(c) Lyto
(c) Lee Myoung Jin
.
.
.
"Mulia banget. Mengorbankan diri sendiri sampe luka-luka begitu, Ray."
Raya menoleh, menatap musuh bebuyutan--sekaligus mantan sahabatnya. Bibirnya lalu tertarik tipis.
"Aku tidak se-noble itu, Las. Sama sekali."
"Jadi, definisi tidak noble untukmu adalah membukakan jalan buat party member dengan cara menarik aku jatuh ke air terjun? Hampir tujuh tahun kita tidak bertemu, aku masih tidak bisa memahami cara pikiranmu bekerja. Tidak. Sama sekali."
Raya tergelak, terbahak, tertawa puas. Ia berbaring dan memegangi perutnya, sementara derai gelak tidak berhenti meluncur renyah. Mendengar untai melodi ini, ada yang mengusik hati Laskar. Rindu, nyaman, kenangan, rumah. Raya pernah menjadi rumah baginya, dan mungkin akan selamanya. Laskar tahu, keputusannya berpihak pada Republik Schwartzvald, bukannya Kerajaan Midgard, akan membuat mereka berdiri di dua pihak yang berseberangan dan pertemuan mereka selanjutnya akan menjadi zona perang yang tidak terelak. Apalagi....
"Aku tidak akan minta maaf karena sudah membunuh Thomas."
Tawa Raya berhenti. Laskar memperhatikan perubahan ekspresinya. Ketika Raya menatapnya, Laskar harus menggunakan semua keberaniannya untuk tetap bersikap biasa.
"Thomas sudah kuanggap seperti ayah sendiri."
"Aku tahu."
"Dan kau sudah dianggap seperti anaknya."
"Aku tahu."
Raya menghela napas. "Kematian Thomas. Kalau boleh jujur, sebenarnya tanganku sangat gatal ingin meninju, mengubahmu menjadi seonggok daging, saat ini juga." Raya mengepalkan tangan dan mengkeretakkan sendi-sendi jarinya.
"Kenapa tidak kau lakukan?"
"Duh! Sudah jelas, bukan? Aku tidak mungkin mengubahmu jadi seonggok daging hanya gara-gara Thomas! Lagipula, takdirnya sudah jelas. Hari itu, cepat atau lambat, ia pasti mati. Salah satu pisau para assasin itu berhasil mengenainya. Kau tahu sendiri, entah racun dari tumbuhan atau binatang mana yang ada di atas bilah pisaunya. Kalau dia masih menghantui kita, rasanya dia akan berterima kasih padamu karena mempercepat kematiannya. Dan kalau memang benar ia masih berkeliaran di muka bumi ini, kemudian mengetahui aku menghabisimu demi balas dendam atas kematiannya, bisa-bisa keturunanku dikutuk olehnya. Hih. Membayangkannya saja aku sudah merinding."
"...."
"Oi. Kasih komentar apa, gitu?"
"Ng... bukan... maksudku...."
"Oh ayolah, Laskar!" seru Raya, gemas pada perilaku Laskar yang seperti habis kena hajar tinju troll tepat di kepala, "kau tahu aku paling tidak bisa baca bahasa isyarat! Mau kau bebani otakku sebagaimana lagi sampai kau puas, haa?!"
"Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku tidak akan memberi komentar apapun. Lagipula, kau belum menjawab pertanyaanku, Raya. Kenapa kau mau repot-repot menerjangku jatuh ke air terjun, basah kuyup dan terluka begini, kalau bukan untuk suatu alasan yang sangat mulia?"
Seolah pertanyaan Laskar adalah hal paling lucu di dunia, Raya nyengir lebar.
"Well, aku kangen padamu, tahu!"
No comments:
Post a Comment