disclaimer
Harry Potter : J.K. Rowling
Saint Seiya : Masami Kurumada
.
.
.
Sabtu ketiga bulan keenam, Hogsmeade. Murid-murid mulai dari kelas tiga sampai tujuh memenuhi desa kecil itu, berdesak-desakan di pub kecil dengan bergelas-gelas Butterbeer, memilih-milih mainan, atau mengantri di toko permen. Apapun itu, untuk memenuhi hasrat masa muda.
Tidak terkecuali seorang Ravenclaw bermata hijau, Degel, yang sedang duduk sendirian di Three Broomsticks. Sendirian. Segelas Butterbeer di hadapannya sudah habis setengah. Ia sendiri menopangkan dagu di satu tangan dan menatap ke luar jendela, menghela napas berkali-kali dalam setiap kesempatannya.
Sudut matanya lalu menangkap satu sosok. Rambut pirang dan mata biru yang menjulang tinggi. Di sampingnya, versi mini si pirang sedang melompat-lompat kegirangan dan mengacung-acungkan sapu terbang barunya.
Kardia.
Degel terus mengikuti sosok Kardia yang berjalan melintasi Three Broomsticks. Taruhan lima Galleon, Kardia tahu ia ada di dalam pub. Degel menghela napas panjang. Ada sesak muncul saat mereka berpapasan di sekolah tapi tidak saling tegur sapa. Bahkan, Kardia terlihat jelas sekali menghindari kontak apapun dengannya. Degel menyandarkan kepalanya ke jendela.
Memang, sih, dia yang memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Dan sekarang dia juga yang merasa kehilangan? Oh, tidak. Harga dirinya yang kelewat tinggi tidak akan mengizinkan hal itu sampai terjadi.
"Kosong?"
Mendongak, menemukan Kanon dan dua gelas Butterbeer berdiri di samping mejanya. Di kasir, Saga, kembarannya, sedang membayar minuman yang mereka pesan.
"Ya."
Kanon membuang napas dan tersenyum. "Syukurlah. Ini kali pertama aku ke Hogsmeade, dan tempat ini penuh sekali. Apa memang selalu seperti ini?" tanyanya setelah duduk.
"Selalu. Akan semakin penuh menjelang Natal dan Tahun Baru, dan beberapa hari perayaan lainnya," jelas Degel.
"Yo, Degel! Sendirian saja?" sapa Saga. Ia lalu menarik kursi dan duduk di sebelah Kanon. Kalau sedang duduk sebelahan begini, sulit untuk membedakan siapa yang mana, mana yang siapa. Keduanya sama-sama berambut pirang, garis wajahnya juga sama, begitu juga kelakuannya. Hanya saja, Saga lebih radikal sementara Kanon lebih diplomatis. Kalau soal nekad, ia pernah melihat dua orang ini lari-lari di sepanjang koridor karena menjahili hantu mengerikan dari asrama Slytherin, menabrak penjaga sekolah, lalu didetensi membersihkan toilet selama sebulan. Hal lain yang membedakan keduanya adalah, Saga bermata biru sementara Kanon bermata hijau-biru, dan Saga dari Slytherin sementara Kanon dari Ravenclaw. Namun, dua orang sableng ini sering memakai lensa kontak dan bertukar seragam, mengecoh guru dan teman-teman seasrama mereka. "Mana Kardia?" lanjutnya.
Oh, satu perbedaan lain. Saga lebih lemot dibanding Kanon.
"Aw! Apa sih, menginjak kakiku segala?" seru Saga, melotot tidak senang pada Kanon. Yang dipelototi hanya memberi tanda-tanda dan mengedikkan kepalanya ke arah Degel. "Apa?!" tanya Saga. Degel tersenyum tipis.
"Aku dan Kardia sudah putus, Saga."
Saga menoleh ke arah Degel, lalu ke arah Kanon, begitu selama beberapa menit sebelum membuka mulutnya. Untung Kanon sempat menutup mulut si Slytherin muda itu sebelum kekagetannya menarik perhatian ke meja mereka.
"Serius? Sungguh? Demi apa?" rentet Saga. Kanon menempeleng kepala kakaknya.
"Nggak usah alay!"
"Heh, yang kusebut barusan itu adalah versi bahasa bakunya. Perlu kubilang 'ciyus', 'cungguh', dan 'miap--
"Kubilang jangan alay!" sembur Kanon. Wajahnya merah, malu. Orang-orang di sekelilingnya mulai bisik-bisik. Saga hanya mengerucutkan mulutnya, sembari tersenyum jahil.
"Tapi, serius kalian putus? Bukannya Kardia sangat jatuh cinta padamu? Aku sampai kesal sendiri saat ia teriak-teriak di telepon waktu libur musim panas, laporan padaku kalau kalian akhirnya jadi. Belum juga segala kegalauannya selama dua tahun pertamaku. Aku sampai hapal sendiri apa hobimu, bagaimana caramu makan, kebiasaanmu membetulkan kacamata, dan lainnya," misuh Saga. Kanon mengangguk-angguk.
"Dan karena Saga tidak punya tempat sampah, maka aku yang jadi tempatnya memisuh. Tapi, Saga, sudah tahu Kardia mengesalkan begitu, kenapa masih mau berteman dengannya?"
"Kardia itu tipe orang yang tidak akan mau kau jadikan musuh, Kan. Percaya padaku."
"Oh, begitu? Badut konyol begitu?"
"Sekarang ditambah Milo pula. Bisa kubayangkan, betapa hebohnya asrama Gryffindor sekarang," Saga menghela napas. Kanon menepuk-nepuk pundak saudaranya, simpati. Saga dan Kardia sudah kenal sejak tahun pertama mereka di sekolah, lewat di Klub Duel. Keduanya sering adu mulut, adu otot, dan semuanya selalu diakhiri gelak tawa dan pesta pai labu hasil selundupan. Sejak itu, setiap ada waktu, Kardia maupun Saga selalu menyempatkan diri bertemu di Aula Besar atau menyelundup masuk ke dalam asrama satu dan lainnya, untuk sekedar mengobrol santai atau berdebat sengit, atau menggosip, atau menggalau--meski yang terakhir adalah hobi Kardia. Degel memperhatikan obrolan dua orang di hadapannya sambil sesekali meneguk minumannya.
Kardia. Sejak awal kelas dua, perhatian Kardia padanya memang terlihat berlebihan. Dengan sengaja, Kardia mengambil kelas-kelas yang sama dengannya, tidak peduli betapa tidak sukanya ia dengan Rune Kuno. Menunggunya pulang setelah selesai kelas Ramalan--yang tabrakan jadwal dengan kelas Arithmancy yang diambil Kardia, menemaninya berjam-jam di perpustakaan, dan menyelundupkan puding coklat dari dapur untuk menemaninya belajar. Hal-hal remeh, tapi Degel sendiri bukan orang yang peka. Lebih lemot daripada Saga, sebenarnya. Setelah dua tahun mengira-ngira kenapa Kardia sebegini baik padanya, dan dengan satu tempeleng keras di kepala dari teman seasramanya, Manigoldo, baru ia tahu kalau Kardia suka padanya.
Jatuh cinta, tepatnya.
Lalu, pada tahun keempatnya di sekolah sihir ini, barulah ia merespon sikap Kardia, dan mulai memberikan perhatian-perhatian kecil untuk si manusia kelebihan energi itu. Mengesampingkan ketidaksukaannya dengan duel, ia menonton pertandingan kecil-kecilan Kardia di Klub Duel. Menemaninya di bangsal rumah sakit kalau penyakit lamanya mulai kambuh, menggenggam tangannya sementara Kardia berjuang melawan rasa sakit, dan merasa sangat khawatir saat Beater dari Tim Quidditch itu melepas kedua tangannya dari sapu atau bergelantung dengan satu tangan untuk memukul bola atau terlempar dari sapu karena dihantam bola.
Oh, oh. Muncul lagi, sesak aneh yang terus muncul sejak mereka berpisah.
Selama itu Kardia melakukan pendekatan, dan secepat ini dia memutuskan untuk berpisah.
Untuk yang kesekian kalinya, Degel menghela napas. Saga dan Kanon masih mengobrol panjang lebar di hadapannya. Untuk pertama kalinya, ia merasa sepi tanpa kehadiran Kardia di sisinya.
No comments:
Post a Comment