Monday, 14 January 2013

Blue Roses #2

DUAR!

DUAR!

PRAK!

BRAK!

"Kapten! Bola meriam kita hampir habis!"

"Manigoldo! Putar kemudi! Kita pakai cara lama!" seru Ilias kepada pemuda yang ada di balik kemudi kapal. Ia lalu menyeringai lebar dan berseru tidak jelas sambil memutar cepat kemudi. Ilias sendiri mencabut pedang melengkung dari pinggangnya. Mata birunya berkilat.

"Anak-anak! Habisi mereka semua!!!"

"Aye, Kapten!!!"

.
.
.

"Jadi?"

"Jadi?" tanya Kardia polos.

"Jadi?" ulang Degel lagi. Matanya marah. "Satu tiang kapal, satu marinir tercebur ke laut, satu tong makanan mereka jadi santapan ikan, dan kapten kapal diikat terbalik di dek hanya dengan celana panjang."

"Err...ya?"

"Padahal kau tahu, maksud Kapten 'cara lama' adalah apa?"

Kardia memutar matanya, berpikir. Kakinya bergoyang-goyang, wajahnya benar-benar polos seperti anak kecil kebingungan tapi Degel tahu persis apa yang ada di dalam kepala pemuda berambut biru tua itu. Tanpa basa-basi, ia menjitak kepala sang ujung tombak serangan mereka.

"Cara lama itu adalah buang semua meriamnya ke laut, potong semua layarnya, buat mereka lumpuh! Bukan membuat mereka sengsara dan mati di tengah laut! Dasar si bodoh yang berasal dari pulau bodoh dan yang terbodoh di antara yang paling bodoh!" umpatnya sebelum pergi sambil menghentak-hentak kaki, meninggalkan Kardia termenung bingung.

"Bodoh dari yang paling bodoh di antara yang ter-- hei! Degel! Apa maksudnya itu?!"

1 comment:

  1. kardidi di sini gak galau tapi bodoh-nya keterlaluan. dan oh... degel ku sayang... kata-kata mu kejam sekali ya? sadis... yup no comment but is fic so awesomeness...

    #Lizzy#

    ReplyDelete