"Aku tidak tahu kalau kau ternyata setipe dengan Aphrodite dari Ravenclaw. Freak belajar."
Milo menoleh cepat dan menatapnya tajam. "Enak saja! Kalau bukan karena Sir Thanatos tidak puas dengan aku mentransfigurasi teko jadi siput..." gumamnya lirih, tidak jelas, memisuh-misuh.
Aiolia tergelak. "Habisnya! Kita 'kan disuruh mengubah teko jadi tikus."
"Aku kepinginnya merubah teko jadi siput, Li!" bantah Milo, tidak mau kalah. "Lagian, kamu nyamain aku sama si bencong komentator dari kelas dua itu? Tersinggung nih," lanjut Milo sambil memaju-majukan bibirnya. Melihat tingkah laku sobatnya, Aiolia hanya tertawa guling-guling di atas kasur.
"Hahaha, habis sikap kalian sama! Sama-sama bocah! Untung kamu ngga ketularan bencong!" serunya kencang sebelum berlari keluar dari kamar, menghindari lemparan asbak dan rentetan sumpah-serapah serta Mantra Geli yang dilancarkan oleh Milo.
.
.
.
London, Inggris.
Salju turun besar-besar, menumpuk-numpuk di setiap jejak tanah. Putih menutupi atap, jalanan, kotak telepon umum, ranting pohon, dan lampu jalan. Orang-orang berjalan dengan jaket tebal menutupi tubuh dari leher sampai bawah lutut. Sepatu bot bulu serta sweater tebal jadi salah satu most-wanted-item paling trendi di kota ini. Begitu pun Milo. Setelah berjam-jam perjalanan menggunakan kereta, disambut oleh udara yang menggigit tulang seperti ini jelas tidak jadi salah satu opsi yang menyenangkan. Ayahnya tidak bisa datang menjemput karena terjebak urusan di Kementerian Sihir, begitu pula ibunya yang sibuk menjaga rumah dan adiknya. Terpaksa, Milo harus memakai transportasi umum. Ia lalu menyeret kopernya keluar dari Stasiun King's Cross sambil menggerutu tidak jelas di balik syal tebalnya.
"Kakak!"
Milo menoleh ke kanan-kiri, bingung dengan suara familiar yang memanggilnya. Angkat bahu sejenak, ia lalu melanjutkan perjalanan mencari taksi di tengah udara membekukan ini ketika langkahnya tertahan oleh tarikan kecil pada jaketnya. Ia berbalik ke belakang dan melihat pelaku kejahatan yang menahannya di sana. Seorang bocah perempuan berkulit coklat matahari dengan jaket ungu pastel dan hidung memerah kedinginan sedang tersenyum lebar.
"Kak Milo! Selamat datang!"
"Sonia?!" seru Milo, kaget bukan main. "Apa yang kau lakukan di sini? Sendirian? Mana ibu?" todongnya. Sonia mengacuhkan pertanyaan-pertanyaan Milo dan malah melingkarkan tangannya di kaki pemuda berambut pirang itu.
"Gendong! Kak Milo gendoooooong!" rengeknya sambil menarik-narik celana panjang Milo, membuat pemuda itu lalu merengkuh sang bocah di kedua tangannya, "kangeeeeen," lanjut Sonia seraya mengalungkan tangannya di leher sang kakak, mengubur wajahnya di kerah bulu jaketnya. Milo masih sedikit kaget dengan kejadian ini ketika matanya menangkap sosok sang ibu yang berjalan dengan santai menuju ke arahnya. Rambut pirang sang ibu kontras dan menyilaukan di tengah-tengah kerumunan.
"Halo, Milo. Selamat datang," ujarnya sambil menepuk-nepuk kepala Milo, membersihkannya dari salju. Milo hanya nyengir lebar.
"Kukira Ibu sibuk?"
"Memang, tadinya. Tapi Sonia merengek-rengek terus ingin menjemputmu dan mencari kue natal, jadi apa boleh buat," jawab sang ibu, seadanya. Namun, Milo tahu kalau ibunya itu memang punya niat untuk menjemputnya. Sonia hanya dijadikan salah satu alasannya saja.
"Yayaya, apapun. Sonia, mau kue natal apa?" tanya Milo pada adiknya yang masih betah berada dalam pangkuan tangannya. Sonia lalu mengerutkan dahi, berpikir sangat keras. Milo hampir ingin tertawa melihat keseriusan raut wajah adiknya ini.
"Mmmm, jeruk! Sonia mau jeruk!" seru bocah itu, mengacungkan kedua tangannya ke atas dan menggoyang-goyangkan kakinya.
"Jeruk?" tanya sang ibu. "Aku tahu cake coklat-jeruk yang enak. Lagipula ayahmu sudah merengek-rengek tentang gilirannya memilih kue natal. Sudah tua juga, masih saja bertingkah seperti itu. Dasar," lanjutnya seraya pergi sambil menarik koper Milo. Milo lalu mengikuti sang ibu menuju tempat parkir mobil, menuju libur sementaranya dari dunia sihir-menyihir.
sonia itu sapa? Oc? Milo aneh banget. en aku gak ngerti sama ceritanya.
ReplyDelete#Lizzy#