Thursday, 25 October 2012

Traffic Joy

Gelap, dingin, malam, suara derum mobil di kejauhan, sinar redup layar telepon genggam, kicau riuh orang-orang yang menunggu jalanan kosong.

Luca menengok sekali-sekali ke jalan raya yang terlihat dari depan pagar kompleks rumahnya. Antrian kendaraan bermotor sudah mengendap sejak tiga jam yang lalu, dan tidak ada tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat. Ia lalu kembali ke layar ponselnya, mengecek linimasa jejaring sosial, hanya untuk menemukan kicauan-kicauan para pekicau tentang macetnya jalan raya. Ber-cih pelan, ia lalu melanjutkan penjelajahannya di dunia maya sambil mengisi waktu luang.

"Luce."

Luca lalu mendongak, sedikit kaget, dan menemukan Celka di sana. Sama dengan dirinya, Celka juga salah satu dari begitu banyak orang yang pada akhirnya malas pulang sekarang dan lebih memilih menunggu saja. Di belakang mereka berdua, riuh ramai Ashra yang bermain gitar sambil separuh curhat terdengar samar.

"Apa?" tanya Luca, yang perhatiannya kini penuh pada Celka.

"Temenin beli makan."

Tanpa basa-basi, nggak liat-liat orang lain lagi males apa kagak. Kebiasaan.

"Yuk."

.
.
.

"Hahahahaha!!!"

Tiba-tiba Celka tergelak. Keras, kencang. Luca lalu mengerenyit, bingung.

"Kita kayak pasangan kekasih yang baru jadi lah!"

Kekasih? Hari gini masih bilang kekasih? "Terus, pake efek angin, ujan, sama bunga-bunga, sambil sok-sok salah tingkah," lanjut Celka, mengikuti arah perbincangan konyol di tengah udara dingin.

"Alah, lebay kamu," balas Celka, sembari mengerenyitkan dahi dan nyengir lebar.

.
.
.

Dan, dalam sekejap, sekejap saja, dinginnya berubah jadi hangat, dan Luca mengumpat dalam hati, menyumpahi hormonnya dan mensyukuri cahaya remang yang menyamarkan rona merah di wajah.

No comments:

Post a Comment