Monday, 28 January 2013

Sense of belonging

"Itu temen lo?"

"Diem."

Dengus mengejek. "Temen ketika masih bebas. Makanya lo cepetan cari pacar."

"Lo tau sendiri gue ga mau punya pasangan. Bahkan nikah. Hell."

Mengangkat bahu. "Itu pikiran sempit, Luce. At least you need to be somewhere di mana lo merasa kalo you belong there."

Giliran Luca yang mendengus. "Belong? Orang yang nggak diharapkan di manapun macem gue? Penerimaan kayak gitu nggak ada dalam kamus hidup gue, Cil. Gue hanya akan diterima oleh diri gue sendiri. Salah gue sendiri juga, percaya sama orang, sampe jadi orang goblok gini."

"Ironis banget. Lo yang dulu ngajarin orang kalo percaya itu penting, tapi lo sendiri yang akhirnya jadi apatis sama lingkungan."

"Gue melakukan yang seharusnya. Peduli setan perasaan gue, hati kecil gue, diri gue mau se-kontradiktif apa, mau se-dusta apa. Yang penting di dunia ini apa sih? Pencitraan. Kalo gue bisa bikin citra anak baik yang perhatian sama temen-temennya, maka orang-orang akan at least menerima ego gue yang haus akan penerimaan.Tapi ketika mereka puas mengambil semua perhatian gue? They'll toss me like a trash. Buat apa melibatkan emosi untuk hubungan sesaat gitu?"


No comments:

Post a Comment