Yang Degel bingungkan, adalah kenapa ia bisa berdiam diri dan tidak mau pergi, mengesampingkan periode Transfigurasinya yang sudah mulai sejak tadi, dan malah mematung sambil membawa sekantong besar cokelat kodok hasil menyelundupkan dari dapur, di depan bangsal rumah sakit?
Baru saja tangannya menyentuh pintu, ia terbuka. Memperlihatkan sosok berambut merah-oranye keriting dan mata sewarna sama. Apollo menaruh satu tangannya di pinggang.
"Aku sudah menunggumu masuk sejak hampir dua jam yang lalu. Kenapa sih kau ini betah sekali berdiri seperti batu begitu?" ujarnya sambil mengisyaratkan perintah 'masuk'. Degel ragu-ragu, sebelum akhirnya melangkah masuk setelah ditatap galak oleh sang matron rumah sakit. Bangsal rumah sakit kosong, seperti biasa. Hanya ada beberapa tempat tidur yang terisi. Ia mengenali beberapa di antaranya adalah pemain Quidditch muda dari Hufflepuff yang tumbuh telinga kucing di kepalanya dan seorang lain yang dibebat sekujur tubuhnya--Degel mengenali mumi dadakan tersebut sebagai seorang Slytherin yang sudah lama menjadi duri dalam daging bagi Minos. Satu lagi tempat tidur yang terisi adalah tempat tidur yang paling hangat karena paling banyak kena sinar matahari. Menyembul dari selimut putih yang menutup sampai ke separuh kepala, untai-untai pirang keemasan yang bergelombang. Degel berhenti dua tempat tidur dari tempatnya berbaring, mengagumi bagaimana sinar matahari sore yang sedikit merah justru menambah kesan dramatis bagi surai emas itu.
"Kalau ke sini hanya untuk mengasihani saja, sebaiknya kau pulang."
Perut Degel seperti dililit ular kasat mata kala mendengar gumam tajam yang sedikit tenggelam. Genggamannya pada kantong cokelat mengerat. Ia menelan ludah gugup sebelum berjalan mendekati tempat tidur Kardia.
"Aku...dengar kau--
"Yayaya. Pergi sana."
"Kar--
"Pergi."
BRUK!
Kardia merasa punggungnya dilempar oleh sesuatu--banyak sesuatu--yang berbentuk kotak sebelum mendengar derap langkah Degel berlari melintasi ruangan, diikuti bunyi 'BAM' kelas ketika ia membanting pintu bangsal, memancing umpatan Apollo mengenai biaya perbaikan pintu. Kardia mengerang kesal sebelum berbalik dan melihat tumpukan kotak cokelat kodok berserakan di tempat tidur dan lantai di bawahnya. Ia lalu duduk dan menghela napas sebelum membuka satu bungkus. Diam beberapa saat, ia lalu memasukkan bulat-bulat satu bongkah cokelat itu ke dalam mulutnya, merasakannya lumer di dalam rongga mulut.
Manis, dan asin.
Karena rasa manisnya menghangatkan relung sekaligus meruntuhkan sisa-sisa pertahanan terakhir yang Kardia bisa lakukan untuk melupakan semuanya.
No comments:
Post a Comment