(c) Akai Higasa
.
.
.
"Oi. Siapa namamu?"
Pemuda berambut hitam itu mendongak. Siang ini, matahari habis-habisan melepas energinya ke muka bumi. Awan pun seolah enggan, menolak mentah-mentah, menghadapi polah matahari yang makin hari makin menjadi. Musim panas menggelayuti langit, menaikkan uap air, menambah kelembaban, membuat malas. Di sudut matanya, ia bisa melihat betapa cerahnya langit siang ini. Birunya memanjang terus sampai cakrawala. Yang kini terhampar di depan matanya bukan lagi warna biru yang tenang dan menghanyutkan.
Merah. Membara. Meletupkan ledakan kecil di dalam dadanya. Meracuni isi kepalanya.
Membesarkan angannya.
"Oi!" tuntut si rambut merah, seolah mengerti bahwa pikirannya sedang melayang entah ke mana.
"Namaku Ren. Hiren. Kau?"
"Hm? Dante. Dante Farnesse, tapi cukup panggil aku Dante."
.
.
.
"Oi! Hiren!"
Telinga Hiren sedikit naik. Ia segera berbalik dan menemukan Dante sedang berlari ke arahnya. Pakaiannya serampangan, seperti biasa. Mahasiswa jurusan ekonomi itu tidak mau buang-buang waktu untuk sekedar mengancingkan kemejanya, atau merapikan kerah bajunya, atau mungkin mengikat rambutnya. Seratus delapan puluh derajat dengan Hiren. Penghuni fakultas hukum ini selalu memasukkan kemejanya; selalu mengancingkan kemejanya sampai atas; selalu memakai sweater atau rompi.
"Ada apa? Kenapa lari-lari begitu?"
Dante sedikit terengah sebelum mendongakkan kepalanya untuk menjawab Hiren. "Dio," geramnya. Hiren mengerutkan dahi.
"Dio?"
"Oi! Dante!!!"
Hiren menengok ke arah suara. Sejurus kemudian, pupilnya membulat. Replika Dante sedang berlari ke arahnya. Garis wajahnya, rambutnya yang panjang dan membara terkena sinar matahari, dahinya yang berkerut marah, posturnya. Hanya saja, kembaran Dante ini memakai kaus santai dengan celana jeans hitam yang terpasang rapi di tubuhnya. Rapi. Rambutnya pun diikat dengan rapi. R-a-p-i. Miringkan kata itu, dan semua orang pun akan tahu bahwa siapapun yang ada di hadapannya ini pasti bukan Dante.
"Gah! Dio! Mau apa sih?"
Ah. Hiren menyimpulkan. Ini pasti Dio Farnesse, adik Dante yang beda dua tahun saja darinya.
"Berapa kali kubilang, jangan bolos! Nilai kehadiranmu sudah hampir melewati batas. Kalau kau benar-benar butuh bolos karena sakit atau apapun, terus bagaimana?!" seru Dio.
"Ya gampang. Tidak usah masuk saja."
Dio mengangkat tangannya, mengayunkan, dan menampar kepala Dante dengan bunyi yang keras. Membayangkan kepalanya ditampar begitu kencang, Hiren hanya bisa berjengit dan mengasihani Dante dalam hati.
"Aduh! Kurang ajar kau!" Dante mengepalkan tinju dan bersiap menyarangkannya di wajah Dio, sebelum lengannya keburu ditahan oleh Hiren. Kedua kepala bersurai merah itu langsung menoleh ke arahnya, dan Hiren mau tidak mau merasa canggung ditatap oleh dua kepala yang hampir sama.
"Siapa dia?" tanya Dio.
Dante menatap Hiren untuk beberapa saat. Hiren mengangguk dengan senyum tipis terukir di wajahnya. Si rambut merah lalu menurunkan tangan dan melipatnya di dada. "Kenalkan, ini Hiren."
"Halo. Kau adiknya Dante, 'kan? Dio?"
Dio mengangguk. "Si. Dio Farnesse. Salam kenal," ujarnya sambil mengulurkan tangan. Hiren menyambut uluran tangannya.
"Kau, satu fakultas denganku, 'kan?" tanya Hiren.
"Yeah. Aku pernah lihat kau. Di festival budaya, kau yang pakai pakaian gadis cina dan menjadi pelayan di cafe itu kan?" Dio nyengir lebar, tidak menyembunyikan betapa ia merasa pria jangkung berotot di hadapannya ini sangat lucu ketika memakai pakaian wanita.
"Ah, jangan mengungkit, Dio. Kalau bisa aku ingin menghapus masa suram itu dari ingatanku."
Dio tergelak. "Kau lucu, Hiren. Sepertinya seru jadi temanmu. Pantas saja Dante tidak pernah absen menceritakan betapa konyolnya dirimu."
"Dio!!!"
Dio dan Hiren menatap Dante, yang jelas kesal setengah mati.
"Ayo pergi!" seru Dante, menyeret Dio pergi, meninggalkan Hiren kebingungan. Dalam usahanya melepaskan diri dari genggaman Dante, Dio menyempatkan diri untuk mengucapkan sampai jumpa pada Hiren. Hiren hanya membalas sekadarnya. Pikirannya keburu melayang pergi terburu-buru menuju tempat perenungannya jauh di atas awan.
.
.
.
Kenapa Dante tiba-tiba marah?
.
.
.
Dan hari-hari selanjutnya berjalan dengan sangat canggung.
Dante tidak lagi menyapanya seperti biasa, Hiren yang harus ambil inisiatif untuk mengejarnya. Terkadang, Dante pura-pura tidak melihat Hiren, yang tidak mungkin mengingat tinggi Hiren yang menjulang dan rambut hitam ikalnya yang kontras di antara warna-warna artifisial tren masa kini.
Ada yang seperti patah di hatinya ketika ia melihat Dante membuang muka. Ada yang tenggelam di dalam angannya ketika ia tahu Dante pura-pura tidak melihatnya dan tidak mau menyapanya. Ada yang rusak dengan isi kepalanya, ketika tanpa sadar ia memejamkan mata dan mati-matian menahan ledakan dalam dadanya.
.
.
.
Satu pukulan di kepala dan Dante menengok ke belakang, menatap Dio yang sedang menatapnya angkuh. Ingin rasanya Dante menumpahkan kopi panas ke wajah adiknya yang semakin hari semakin kurang ajar. Dio mendengus sebelum menarik kursi dan ikut duduk di meja yang sama.
"Aku tidak mengerti isi kepalamu, Dante. Apakah terlalu kosong atau terlalu penuh. Taruhanku sih terlalu kosong, tidak ada isinya sama sekali."
"Bocah brengsek, datang-datang malah ngejekin. Mau kubuang di Teluk Tokyo?"
"Kau, yang isi kepalanya sudah hanyut di Pasifik," ujar Dio dengan sangat santainya, disertai gerakan tangan yang mendorong kepala sang kakak. Kerutan urat yang tegang sudah muncul di pelipis Dante. "Sungguh, aku tidak mengerti dengan cara berpikirmu," lanjut Dio seolah tidak terjadi apa-apa, "kau yang pertama kali mendekatinya, lalu kau juga yang menjauhinya begini. Apa sih maumu? Tarik ulur? Oh, please. Teknik macam begitu sudah tidak lagi berlaku. Kalau kau suka, kau bilang, Kalau kau tidak suka, jangan main api. Begitu saja kau tidak mengerti?" Dio menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dante tidak lagi memasang wajah kesal. Ia bersandar di kursinya. "Bukan begitu."
"Lalu? Kau harus lihat bagaimana mukanya. Persis seperti anak anjing yang dibuang. Kalau aku jadi dia, aku bakal segera cari yang baru saja."
"Begitu? Tapi, tidak pernah ada apa-apa juga. Jadi bukan urusanku kalau misalnya dia punya pacar baru atau--
"Pacar baru? Memangnya kalian pernah jadi?"
.
.
.
Hiren menghela napas dan menatap lurus ke depan. Ayunan yang didudukinya sudah terlalu kecil untuk badannya. Di hadapannya, terhampar kota tempatnya tinggal, disinari cahaya oranye-kuning yang redup. Langitnya mulai berwarna kuning, dengan sedikit gradiasi biru-merah muda-ungu terbentuk di ujungnya. Matanya tidak bisa lepas dari semburat kemerahan yang dihantarkan oleh sang surya yang mengantuk. Merah yang membara, melekat dalam benak, mewarnai seluruh pembuluhnya, mengisi relung hatinya.
Hiren jarang jatuh cinta. Sekalinya ia jatuh, selalu begini. Ia selalu jatuh pada bintang timur di langit, pada purnama yang memeluk gelap, pada pelangi yang muncul semaunya. Pada apa-apa yang tidak pernah bisa ia jangkau. Kali ini, ia jatuh untuk matahari senja yang kemerahan, yang muncul sesaat sebelum tenggelam dalam pelukan malam.
Selalu, yang tidak tergapai. Yang terlalu jauh di depannya. Yang terlalu sempurna baginya.
.
.
.
Lalu canggung, lagi. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tidak ada tanda-tanda badai musim panas, dan Dante mendadak menyapanya serta mengajaknya makan siang. Celaka dua belas bagi Hiren, karena hari itu ia sama sekali tidak membawa payung ataupun jas hujan. Pun, uangnya hanya cukup untuk kereta pulang karena tiket abodemennya sudah habis. Ia sudah membayangkan harus menginap di ruang klub judo, tidur beralaskan kayu atau matras bau keringat, ketika Dante berdeham pelan. Salah tingkah.
"Aku... Hiren... aku mau... maaf."
Apa Hiren tidak salah dengar? Dante ingin ia meminta maaf? "Kau mau aku minta maaf?"
"Bukan! Bukan bukan!" Dante menjawab panik. "Maksudku, aku mau minta maaf."
"Untuk?"
Dante menggaruk kepalanya. "Err... untuk menghindarimu, dan... menghindarimu."
Sebenarnya Hiren masih tidak mengerti jalan pembicaraan ini. Satu-satunya jawaban yang bisa ia pikirkan adalah, "Begitu."
"Ya. Begitu."
Lalu, canggung lagi untuk yang kesatujutaduaratuslimapuluhsekianribu. Hiren menatap wajah Dante yang menunduk. Perlahan, ia bisa melihat ada rona merah yang mewarnai kedua pipi Dante, kemudian menjalar terus dan terus, sampai akhirnya wajahnya merona merah sampai telinga.
"Yah! Pokoknya aku minta maaf! Ya! Dah!"
Dante teburu-buru berdiri dan berbalik, menabrak waiter yang sedang berjalan, tersandung kursi, dan terjatuh.
Hiren tidak bisa tidak tertawa melihat aksi teatrikal di hadapannya.
.
.
.
"Dante."
"Mmm?"
"Dante."
"Ada apa?"
"Dante. Dante. Dante."
"He... hentikan! Apaan 'sih?!"
.
.
.
Pada akhirnya, matahari senja memang jatuh pada pelukan malam. Pada gelap yang sempurna dan begitu tenang, pada rumahnya ketika dunia terasa begitu kejam untuk dijalani. Padanya.
No comments:
Post a Comment