Tuesday, 15 January 2013

SASA : Saga

"Diculik?!"

Sang bishop berdiri mendadak, mengagetkan pendeta muda muridnya. Wajahnya kaget. Horor dan paranoid mendadak tercampur aduk, berputar dalam ruang hampa di kedua mata birunya.

"Benar, Tuan. Aiolos diculik oleh ratu untuk dijadikan tumbal."

Saga mendecih, mengepalkan tangan, mengerutkan wajah. Marah. Ketika sang terkasihnya direnggut sedemikian hingga oleh entitas dewa yang tidak dikenal dan bahkan tidak dipujanya, apakah lalu dia pantas disebut dewa? Mengabaikan kupu-kupu hitam yang mulai berterbangan dalam benak dan bersarang di dada, Saga membulatkan tekad untuk merebut kembali sang pujaan hati.

.
.
.

Ketika Aiolia mengambil lembah sebagai jalan pintas menuju tempat sang dewa, maka Saga memutuskan untuk melipir sepanjang sungai demi mencapai dinding tinggi yang memisahkan alam dewa dan alam manusia. Di hulu sungai, air terjun yang tinggi mengalir deras dan berbahaya. Konon, di balik air terjun itu terdapat sebuah gua yang menghubungkan kedua alam. Tepat ketika kakinya menginjak tepi sungai berlumut yang licin, sudut matanya menangkap kilau putih.

Seekor angsa perak sedang terbang dengan anggun dan aneh di atas aliran sungai yang deras dan berbahaya. Bulunya yang terciprat air memantulkan cahaya kelap-kelip. Saga terpana, terpesona, terhipnotis karismanya.

"Manusia. Dua rasa dalam satu hati. Sungguhkah menyelamatkannya adalah tujuanmu? Atau semuanya hanya ego belaka?"

Pertanyaan yang tegas, lugas, tepat sasaran. Saga yang masih ragu akan perasaannya dan Saga yang tidak bisa tidak jatuh cinta pada Aiolos. Saga yang...ada di titik simpang terjauh dari seluruh putaran hidupnya, di titik balik yang menentukan akan jadi apa masa depannya.

"Aku...aku tidak tahu. Yang kutahu, aku tidak ingin dia, Aiolos, mati." Ada satu kelembutan dan kerinduan meluncur secara tidak sadar dari mulut Saga ketika ia menyebutkan nama Aiolos. Aiolos, Aiolos, Aiolos. Saga merasa ia bisa hidup untuk selamanya hanya dengan bermodalkan mantra tersebut.

Angsa itu lalu bersinar keperakan dan muncullah seorang manusia di tengah-tengah sungai. Rambut pirangnya bergoyang lembut. Mata birunya tenang dan menghanyutkan.

"Jika memang begitu, maka pergilah dan selamatkan dia. Selamatkan dia sebelum Dewa merengkuhnya dalam kegelapan, sebelum ia ternoda oleh gelap yang kekal."


1 comment:

  1. saga oh.. saga... galau-nya dikau. mirip kardidi ya? bener-bener mirip. Mirip galau-nya#nyengir. fantasy. hebat. di SS blum ada fantasy. ato jarang? gak tau deh.

    #Lizzy#

    ReplyDelete