Disclaimer :
Saint Seiya Lost Canvas (c) Shiori Teshirogi
Saint Seiya (c) Masami Kurumada
"Manigoldo, bangun," bisiknya. Lalu, dengan satu gerakan tangan, ia memutar jaring yang dijadikan tempat tidur dan menjatuhkan temannya ke lantai kayu--membangunkannya dalam proses.
"Aduh!" seru Manigoldo kencang ketika tubuh besarnya menghantam lantai, "brengsek, Kardia! Apa maumu?!"
Kardia tergelak dan lari ke dek, kabur dari amarah Manigoldo yang sedang terduduk sambil merepetkan sumpah serapah. Kabin tempat tidur awak kapal kosong. Cahaya masuk dari sela-sela badan kapal dan dari pintu menuju dek. Goyangan ritmis kapal yang menembus gelombang sebenarnya membuat ingin tidur, tapi seorang pemuda brengsek kekanak-kanakan sukses membuat kantuknya hilang.
"Oooy, Manigoldo cepat ke ataaaaaaaaas!!!" seru seseorang dari dek. Manigoldo menghela napas sejenak sebelum berdiri dan melangkah menuju dek kapal yang luas tersebut.
.
.
.
"Letnan Komander Albafica!"
Albafica berhenti berjalan dan melirik sumber suara, seorang pemuda berambut hijau yang kecil dan berwajah manis. Dari insignia pada seragam yang dipakainya, kelihatannya pemuda itu adalah seorang kadet. Ia berlari-lari melintasi square dengan sepotong kertas di salah satu tangannya.
"Lapor, Letnan Komander Albafica! Saya mendapat titipan dari Komander Sisyphus," ujarnya sambil sesekali mengatur nafas. Tangannya mengulurkan surat dengan cap dari Sisyphus, atasannya langsung.
"Dan kau? Siapa namamu?" tanya Albafica.
"Shun. Kadet yang ada di bawah pengawasan Komander Sisyphus," Shun berkata sambil memberi hormat pada Albafica. Pemuda berambut biru langit itu tersenyum tipis dan membalas hormat Shun.
"Kalau begitu sampaikan pada Komander Aiolos bahwa aku sudah menerima suratnya. Terima kasih, Kadet Shun."
.
.
.
"Apa itu? Kapal marinir?" Manigoldo memicingkan matanya. Di kejauhan, tiga kapal besar dengan layar putih bergerak cepat menuju kapalnya. Kardia mengangguk.
"Siapa lagi orang-orang kurang kerjaan yang suka memburu bajak laut tidak berdosa seperti kita?" ujarnya polos sebelum seseorang menyikut kepalanya.
"Polos? Lalu kelakuan kalian yang merusuh di katedral Styx demi bisa minum air suci itu apa?"
Kardia melirik ke arah pelaku penyikutan kepala dan mengangkat bahu. "Oh, Degel-ku sayang, semua ini adalah ide dari kapten kita tercinta, Ilias. Mana mungkin bisa kami lewatkan?"
Degel mengerutkan keningnya dan menatap tajam Kardia. Yang bersangkutan hanya terkekeh geli melihat ekspresi wajah si navigator yang selalu saja galak. Regulus hanya tertawa melihat kelakuan kedua temannya sementara Manigoldo masih fokus melihat lewat teropong.
"Ehem, yak, anak-anak. Boleh kuminta fokus kalian sebentar?"
Semua mata lalu beralih pada sosok yang keluar dari kabin nakhoda. Pria berambut pendek dengan mata biru cerah. Ilias.
"Sepertinya jejak kita sudah ketahuan oleh para marinir itu. Kalau tertangkap, kita bisa dijebloskan ke penjara atau digantung di selat Athens. Jadi?" tanyanya.
.
"Kapten, berapa peluru meriam yang harus kusiapkan hari ini?"
No comments:
Post a Comment