Tuesday, 20 August 2013

You-less

Es coklat, sepiring pasta carbonara, gelak tawa, celetukan seenak jidat, pembelajaran diri, obrolan berat, candaan lawak, dan temaram lagu mellow. Deru kendaraan terdengar dari kejauhan. Kelap-kelip lampu jalanan bersinar begitu redup, seperti kunang-kunang di tengah malam gelap. Begitu ramai, begitu riang, begitu merebakkan asa dan rindu dalam dada.

Namun tetap saja, bagi Luca, semuanya terasa kurang.

Delapan orang yang saat ini ada di sekelilingnya, sahabat yang sudah lama tidak pernah ia jumpai. Jangankan mengetahui bagaimana kabarnya, sekedar mengucapkan 'halo' pun jarang ia lakukan. Bukannya sombong, atau tidak mau tau.

Mereka tidak pernah bertemu.

Luca terpisah sendirian. Terjebak menjadi satu dari tiga puluh orang lain. Bukannya ia tidak menyukai lingkarannya yang sekarang, hanya saja....

Selalu ada yang kurang.

Tidak peduli, bagaimana pun ia begitu terseret dalam arus dalam lingkaran lamanya. Tidak peduli, apakah ia harus menahan emosinya begitu dalam. Tidak peduli, ia harus menjadi orang lain demi hanya bisa tertawa terbahak-bahak dengan mereka.

Ia selalu merasa kurang.

"Ngelamun aja, Luke!" senggol Langit, masih dengan senyum jahil menggantung di wajahnya. "Mikirin siapa, sih?"

Luca memutar matanya. "Apaan deh. Ngga mikirin siapa-siapa juga."

"Yakin?"

Luca mendengus dan menyenggol Langit, memberinya tatapan tajam sebelum tersenyum lebar dan tertawa. Keras, lepas. Mentertawakan dirinya sendiri.

Ah. Luca akhirnya tahu apa yang kurang.

.
.
.

18.72
Raaaaaaai, kita jadinya makan di XXXX yah. Sini yuk sini, berhenti dulu ngerjain tugasnyaaaaa.

19.45
Kayaknya aku nggak bisa kesana deh, Luke, aku masih kerja kelompok, ini dipresentasiin besok soalnya.

20.00
Huhuhuuuu. Okeeeeeee. Semangat ya!

.
.
.

No comments:

Post a Comment