Hujan rintik turun. Bahkan sejak satu jam yang lalu aku bisa mencium wangi tanah dari kejauhan mendekat dengan pasti. Kelabunya terlihat sendu di mataku. Di sudut jendela berwangi aneh ini, aku bisa lihat ada seekor keong bergerak sangat pelan merayapi daun. Sangat pelan, sampai-sampai aku gatal ingin membuatnya terguling dan menggelinding.
Ah, andai aku bisa keluar rumah.
Hujan ini membuatku tidak bisa pergi kemanapun. Airnya membuat rambutku basah kuyup. Bukannya aku tidak suka kena air, tapi hujan selalu membuat rambutku tampak aneh dan mengembang aneh. Menyebalkan.
Aku menguap sesekali. Sungguh, irama konstan dari hujan membuatku lebih mudah mengantuk. Sesekali aku mengulet, meregangkan otot-otot tubuhku serta tangan dan kakiku. Menyebalkan, tidak bisa berjemur seharian dan main ke luar itu. Sangat menyebalkan.
Bosan ini benar-benar membuatku mengantuk dan lapar. Aku segera beranjak dari sofa empuk ini dan berjalan ke kamarnya. Pintunya sengaja tidak ditutup rapat, katanya supaya ia tidak perlu bangun hanya untuk membiarkan aku masuk dan mengoceh serta mengacak-acak kamarnya. Dengan satu gerakan ringan, aku mendorong pintu dan masuk.
Gelap. Tirainya ditutup rapat. Di atas kasur, terdapat benjolan yang tertutup oleh selimut berwarna hijau yang bergerak-gerak sesekali.
"Arya."
Tidak ada respon. Aku lalu duduk di atas kasur dan mulai membangunkan orang ini. "Arya. Bangun. Arya."
Masih tidak ada respon. Aku mengerutkan keningku. Kesal. "Arya! Ayolah! Bangun!" seruku sambil memukul-mukul pipinya.
"Mmmm," gumam Arya sebagai jawaban, sebelum berbalik ke arah sebaliknya, memunggungiku. Sialan.
Saatnya menggunakan jurus rahasia.
"Arya!"
.
.
.
"Aduh!"
Aku buru-buru bangkit dari tidur dan mengelus-elus dahiku yang sangat nyeri. Fokusku langsung mengarah pada sosok yang sedang duduk manis di atas kasur, memandangku dengan mata sok-polos. Ekornya bergoyang-goyang.
"Meow."
"Meow, katamu. Apa tidak bisa membangunkanku dengan cara yang lebih manusiawi, Kei?"
"Meow~"
Aku menguap, lebar. "Ngantuk. Makannya nanti saja ya," ujarku setengah bergumam sebelum kembali masuk ke dalam selimut. Seolah mengerti maksudku, Kei langsung menaiki tubuhku dan mengeong-ngeong mengesalkan sambil memukul-mukul mukaku dengan telapak kakinya yang empuk dan berbulu halus itu. Geli dan memancing bersin, terutama kalau ia menempelkannya ke hidungku begini.
"Meow."
"Singkirkan kakimu dari mukaku, Kei."
"Meow."
"Kei."
"Me~oooo~w!"
"DUH!!!"
.
.
.
Dan si brengsek itu pada akhirnya tetap menjitakku. Sialan.
Setelah aku berhasil membangunkannya, ia segera beranjak dari kamar menuju dapur dan mengambilkan aku makanan serta air. Setelahnya, ia segera membuat makanan untuk dirinya sendiri. Bau manis segera memenuhi dapur. Setelah menuang apapun isi mangkok besi besar bergagang itu ke cangkir, ia separo menyeret tubuhnya ke ruang tamu. Penasaran-dan sudah kenyang, aku segera mengikutinya.
Di ruang tamu yang sendu itu, Arya duduk di sofa dekat jendela dan menyesap minumannya pelan-pelan. Ia memakai kaus lengan panjang yang sedikit kebesaran dan celana panjang yang ujungnya dilipat beberapa kali. Rambutnya sudah agak panjang. Poni ikalnya sudah mulai menutupi alis dan menyentuh kerah pakaian.
"Kei. Sini."
Menurut, aku pun berjalan cepat menghampirinya dan berbaring di sampingnya. Ekorku sesekali menyentuh pahanya ketika jarinya yang panjang menari-nari di atas rambutku. Sesekali ia menggaruk belakang telingaku, kadang-kadang ia hanya mengelus-elus kepalaku. Tangannya yang satu masih setia memegang cangkir, sementara pandangannnya kini fokus pada benda kotak yang menyala-nyala di depan kami. Arya menyebutnya TV dan ia selalu marah kalau aku memencet-mencet benda yang disebutnya remote. Entah kenapa.
"Kei."
Aku menoleh ke arahnya. Sungguh, tangannya ini menghalangi pandanganku. Dengan cepat aku membuat jarinya pindah ke bawah kakiku, terjepit oleh berat badanku.
"Kei."
"Ya?"
"Kei."
"Ya, ada apa, Arya?"
"Kau tahu?"
Tidak. Aku bukan pembaca pikiran.
"Reika sudah punya pacar lagi."
...oh.
"Begitu?"
"Dan kau tahu?"
Tidak. Sudah kubilang berkali-kali, aku bukan cenayang.
"Larsa pacaran dengan Raika."
"...ha?"
Lalu Arya tertawa. Miris. Mengiris. Aku tidak suka melihat Arya tertawa begini. Bukan tawanya yang biasa. Bukan tawanya saat ia melihat satu hal di TV yang lucu, bukan tawanya saat seorang temannya kucakar karena mengelus-elus perutku, bukan tawanya saat ia diserang jurus kelitikan oleh Larsa.
Arya memaksakan dirinya tertawa.
.
.
.
"Hahaha, geli, Kei."
Mendadak, Kei naik ke dadaku dan menggosok-gosokkan ujung kepalanya ke daguku. Entah apa yang ada dipikiran kucing ini. Entah ia benar-benar mengerti maksudku, atau itu hanya insting kucingnya saja. Entah.
Aku menaruh gelas di meja di samping sofa kemudian memeluk Kei. Bunyi dan dengkur pelan terdengar darinya saat aku mengubur wajahku di rambut hitamnya yang halus. Sesekali ia menjilat telingaku.
Reika. Larsa. Raika. Kenapa semuanya begitu sulit?
Bukannya aku tidak mau Larsa bahagia. Apalagi aku tahu persis seperti apa Raika.
"Meow."
Aku melepas pelukan Kei dan menatap matanya. Hijau-hitam-kuning yang aneh. Aku lalu merebahkan diri dan mengangkat Kei tinggi-tinggi di atas dadaku. "Kei, menurutmu apa yang sebaiknya kulakukan?"
"Meow."
"Duh, aku tidak mengerti."
"Meow."
"Apa arti 'meow'mu itu, coba?"
"Meoooow!"
Kei melompat dari tanganku, menginjak mukaku, kemudian turun dan berjalan angkuh ke dapur. Cih. Kucing sial itu.
"Keeeeii! Jangan kebanyakan makan! Kalau kau gendut aku tidak tanggung!"
.
.
.
Lupakan saja dia.
Lupakan. Lupakan.
Kubilang lupakan dia, Arya!
.
.
.
Dan kau tahu, aku tidak akan pernah jadi kucing gendut kalau majikanku adalah orang yang harus selalu diurus sepertimu.
No comments:
Post a Comment