Ruang Bersama Slytherin yang didominasi hijau. Hijau di jendela, hijau di langit-langit, hijau di dasi dan rompi rajut, hijau di beludru pembungkus sofa, hijau iris mata.
Kalau Saga tidak ingat pemuda bermata hijau di hadapannya ini adalah senior, mata hijaunya sudah ia lempar dengan buku Ramuan yang sedang ia genggam saat ini.
"Mengerti, Saga?" tanyanya angkuh. Nada mencemooh tidak bisa lepas dari cara bicaranya. Saga menghela napas. Orang di depannya ini mengingatkan ia pada seorang Gryffindor keras kepala.
"Tidak, Rade. Kau menyuruhku menjauhkan Kardia dari Degel? Seperti yang sudah kau lihat, tanpa campur tanganku pun mereka sudah berpisah."
Rade--Rhadamanthys--mendengus pelan sambil tersenyum meremehkan. "Ah, ya. Seharusnya aku berterima kasih padamu untuk hal ini."
Saga mengerutkan kening. "Maksudmu?"
Rhadamanthys hanya terkekeh geli. "Well, sampaikan terima kasihku pada Kanon, kalau begitu."
.
.
.
"Aduh!"
"Tidak usah aduh-aduh! Gara-gara kau!"
"Ap--Duh!!!"
"Diam dan terima saja jitakanku, Kanon!" seru Saga. Semua mata sudah terfokus pada mereka berdua sejak awal kegiatan makan malam. Begitu Saga sampai di Aula Besar, ia langsung menuju meja asrama Ravenclaw, mencari Kanon, dan menjitaknya dengan keras tanpa basa-basi. Siswa lain hanya menonton saja, terutama siswa kelas dua keatas. Terbiasa dengan kelakuan konyol dan pertengkaran ekstrim dari dua bersaudara yang lahir di bulan Juni ini.
"Ikut aku!" perintah Saga--setelah puas menjitak, mencubit, dan menjewer Kanon--sambil menariknya dari Aula Besar dan menggiringnya agak jauh dari mata-mata dan telinga-telinga yang penasaran.
"Apaan?!" seru Kanon.
"Apaan?! Kau masih bertanya apa?! Di mana sih otakmu?!"
"Di sini!" seru Kanon, menunjuk kepalanya. Saga lalu membalas jawaban Kanon dengan menempeleng kepala pirang si adik.
"Otakmu di dengkul!"
"Biar! Daripada kamu, otaknya ngambang di danau! Apaan sih?!" sengit si adik, yang sama-sama bersumbu pendek.
"Kardia dan Degel! Jangan pura-pura tidak tahu!"
Ekspresi Kanon berubah. Total. Dari marah dan kesal jadi kaget dan salah tingkah. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke kanan dan Saga paling tahu sekali kebiasaan adiknya ini kalau ketahuan berbuat salah.
"Kau penyebab mereka putus." Saga membuat pernyataan.
"Bukan!" Kanon membantah. "Bukan! Bu...kan?" lanjutnya tidak yakin. Saga ber-cih pelan. "Aku... Degel adalah mentorku. Aku hormat padanya, Saga. Aku juga sangat hormat pada Kardia. Sungguh, percaya padaku," mohon Kanon, menggenggam satu tangan Saga.
"Lalu kenapa Rhadamanthys malah menitipkan 'terima kasih' padamu dalam pembicaraan kami mengenai Kardia dan Degel?" tuntut Saga. Kanon menelan ludah, gugup.
"Aku... aku suka pada Milo, Saga."
Dari marah besar menuju kesal. Dilanjutkan pada kecewa dan menuntut. Sedetik kemudian, Saga melempar ekspresi tidak percaya. Saga memang pantas memiliki julukan 'Si Wajah Banyak'. "Milo?" tanyanya, ragu. Kanon mengangguk.
"Ya. Dan saat itu aku berlatih menyatakan cinta--aku tahu! Aku tahu ini absurd tapi tolong jangan potong dulu bicaraku!" seru Kanon saat Saga berniat berkomentar. Saga buru-buru menutup mulutnya dan membiarkan Kanon melanjutkan.
"Tapi aku lupa, kalau Kardia adalah orang dengan sumbu seratus kali lebih pendek darimu. Di saat yang sama aku berlatih, dia muncul. Melihat aku menyatakan cinta pada Degel. Dan mereka bertengkar hebat hari itu, dan selanjutnya yang aku tahu Kardia menonjok dinding dan hampir mengumpanku ke cumi-cumi raksasa di danau," jelas Kanon lemas ketika mengingat ngeri yang dialaminya saat ia digantung terbalik di atas danau dan tentakel cumi-cumi hanya tinggal satu senti dari tubuhnya.
"Harusnya kau diceburkan saja sekalian, biar diculik Mermaid."
Kanon menghela napas, merapatkan gigi. Dia lebih siap dihajar habis oleh Saga daripada disuruh mati begini. "Aku... aku sudah minta maaf pada... Degel."
"Lalu?"
"Lalu tidak ada."
Saga dan Kanon menoleh, menemukan satu dari dua objek pembicaraan mereka sedang berdiri bersandar di pilar terdekat. Mata hijaunya kontras dengan dinding batu coklat-hitam. Satu tangannya membawa teko jus labu dan tangan lainnya membawa sepiring penuh pai apel.
"Tidak ada. Kanon tidak salah, jadi tidak ada yang perlu kumaafkan. Cepat atau lambat, dengan keadaan kami yang seperti ini, semuanya akan berakhir, Saga. Kau tidak perlu marah begitu pada Kanon," ujar Degel lembut. Kanon meremas ujung kemejanya yang tidak dimasukkan.
"Tapi--
"Saga!"
Kali ini Saga menoleh ke sumber suara lain selain Degel dan Kanon. Kardia berdiri agak jauh dari mereka bertiga. Satu tangannya masuk ke saku celana. Ekspresinya malas. Ia lalu berjalan mendekati mereka bertiga.
"Kardia," lirih Kanon, sebelum secara tidak sadar bergerak ke balik punggung Saga. Meminta perlindungan.
"Oi, kalian bertiga. Berisik sekali. Terdengar sampai pintu aula. Oh, halo Degel."
"...halo."
"Kardia, aku minta maaf," sela Saga. Kardia lalu menoleh ke arahnya. Ia tersenyum singkat dan mengacak rambut Saga.
"Aku sudah lebih dari puas melihat ekspresi Kanon di depan mulut cumi-cumi. Ya, Kanon?" cengir Kardia. Sebaliknya, Kanon semakin bersembunyi di balik punggung Saga. "Well, aku perlu bicara berdua saja dengan Degel. Bisa kalian pergi?" lanjutnya. Saga dan Kanon saling pandang sebentar sebelum berpaling pada Degel, yang mengangguk pelan. Segera, dua anak kembar itu angkat kaki dari tempat perkara sebelum Kardia hilang kendali diri dan mengumpan mereka pada monster apapun yang dimiliki oleh Professor Hermes di Hutan Terlarang.
Setelah Saga dan Kanon hilang dari pandangan, atmosfer ringan yang sedetik lalu ada langsung diganti oleh sesak yang tidak terelak. Mimik wajah Kardia biasa saja tapi Degel tahu, sangat tahu sekali, bahwa otaknya sedang entah ada di mana. Tak lama Kardia berbalik padanya, menatap Degel tepat di mata. Intens, tajam, menuntut, kesal, marah. Degel terjebak dalam gelombang emosi yang tidak terucap.
Lalu Kardia tersenyum.
"Aku mencintaimu."
Dan sedetik kemudian Kardia angkat kaki dari hadapan Degel. Lima langkah kemudian Degel merasa wajahnya panas. Baru satu menit setelahnya, Degel berbalik dan menatap arah Kardia pergi, berharap melihatnya berdiri menunggu. Tapi tidak ada siapapun di sana. Tidak bahkan seutas pirang keemasan milik Kardia.
Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku--
Sudut matanya lalu basah, merasakan pecahan tajam hati yang sudah ia buang namun kembali diberikan padanya.
No comments:
Post a Comment