disclaimer:
Saint Seiya - Masami Kurumada
Harry Potter - J.K. Rowling
.
.
.
Kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam kali ini diikuti oleh anak kelas satu dari dua asrama, Gryffindor dan Slytherin. Dua asrama yang, memang, selalu bertengkar memperebutkan apa saja setiap harinya. Hari ini pun tampaknya tidak lepas dari keadaan tersebut.
"Pirang bloon! Myoahahahahaha!!!"
"Kurang ajar! Minggir, Lia, biar kucincang tukang topeng sinting ini!"
"Sinting? Ha! Lebih baik sinting daripada lemah otak. Myoahahahaha!"
"Angeloo!!!!!"
"Anak-anak."
Suara bernada rendah yang tiba-tiba muncul membuat semua perhatian tertuju pada sumbernya. Pria dengan usia tidak lebih dari tiga puluh tahun, dengan rambut hitam legam sepekat malam dan warna mata yang sama kelamnya. Kulitnya putih pucat, seperti tidak pernah kena sinar matahari. Karisma dan wibawanya seperti menguar di udara hanya dengan keberadaannya saja. Milo terpaksa menghentikan usahanya keluar dari cengkeraman Aiolia untuk menghajar Angelo.
"Seperti yang kalian ketahui, ini adalah kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, bukan kelas gulat. Kalian bisa bertengkar dan saling hantam di pinggir danau sepuas yang kalian mau, tapi tidak di sini. Mengerti?" Belasan kepala mengangguk. "ada yang mau kau tanyakan sebelumnya, Milo dan Angelo?"
Banyak pasang mata menoleh ke arah pemuda Gryffindor bersurai keemasan dan seorang Slytherin muda berambut perak. Cengir lebar muncul di wajah Milo. "Em, aku belum tahu namamu, Sir."
"Namaku Hades. Kalian bisa memanggilku Professor Hades, atau cukup Sir saja. Ada lagi, Milo?" jawab Hades, dengan ekspresi datarnya menyihir setiap orang di dalam kelas. Kecuali seorang pirang yang kita semua kenal.
"Ya. Kenapa tirainya ditutup?"
Aiolia menyenggol Milo.
"Karena aku ingin kalian bertemu dengan makhluk ini." Hades menggoyangkan tongkat sihirnya, membuat sebuah sangkar melayang ke depannya. Dengan satu gerak cepat, ia melepas kain yang menutupi sangkar, memperlihatkan isinya.
"Hydra, ular berkepala delapan. Tatapannya tidak membuat seseorang menjadi batu dan gigitannya tidak mematikan seperti Basilisk, namun cukup merepotkan karena kau harus membunuh semua kepalanya dalam sekali serang kalau tidak mau delapan ini jadi dikali tiga untuk setiap kepala yang kau bunuh. Pelajaran hari ini adalah bagaimana melakukan serangan masif sekaligus. Terkadang kau akan dikepung oleh lebih dari dua orang penyihir tangguh dan menyerang keduanya bersamaan adalah satu-satunya opsi yang kumiliki. Keluarkan tongkat sihir kalian, kita mulai pelajaran hari ini."
.
.
.
"Milo, untung saja Professor Hades tidak mendetensimu. Seru sekali, hari pertama di sekolah dan kau sudah kena detensi," ujar Aiolia di sela-sela kunyahannya. Milo nyengir, karena kehebatannya bebas dari detensi dan kagum karena Aiolia bisa bicara dengan intonasi jelas meski mulutnya penuh pai ayam.
"Sebenarnya aku tidak benar-benar lepas dari detensi. Setiap malam aku diharuskan membantu Sir Hades merapikan gulungan perkamen, pena, dan buku-buku di ruang kerjanya, selama seminggu. Tapi nilai asrama kita tidak dikurangi, jadi aku senang-senang saja."
Aiolia menepuk jidatnya sendiri. "Jangan lupa pada PR-mu."
"Iya iya. Omong-omong, mana Aiolos? Terakhir aku bertemu dengannya waktu dia mengantar kita ke Ruang Bersama."
Aiolia mengangkat bahu. "Dia memang sibuk. Quidditch, anggota Komite Siswa, Klub Panahan, dan banyak lainnya."
"Juara umum juga. Hebat sekali, kakakmu itu." Milo meneguk jus labu banyak-banyak.
"Yah, dia kakakku. Wajar saja," dengus Aiolia bangga. Milo memutar matanya. Ia lupa kalau teman sekamarnya ini adalah seorang brother-complex tingkat kronis.
"Baru saja diomongin. Itu Aiolos," ujar Milo, menunjuk pintu Aula Besar. Seorang pemuda berambut coklat tua dan wajah mirip Aiolia masuk kelas. Tanpa jubah hitam yang banyak dikenakan oleh hampir seluruh siswa, vest merahnya mencolok. Langkahnya santai dan mantap ketika berjalan melintasi aula. Senyum Aiolia melebar dengan kecepatan ekstrim ketika melihatnya berjalan ke arahnya.
"Kakak!"
Aiolos tersenyum mendengar sapaan Aiolia. Segera ia melangkah menuju tempatnya duduk. "Halo, Aiolia, Milo. Bagaimana hari pertama kalian di sini?"
"Seru!" jawab Milo, lalu ia mulai menceritakan pelajaran dari Professor Hades, detensinya, pertengkarannya dengan Angelo, dan banyak lagi. Aiolia, tidak mau kalah, juga menceritakan hal-hal yang terjadi di asrama. Tentang Milo yang ribut ingin tidur dekat jendela, sampai Kardia dari kelas lima yang berantem dengan pacarnya.
"Kardia dan Degel bertengkar lagi? Kenapa sih mereka berdua tidak pernah akur," ujar Aiolos sambil menghela napas panjang.
"Beda asrama!" sembur Milo seenaknya mengambil kesimpulan.
"Albafica dari Hufflepuff dan Minos dari Slytherin saja adem-ayem begitu," balas Aiolia. Aiolos mengerutkan dahinya.
"Kau baru sehari di sini, tapi sudah tau gosip-gosip begitu?" tanya siswa kelas tiga itu pada adiknya. Aiolia nyengir lebar.
"Kau boleh berhasil di bidang akademik, Kak. Tapi aku jelas lebih maju dalam hal informasi," ujarnya bangga. Aiolos menjawab pernyataan Aiolia dengan mengacak-acak rambut sang adik. Melihat pemandangan hangat ini, Milo meresponnya dengan memasukkan satu potong pai labu bulat-bulat ke dalam mulutnya.
"Kau makan melulu seperti babi, Milo."
Milo mendongak dan menemukan seorang siswa dengan kemeja putih dan dasi hijau-perak berlambangkan ular di ujung bawah sedang berdiri di belakangnya. Rambutnya pirang dan matanya biru, mirip Milo namun dengan garis wajah yang berbeda.
"Saga," panggil Aiolos.
"Yo. Hanya mau mengembalikan buku Transfigurasi saja," ujarnya pada Aiolos, seraya menyerahkan buku tebal. "Terima kasih sudah menyelamatkanku dari detensi."
"Sama-sama," jawab Aiolos singkat. Senyum tipis tidak lepas dari wajahnya. Begitu juga dari wajah Saga. Aiolia dan Milo saling pandang lalu nyengir lebar.
"Yak, kami permisi dulu. Habis ini ada Ramuan dan aku tidak mau menambah detensi." Milo segera membereskan barang-barangnya dan pergi dari aula.
"Aku juga. Lebih lagi, aku tidak mau menjadi nyamuk di antara dua orang yang sedang pacaran. Dah!" lanjut Aiolia sambil berlari menyusul Milo, setelah sebelumnya mengedip jahil pada Aiolos, membuat sang kakak merona tipis. Saga menggaruk kepalanya.
"Well, karena sudah ada persetujuan dari adikmu, habis ini kau ada kelas? Temani aku ke Hogsmeade?"
"Traktir aku Butterbeer?"
Saga mengangguk singkat. "Tentu. Ayo," ujarnya sambil mengulurkan tangan.
.
.
.
No comments:
Post a Comment