gelas yang sedang dipegangnya. Mata biru Shadowhunter muda itu membelalak. Pupilnya melebar, dahinya berkerut, mulutnya terbuka. Terkejut, sangat terkejut. Sementara itu Magnus, yang sedang duduk di kursi berlengan empuk warna kuning bunga matahari, tidak sengaja merosot dari tumpuan tangannya. Hampir satu milenia ia hidup, tidak pernah ia merasa sekaget ini.
"Apa katamu, barusan?" tanyanya hati-hati. Pupil kucingnya semakin mengecil ketika menilik entitas di hadapannya dari atas ke bawah. Rambut hitam. Mata kuning. Usia sekitar dua puluh tahun. Tidak ada yang mengganggu dari penampilan fisik gadis tersebut, kecuali fakta bahwa memang matanya terlalu kuning untuk ukuran manusia biasa dan poncho yang terlalu besar sampai menutupi setengah betis serta syal yang menutupi lehernya sampai sedikit menyentuh telinga, di musim panas ini. Tapi Magnus memutuskan untuk tidak peduli dengan detil kecil begitu. Bisa saja ia memakai lensa kontak. Bisa saja ia sedang diet ketat dan memutuskan menjadikan poncho dan syalnya sebagai pengganti sauna. Bisa jadi.
"Sudah kubilang, Magnus. Aku adikmu."
"Gila. Ibuku sudah mati entah berapa ratus tahun yang lalu dan tidak mungkin manusia bisa berusia lebih dari seratus ta--
"Siapa bilang aku manusia?"
"Apa?!"
.
.
.
Alec tidak pernah melihat warlock lain selain Magnus. Mungkin pernah, dulu, dalam tugasnya sebagai seorang Nephilim, namun ia tidak pernah melihat warlock dengan tanda seperti ini. Helai bulu hitam mendarat di lantai ketika gadis di hadapannya ini melebarkan sepasang sayap sekelam malam di punggungnya. Bulu-bulu itu terus menutupi tubuhnya sebagai tanda, memanjang ke leher dan meliputi kedua lengannya. Wajahnya terlihat bosan ketika Magnus membuka mulutnya dengan takjub, seperti sudah biasa melihat reaksi berlebihan dari sesamanya.
"Aku warlock. Ayahku adalah ayahmu. Itu berarti aku adikmu." Nada suaranya datar.
"Ayahku? Darimana kau tahu kalau ayah kita sama? Berapa umurmu? Siapa ibumu? Dimana kau lahir?" berondong Magnus setelah melompat dari kursinya dan mendekati sang 'adik' untuk kemudian mengamatinya dengan seksama, seolah ia adalah satu subjek eksprimen yang menarik.
"Umurku tiga ratus tahun. Ibuku seorang Jepang, sudah mati dibunuh oleh masyarakat begitu melahirkanku. Ayah angkatku yang mengurusku sampai akhirnya ia mati dibakar oleh rakyat di kota yang baru, yang mengira aku membawa malapetaka--yang memang benar, karena aku juga membakar habis kota itu. Lalu, mengenai kenapa aku tahu kalau ayah kita sama, karena aku bertemu dengannya dan dia bilang aku punya kakak bernama Magnus."
Magnus berhenti mengamati warlock muda di hadapannya. "Maksudmu bertemu?"
"Dia menjelma sebagai ayah angkatku, setelah aku membakar habis kota yang membunuhnya. Meski begitu mirip, aku langsung tahu kalau dia adalah ayah biologisku, dari senyumnya yang sinting dan keji. Ia tertawa terbahak-bahak sambil sesekali menendang mayat yang sudah berubah jadi arang, lalu berkata padaku tentang dirimu."
"Dia menyuruhmu mencariku?"
Gadis itu menggeleng. "Tidak. Aku kemari karena aku sedang tidak ada tujuan maupun pekerjaan. Daripada aku bosan, lebih baik kucari saja siapa kakakku. Karena ia memberitahu namamu secara spesifik, 'Magnus', dan kuasumsikan kau juga seorang warlock, aku mencari keberadaanmu lewat Konsil Warlock. Beruntung sekali, karena dari ribuan warlock di muka bumi ini, hanya ada satu yang bernama Magnus."
Magnus mengerjap. Tidak. Ia tidak percaya. Ia, di antara semua makhluk di dunia ini, punya seorang adik?
"Lalu, namamu siapa?" Alec angkat suara. Gadis itu menoleh pada Alec dan tersenyum tipis dan jahil--senyum yang entah kenapa sedikit mirip dengan Magnus.
"Nama asliku, Akari. Tapi, ayahmu, Magnus, memutuskan untuk mengganti namaku dengan Faux."
"Jadi, namamu adalah Faux Bane?"
"Tidak!"
"Tidak!"
Magnus menoleh kepada Faux.
"Aku tidak mau punya nama keluarga Bane. Bisa-bisa semua orang tahu aku adikmu dan reputasiku berantakan."
"Oho. Kau kira siapa aku, hah?"
"Kau? Magnus Bane. Warlock yang dilarang masuk ke Peru, Perancis, dan banyak negara di dunia ini karena terlalu vulgar, kasar, binal, dan--
"Oke! Cukup! Cukup!"
.
.
.
"Eh? Kau dilarang masuk ke negara? Memangnya kau melakukan apa?"
No comments:
Post a Comment