Tuesday, 18 September 2012

Years of Youth #6

"Incendio!"

DUAR!

Asap mengepul dari kotak kayu yang terbakar oleh api dari tongkat Kardia. Rambut ikalnya agak bergoyang karena angin hasil ledakan. Senyumnya menggantung lebar di wajah.

"Brengsek! Kardia! Apa parametermu untuk kategori berbahaya?!" sengit Manigoldo, lawannya. Kardia hanya nyengir lebar.

"Jangan banyak alasan! Lawan aku atau menyerah! Diffindo!" seru Kardia. Untung, Manigoldo sempat menghindar. Kalau tidak, tubuhnya sudah jadi serpih, seperti kotak kayu malang di belakangnya.

"Brengsek. Tallantalegra!" jerit Manigoldo.

"Protego! Canis Oppugno!" seru Kardia, memunculkan sekawanan anjing dan memerintahnya menyerang Manigoldo.

"Ck! Impediment--

"Levicorpus!"

"ARGH!" seru Manigoldo ketika sesuatu yang kasat mata menarik satu pergelangan kakinya, membuatnya jatuh, lalu menggantungnya di satu kaki, membuatnya melayang di udara. Di dekat kepalanya, anjing-anjing lapar menggonggong dan mengatup-ngatupkan rahangnya berbahaya. "Kardia!" serunya. Panik. Tongkat sihirnya jatuh terlempar.

"Aku menang lagi. Minta traktir apa ya, kali ini?" ujar Kardia sembari mengetuk-ngetukkan jari di dagu, berpikir. Ia lalu menghilangkan anjing-anjing dan menurunkan Manigoldo dengan senyum paling lebar--dan menyebalkan--tersungging di wajah.

"Kau mau membunuhku, hah?!" jengit Manigoldo setelah menenangkan diri dan kembali di atas kedua kakinya.

"Oh, itu fungsi Klub Duel ini, bukan? Mempersiapkan anggotanya dalam duel hidup-mati sesungguhnya."

Manigoldo menggeretakan giginya dan berjalan ke pinggir arena, sambil menggerutu dan menyumpah kesal. Kardia juga berjalan menuju teman-temannya, Milo, Aiolia, Aiolos, dan Regulus.

"Hebat! Hebat!" seru Milo kesenangan, melakukan standing applause. Kardia membungkuk a la pangeran. Senyum masih tersungging lebar di wajah. Ia lalu mengacak-acak rambut Milo dan duduk di sampingnya. Setelah beberapa teguk air, ia menengok ke arah Regulus.

"Bagaimana aksiku tadi, Ketua?"

Regulus nyengir lebar. "Bagus. Efektif dan mematikan. Kurasa kau siap dilempar ke Azkaban dan bertarung di sana."

Gelak tawa meluncur dari mulut Kardia. "Aku belum menguasai mantra Patronus. Azkaban lain kali saja ya."

"Bahagiamu sudah hilang, sih, ya?"

Tawa Kardia berhenti ketika mendengar celetuk tajam dari Shura. Murid kelas satu itu hanya menatap kosong ke depan sebelum akhirnya menyadari seniornya itu menatapnya intens. "Apa?"

Kardia lalu berdiri. "Tidak. Aku duluan," ujarnya singkat sebelum pergi dari ruang Klub Duel dan melempar isyarat maaf pada Manigoldo. Selepas kepergian Kardia, Milo langsung menendang tulang kering pemuda berambut hitam legam itu.

.
.
.

"Ah."

Kardia mendongak dan menatap suara yang menyita perhatiannya. Manik hijau yang tersembunyi di balik kacamata dengan bingkai merah. Rambut coklat gelap yang halus dan diikat rapi. Rompi biru tua yang kontras dengan kemeja lengan pendek putih di baliknya.

Degel.

"Yo," sapanya sambil lalu. Dari sudut matanya, ia bisa melihat gelagat aneh Degel. Setelah beberapa langkah, ia berbalik dan menghadap Degel. "Apa?"

Degel menghindari kontak mata dengannya. Jari tangannya menggenggam erat buku tebal yang sedang dibawa. "Tidak. Tidak ada."

Kardia menahan pertanyaan yang siap meluncur di ujung lidah. Gantinya, ia mengangkat bahu dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju Menara Gryffindor. Setelah yakin kalau Degel juga sudah pergi, ia berbalik dan menatap ke tempat barusan Degel berdiri.

'Apa kabar? Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah makan? Oh ya, tadi aku menang lawan Manigoldo, dan Regulus menyuruhku ke Azkaban! Bayangkan, Azkaban!'

Kardia membuang napas panjang sebagai ganti kata-kata yang tidak jadi keluar dari mulutnya. Semua sudah selesai.

Semua sudah selesai, Kardia. Selesai.

No comments:

Post a Comment