Jam pelajaran keempat selesai. Rombongan murid kelas lima dari beberapa asrama--Ravenclaw, Hufflepuff, dan Slytherin--berebut segera keluar dari ruang kelas Ramalan yang berwangi aneh setelah menghabiskan dua jam berusaha membaca daun teh. Degel adalah yang paling terakhir keluar, terima kasih pada Professor Hypnos yang sengaja menahannya.
"Degel!" panggil seseorang. Degel menoleh dan menemukan seorang pemuda berkulit pucat--lebih pucat dari anomali pigmentasi kulit Sir Hades--dengan rambut coklat jerami dan mata biru muda. Tahi lalat di bawah mata kiri dan senyum tipis khas-nya membuat pemuda dengan sweater kuning labu ini dapat dengan mudah dibedakan dari yang lainnya. Degel berhenti berjalan ketika ia menghampirinya.
"Halo, Albafica. Kau ikut kelas Ramalan?"
Albafica menggeleng pelan. "Tidak. Aku ada kelas Ramuan tadi. Lagipula, Ramalan bukan keunggulanku. Astronomi aku masih mengerti, tapi ramalan?" ujar Albafica, menggeleng lagi. Degel terkekeh.
"Habis ini apa?" tanya Degel sembari melangkah menuju Aula Besar, diikuti oleh Albafica di sampingnya.
"Selesai. Nanti jam keenam ada Herbologi. Aku ada waktu satu periode kosong. Kau?"
"Sama. Transfigurasi baru ada di periode ketujuh."
Albafica tersenyum--agak--lebar. "Transfigurasi minggu ini mengubah tikus menjadi teko dan mengembalikannya seperti semula. Kalau ada waktu lebih, kau bisa belajar mengubah marmut jadi gelas."
"Oh ya? Sepertinya seru. Sebaiknya aku belajar dulu sebelum masuk kelas," gumam Degel sebelum masuk ke dunianya sendiri. Albafica tersenyum tipis, memaklumi tingkah--hampir semua--anak Ravenclaw. Sekitar lima belas anak tangga sebelum mereka sampai di koridor depan Aula Besar, sepasang tangan yang besar memeluknya. Untai-untai rambut perak jatuh ke bahunya.
"Minos!" seru Albafica kaget, membuat Degel kembali ke dunia nyata dan melihat Minos sedang memeluk Albafica. Sweater abu-abu yang dikenakannya pas dengan warna rambutnya yang perak-platina. Matanya yang berwarna hampir abu-abu melirik Degel jahil.
"Halo, Degel! Sendirian saja?" sindirnya sambil nyengir lebar macam Chesire Cat. Kedua tangannya masih memeluk Albafica--yang mukanya merah total dan memberontak heboh.
"Bersama Albafica, kalau kau memperhatikan. Tapi sepertinya fokusmu hanya pada Albafica, ya?" balasnya. Albafica sendiri sudah menyerah melepaskan diri dari Minos dan kini balas menggenggam tangannya.
"Tentu saja," Minos melepas satu tangannya dan memindahkan tangan lainnya ke pinggang Albafica. Albafica merespon Minos dengan sedikit bersandar di torso bidang Keeper Tim Quidditch Slytherin tersebut. Degel--tidak mau mengakuinya, demi harga dirinya yang terlalu tinggi--merasa panas dengan adegan mesra di hadapannya. Biasanya kalau sudah begini, selalu ada Kardia yang--
Degel menggeleng tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Albafica bingung sementara Minos tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Degel. "Kenapa?" kali ini ia bertanya pada Minos.
"Berhenti tertawa, Minos," geram Degel, yang justru memancing gelak tawa Prefek Slytherin itu semakin keras. Degel mendengus kesal.
"Berhenti berada dalam fase denial, Degel," ujar Minos setelah akhirnya selesai tertawa. Ia menggosok ujung matanya, menangis saking hebohnya tertawa. "Menurut Madam Artemis, denial adalah fase paling awal dari jatuh cinta. Nah!" serunya, menunjuk hidung Degel. Degel segera menepis tangannya dari wajah.
"Aku tidak denial, Minos, dan aku tidak mengerti tentang apapun yang baru saja kau katakan."
"Oh, ya. Kalau begitu aku ingin tahu apa reaksimu kala mendengar Kardia masuk bangsal rumah sakit karena pingsan di kelas Arithmancy barusan."
"Eh?!"
.
.
.
"Santai saja, Kardia. Aku sudah memberitahu Professor Hades tentang keadaanmu. Hanya saja, setelah keadaanmu membaik, ia memintamu datang ke kantornya," ujar Sir Apollo, penjaga bangsal rumah sakit. Rambut merah keriting gantung-sedikit afronya bergoyang-goyang lucu ketika ia membetulkan selimut Kardia.
"Sir," ujar Kardia lemah.
"Ya?"
"Aku mau cokelat kodok," candanya dengan cengir lebar di wajah, meski rona wajahnya masih pucat. Apollo menghela napas pendek sebelum mengusap kepala Kardia--memberantaki rambutnya yang sudah berantakan.
"Nanti aku bawakan kalau kau sudah istirahat. Sekarang tidur saja dulu," ujarnya sambil berjalan menjauhi tempat tidur Kardia dan masuk ke kantor penjaga bangsal. Selepas kepergian Apollo, Kardia berguling ke samping, memunggungi pintu masuk dan menggenggam kedua tangannya sendiri. Dingin dan pucat aneh. Ia lalu tersenyum ironis dan menarik selimut menutupi setengah kepala lalu memejamkan mata.
.
.
.
Degel....
No comments:
Post a Comment