disclaimer
Harry Potter : J.K. Rowling
Saint Seiya : Masami Kurumada
.
.
.
Ruang Bersama asrama Gryffindor. Api menyala di perapian, menguarkan gelombang panas ke penjuru ruangan. Karpet empuk berbulu terhampar di hadapannya, sofa-sofa empuk warna merah tersebar di ruangan. Di sofa panjang di satu sisi ruangan dekat tangga menuju asrama pria, Kardia berbaring tengkurap. Kepalanya tenggelam di satu bantal apel merah besar kiriman orang tuanya pada Thanksgiving kemarin. Buku Transfigurasi Menengah terbuka lebar di lantai, dengan satu pembatas buku warna biru cerah ada di tengah-tengah halamannya.
"Hhhh...." Lalu Kardia berguling miring ke kiri dan memeluk bantal apelnya. Matanya menatap sofa kosong di depannya.
"Oi, Kardia."
Kardia sedikit mendudukkan dirinya dan menemukan Milo sedang melihatnya bingung di pintu masuk. Di belakang Milo, Nona Gendut sedang memisuh-misuh menyuruhnya cepat masuk.
"Apa?" jawab Kardia sebelum menghempaskan diri ke sofa lagi. Milo berjalan menuju Ruang Bersama dan berdiri di samping seniornya itu.
"Aku dengar kau putus?"
BUK!
"Aduh!" seru Milo yang dilempar bantal telak di wajahnya. Ia lalu memungut bantal Kardia dan mendudukan dirinya di sofa single di samping sofa panjang Kardia. "Benar rupanya."
"Benar apa?"
"Benar kalau kalian putus. Pantas saja, Unity dari kelas empat mulai mengekor Degel kemana-mana, begitu juga seorang berambut pirang yang kutahu bernama Rada... Rada? Radameleng? Radamancing?" Milo bertanya-tanya bingung.
Kardia tiba-tiba duduk, membuat Milo sedikit terkejut. Ekspresinya campur aduk antara kaget dan horor. "Rhadamanthys, dari Slytherin?" tanyanya tidak percaya.
Milo mengangguk. "Ah, ya! Anggota trio Slytherin itu. Minos, Aiacos, Rhadamanthys. Kenapa?" tanyanya. Kardia langsung bersandar dan wajahnya terlihat cemas. Milo mengerutkan dahinya bingung. Kardia menengok pada Milo.
"Jangan pernah berurusan dengan Rhadamanthys, Milo. Apalagi dengan si kepala perak Minos. Tiga orang itu sinting. Gila. Aku pernah lihat sasaran Minos dengan sengaja dimantrai kutukan Imperium. Untung saja kali ini orang tidak waras itu jatuh kaki di kepala untuk Albafica. Tapi, Rhadamanthys... brengsek!!!"
"Woa, tenang-tenang," Milo berdiri dan mengangkat tangannya. "ada apa dengan si Rhadamanthys ini?"
"Rhadamanthys punya kecenderungan sadis."
"Dan kau masokis. Aku ta--
"Dan ia sudah mengejar Degel sejak pertama kali kami masuk ke sini."
Milo mengangguk, mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini. "Lalu?"
"Sudah pasti, dia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan Degel. Apapun, Milo. Apapun."
No comments:
Post a Comment