Saturday, 19 January 2013

Nicknames

"CIKA!"

Brak!

.
.
.

Sakit adalah hal pertama yang bisa Luca rasakan, seolah kakinya sedang diinjak gajah dan punggungnya barusan tertabrak kereta. Setiap tarikan napasnya merangsang serabut tipis saraf, memberikan persepsi nyeri tak terperi. Ia mengerang sedikit dalam usahanya memasok oksigen.

"Ka? Cika?"

Suara familiar terdengar sedikit berbisik di telinganya. Susah payah, ia akhirnya bisa membuka mata. Buram. Sepertinya kacamata bingkai merah yang biasanya setia bertengger di tulang hidungnya kini sedang berkhianat. Samar ia bisa melihat garis wajah manusia di atasnya. Rambut hitam ikal, mata coklat gelap, kulit sedikit kecoklatan. Luca kenal wajah itu.

"Ci...la?"

"Iya. Ini gue, Ka. Cika, astaga...Tuhan...terima kasih banyak," gumam Ciel. Kedua tangannya menangkup, menggenggam tangan Luca. Mulutnya tidak henti-henti mengucap kata syukur. Sementara itu, Luca memperhatikan sekelilingnya. Langit-langit putih, tiang besi, selang bening, cairan merah, cairan merah muda, cairan bening, bunyi ritmis bip-bip-bip, dan rasa sakit yang masih menjalar di setiap inci tubuhnya.

"Cil...gue...kenapa?"

Ciel mengusap matanya. "Lo ketabrak mobil, Luke. Udah, nanti aja ya ceritanya, lo sehat aja dulu."

Luca hanya bisa mengangguk. Mulutnya sedikit tertarik ke samping. "Tumben...manggil Cika."

Ciel tersenyum lebar dan mengelus dahi adik kembarnya itu. "Refleks. Udah lama juga lo ngga manggil gue Cila." Luca balas tersenyum sebelum memejamkan mata dan kembali masuk ke dalam dunia mimpi sementara tubuhnya memperbaiki diri sendiri.

.
.
.

No comments:

Post a Comment