Saturday, 31 August 2013

A Snippet of A Heart

(c) Cassandra Clare

.
.
.

Magnus sudah hidup hampir delapan ratus tahun. Ia sudah mengalami ratusan kali jatuh cinta, ratusan kali patah hati, dan lebih banyak lagi melihat kematian merenggut nyawa para manusia dengan begitu mudahnya. Di masa awalnya sebagai seorang warlock, ia mensyukuri ketidakmampuannya untuk mati. Di masa mudanya, ia mengasihani para manusia, yang begitu putus asa mempertahankan kehidupan mereka sampai rela menjual jiwanya pada seorang Downloader sepertinya.

Seiring waktunya bertambah, semakin banyak pula jumlah manusia yang ia temui. Berbagai karakteristik manusia ia jumpai, dan akhirnya ia menemukan keindahan dari jiwa manusia yang begitu singkat itu. Seperti api, membakar paling panas dan menyala paling indah pada masa-masa akhirnya. Begitu hangat dan singkat, hidup manusia--kehidupan para makhluk fana.

Will Herondale, Camille Belcort, Axel von Fersen, sebutkan saja nama-nama makhluk yang membuatnya jungkir balik. Dibalik sikapnya yang angin-anginan, bahkan Pangeran Neraka Azazel pun tahu betapa loyalnya Magnus pada cintanya. Ia rela mengorbankan semuanya; tenaga, waktu, dan hatinya, untuk bisa membahagiakan yang ia cintai dan sayangi. Ya, hati. Magnus bukanlah seorang warlock tanpa hati yang hidup semata-mata karena keabadian mereka. Waktu sudah mengajarinya begitu banyak, cukup untuk membuatnya menghargai jiwa setiap fana yang ditemuinya.

Dan meskipun hatinya patah setiap kali objek cintanya dijemput oleh Azrael, tidak pernah sekalipun ia menyesali waktunya yang tanpa akhir ini. Tidak.

Kecuali, saat ini.

Bau obat-obatan begitu menyengat hidungnya. Semua tempat tidur berseprai putih yang berjajar ini membuatnya gila. Pertempuran antara Shadowhunters, faeries, dan Downloaders dengan Jonathan Christopher Morgenstern dan pasukan Shadowhunters gelapnya sudah selesai. Pemenangnya, well, Magnus tidak akan bisa duduk manis di salah satu sisi tempat tidur jika memang Putra Valentine itu yang menang. Jace Herondale memenangkan pertempuran epik ini. Ia dan Clarissa Morgenstern berhasil membuktikan pada dunia bahwa memang malaikat-lah yang pada akhirnya akan memenangkan segala macam pertempuran yang melibatkan surga dan neraka. Bukan berarti para iblis tidak bisa memenangkan pertempuran gila ini. Namun ketika Iblis Utama dari jajaran malaikat jatuh yang mau bergabung dengan perang ini hanyalah Lilith, sedangkan Jace memiliki api milik Michael dalam dirinya dan darah Ithuriel mengalir dalam pembuluh Clary, apa dayanya? Hanya satu hal yang Magnus ketahui dari perang ego yang sudah menumpahkan begitu banyak darah ini.

Kau tidak bisa apa-apa jika berjalan sendirian.

Yang juga merupakan salah satu jawaban mengapa ia memilih untuk berdiam diri di bangsal rumah sakit di Institut, menggenggam tangan seorang Shadowhunter muda yang sedang terbaring tak berdaya dan hampir tanpa nyawa.

Perang selalu membawa korban, dan Alexander Gideon Lightwood adalah salah satunya.

Meskipun Magnus menolak untuk ikut serta dalam perang, hatinya tidak bisa berbohong. Seolah ada yang meremas dadanya ketika ia melihat kilatan cahaya di kejauhan--di tempat terjadinya perang. Ia membayangkan ada di sana, melihat kekacauan, darah, dan pembunuhan yang sedang terjadi. Ia membayangkan Jace membelah satu keturunan Lilith jadi dua bagian, Izzy mengayunkan cambuknya dan menghabisi apapun yang berada di jalannya, Simon melompat kesana-kemari memamerkan taringnya dan merobek leher lawannya, dan Clary, well, Clary menjadi seorang Clary. Berteriak dramatis, menyerang dramatis, merayakan kemenangan dan panik dengan dramatis. Kau tidak bisa membayangkan seorang drama queen menjadi tidak dramatis di saat-saat penuh drama seperti ini.

Lalu, pikirannya teralih pada Alec. Kekasih fananya yang begitu--manis. Ia tidak bisa berbohong bahwa Alec bukan tipenya dan bahwa ia tidak pernah jatuh cinta pada pria lain selain Alec. Will dan Axel--dan kini Alec--adalah salah satu contoh betapa rambut hitam dan mata biru tidak pernah berhenti menjentikkan listrik ke dalam hati Magnus, yang membuat perutnya seperti berisi ribuan lebah terbang. Karena kupu-kupu terlalu mainstream.

Alec, yang begitu canggung dan tidak pandai berkata-kata. Alec, yang membiarkan dirinya dipanggil 'sweet pea' ataupun 'darling' atau apapun oleh Magnus dan hanya mendengus saja sebagai responnya. Alec, yang begitu cemburu pada kisah masa lalunya. Alec, yang begitu ingin tahu tentang bagaimana kehidupannya, siapa saja yang sudah ia temui, apa saja yang sudah ia lakukan, siapa ayahnya yang sesungguhnya--yang seharusnya sudah diketahui oleh Nephilim muda itu mengingat begitu banyak petunjuk mengenainya. Alec, yang begitu putus asa mengenai kefanaannya. Alec, yang putus asa karena kemampuan Magnus untuk mengubahnya menjadi abadi tanpa harus menggunakan sihir hitam atau mengubahnya menjadi vampir. Alec, yang begitu putus asa sampai mau membuat kesepakatan dengan Camille demi memangkas nyawa Magnus.

Alec, yang begitu mencintainya sampai ia jatuh terlalu dalam di kegelapan hatinya sendiri.

Pertama kali dalam hidupnya, Magnus begitu membenci keabadiannya, ketidakmampuannya untuk mengakhiri waktunya dengan cara yang normal, kemudaannya, semuanya.

Magnus--yang pada akhirnya memutuskan untuk ikut berperang demi melindungi Alec, secara diam-diam--tidak bisa melupakan kengerian yang begitu nyata baginya saat itu. Bukan ketika pada akhirnya Jace membunuh Jonathan, namun saat Alec rubuh ke tanah bergenangkan darah. Darahnya.

Mata kucing Magnus mengecil. Inderanya lebih sensitif entah berapa ribu kali. Pita suaranya protes ketika ia berteriak panik. Otot kakinya menyerah saat ia akhirnya sampai di tubuh Alec yang bergelimang darah.

Pandangannya gelap. Total, dan saat itu juga ia membayangkan rasa yang lebih buruk daripada mati.

Yaitu ketika hatimu dibawa ke alam kematian oleh jiwa yang memilikinya, sementara tubuh dan jiwamu terbelenggu oleh rantai keabadian sampai akhirnya malaikat maut sudi mencabut nyawamu.

Magnus memejamkan mata, berusaha menelan pahit yang mendadak muncul di pangkal lidahnya ketika ia mengingat kronologi kejadian tersebut. Bayangan Alec yang mati meninggalkannya. Lagi.

"Alexander," lirihnya. Nama Alec begitu merdu di telinganya. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam duduk di atas sofa dengan hanya melantunkan nama Alec saja terus-menerus dan tidak bosan karenanya. Untuk pertama kali dalam sejarahnya sebagai seorang warlock, Magnus merasa putus asa. Entah apa yang berhasil melukai Alec, ia tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Hanya satu yang Magnus tahu. Apapun itu, ia berasal dari dunia bawah.

"Alexander, kumohon, sadarlah." Genggaman Magnus pada tangan Alec semakin erat, seolah berusaha menarik Alec dari kegelapan manapun yang saat ini sedang ia jelajahi.

"Maaf, aku memutuskan untuk berpisah denganmu hanya karena alasan konyol soal kepercayaan. Maaf, aku  lupa betapa rapuhnya hatimu. Maaf, Alexander. Aku akan meminta maaf padamu sebanyak yang kau mau. Aku akan menceritakan padamu tentang hidupku. Tentang Will, tentang Camille, tentang Woolsey, Peru, balon udara, London, semuanya. Aku akan mencari cara, bagaimana membuat kita bisa terus bersama sampai selama-lamanya. Karenanya, aku mohon, Alec...."

"Buka matamu."

.
.
.

Karena aku tidak sanggup hidup sendirian di waktu yang tanpa batas ini tanpa dirimu di sisiku, Alexander.

No comments:

Post a Comment