Collab with Pratiwi F.
______________________________________________________________________________________________________________
"Biru."
"Hah? Ngomong apa lo?"
Zen menoleh pada Aki, yang menatapnya bingung. Lumpia udang diam beberapa senti dari mulutnya. Dahinya mengerut bingung.
"Biru, Ki. Itu orang rambutnya biru," ujar Zen pelan, nyaris berbisik, sembari menunjuk pada seorang pemuda di ujung meja panjang. Kedai dimsum tempat Aki dan Zen makan siang hari ini penuh sesak. Beruntung mereka berdua kenal dengan pemiliknya, sehingga meskipun keduanya datang pada rush hour begini pun, pelayanan terbaik tetap didapatkannya.
Aki menoleh pada pria yang dimaksud oleh Zen. "Di cat kali. Zaman sekarang rambut merah muda gonjreng aja udah sering banget gue liat berkeliaran di kampus. Kampus lo juga punya orang-orang dengan rambut ijo elektrik, 'kan?" ujarnya malas sebelum memasukkan lumpia udang ke dalam mulutnya. Zen mendengus.
"Gue udah bilang, kemarin himpunan ngadain festival, Ki. Pilihannya, rambut gue di cat ijo elektrik atau shocking pink. Lo tau sendiri, orang-orang kebanyakan belajar macem anak-anak himpunan gue sekalinya dikasih kebebasan bakal seliar apa," misuh Zen sebelum menyuap satu buah Ha Kau bulat-bulat ke dalam mulutnya. "Hanjirrrr enak bangeeeet."
"Bocah."
"Berisik," balas Zen ketus sebelum menyambar lumpia udang milik Aki dan memakannya dalam satu kali suap. Pipinya menggembung ketika ia berusaha mengunyah gorengan berukuran enam sentimeter dalam mulutnya tersebut. Aki mendengus. Emosi Zen yang naik turun seperti roller coaster tidak pernah bisa membuatnya tidak takjub. Mengomel tentang ujian praktik dan tugas lab sambil mengerjakan laporan di lima menit awal, kemudian tertawa-tawa keras dan menyanyi-nyanyi sumbang di lima menit terakhir dengan masih mengerjakan pekerjaannya. Bahkan otak sekaliber Aki pun tidak bisa berubah dari A jadi Z lalu kembali ke A dalam waktu lima menit saja.
"Eh tapi, serius deh Ki. Itu orang rambutnya kayak nggak wajar gitu! Biru dongker ampir item. Gue udah berapa kali pengen ngecat rambut macem gitu tapi nggak ada salon yang punya warna absurd kayak begitu."
"Mungkin dia orang asing, Zen. You'll find plenty of that kind of thing overseas."
Zen memajukan bibirnya, tidak setuju. "Mukanya muka Jepang, Ki."
"Nama lo juga nama Jepang, tapi muka lo?"
"Mmm, iya sih. Tapi gue penasaran, Ki!" Zen menarik-narik jaket Aki, memancing keributan yang tidak perlu di kedai tersebut. Sang pemilik, yang sedang memindah-mindahkan piring, hanya bisa melerai seadanya sambil tertawa-tawa.
.
.
.
Ini bukan kali pertama Leon pergi ke kedai dimsum sendirian. Adik-adiknya yang bawel itu pada akhirnya menemukan orang lain yang bisa diganggu seenaknya. Yah, meski kembarannya ternyata berlabuh pada seorang pria muda bertampang sangar, setidaknya hari-harinya ke depan bisa sedikit lebih tenang.
Atau setidaknya, perkiraannya.
Tempat ini adalah tempat favoritnya. Masakan cina bukan benda asing baginya, mengingat sang ayah yang hobi memasak sudah jutaan kali mencekoki dan memaksanya belajar masak. Namun, ada sesuatu dengan kedai ini yang selalu membuatnya datang lagi dan lagi. Entah interiornya yang simpel namun hangat, dengan meja-meja dan meja counter yang dekat dengan koki, atau mungkin fiber glass sebagai pengganti atap untuk menggantikan lampu di siang hari. Apapun itu, Leon betah berlama-lama di sini.
Namun, satu hari di rumah ketika sang ayah bertemu dengan kekasih kembarannya, kemudian berteriak-teriak garang dan marah-marah, lalu bertengkar dengan adiknya yang jago kendo, lalu memecahkan vas bunga dan menjatuhkan meja, semua kehebohan demi satu kalimat 'Aku akan menjaga kesucian Freyr!' , jadilah ia terusir dari rumah dan terjebak di tempat ini pada jam makan siang. Hiruk-pikuk, penuh sesak, ramai, berisik. Kepalanya mendadak pusing. Keramaian bukan nilai tambah baginya, meski pekerjaannya sebagai detektif membuat ia sering terjebak dalam kondisi begini.
Menyesap es teh leci yang baru diminum sepersepuluhnya sedikit, ia lalu mengedarkan pandangan. Ada sepasang kekasih yang ribut di meja makan dekat pintu masuk, segerombol anak muda yang tertawa-tawa keras di meja panjang dekat jendela, beberapa orang--mahasiswa sepertinya--yang makan dengan hidung menempel pada buku catatan, lalu dua orang di ujung meja counter tempatnya duduk yang sedang berdebat seru. Si pemuda yang lebih pendek dengan rambut ikal terlihat menarik-narik jaket temannya yang berambut cepak jabrik dan berkacamata.
Mungkin kakak-adik, pikir Leon sembari menyuap brokoli udang ke mulutnya.
Pikirannya kembali melayang ke rumah, pada pertengkaran tak terelak antara Freyr dan Raya--ayahnya. Ia tahu, Freyr sedikit aneh ketika mantan kekasihnya meninggal dunia setelah memutuskannya terlebih dahulu. Lebih aneh lagi ketika ia tahu kalau Echo tidak pernah mencintainya barang sedikit pun dan hanya menjadikannya pelarian dari Leon. Oh, pernyataan terakhir membuatnya terlihat brengsek.
Tapi sampai beralih orientasi? Leon mengurut dahinya lagi.
Bukannya kisah cintanya terbilang bagus. Sepuluh tahun lebih jatuh cinta pada seorang wanita tsundere, hanya untuk menemukan wanita itu mencintai orang lain. Mereka lalu menikah, punya anak, dan pindah ke kota lain. Mungkin ini karmanya karena merusak kisah cinta Freyr, atau sekedar salah satu skenario yang Tuhan rancang untuknya?
"Em, halo?"
Leon menoleh dan menemukan si pemuda yang tadi ribut di ujung meja sedang berdiri di sebelahnya. Matanya berkilat ingin tahu dan polos. Leon melihat sekelilingnya, mencari teman si pemuda ini, hanya untuk menemukan yang bersangkutan sedang berjalan menjauhi tempat itu dengan langkah terburu-buru. Fokusnya kembali pada bocah yang menyapanya.
"Halo. Ada yang bisa kubantu?"
Bocah itu terlihat ragu-ragu, sebelum berkata, "Boleh aku tahu, kau mengecat rambutmu di mana?"
koplaaaaaakkk sia maneh kopplllaaaaaaaaaaaaaaakkkk!!!! #nggabisaberentigulingguling sampe Alena tau kalau Zen lantas berubah orientasi gara2 dicampakkannya....
ReplyDeleteKan udah gue bilang, Aki/Alena itu alibinya Aki/Zen aja tau!!!
Delete