Friday, 25 January 2013

Family

Disclaimer : Saint Seiya (c) Masami Kurumada 

.
.

Kouga masih ingat tentang bahu lebar dan lengan besar yang siap merengkuhnya, menggendongnya, menghiburnya dalam setiap kesulitan. Bagaimana sang ksatria emas akan meluangkan waktunya untuk sekedar menceritakan kisah hidupnya di masa lalu, bagaimana mata sang ksatria kuil ke sepuluh itu berkilat kesenangan untuk kemudian tenggelam dalam sedih tak terperi. 

Seiya mungkin seorang mentor yang tegas, senior yang mengayomi, dan kakak yang selalu siap melindungi. Namun, bagi Kouga, Seiya lebih dari itu. Seiya adalah ayahnya, panutannya, junjungannya, segalanya. Bahkan, kalau sampai Seiya dan Athena bersitegang lalu kemudian berdiri di sisi yang berlawanan, Kouga pasti akan memilih mengikuti ksatria Sagittarius itu daripada menuruti sumpah setianya pada sang dewi.

Seiya, satu-satunya keluarganya.

.
.
.

"Kouga."

Kouga mengerjap beberapa kali sebelum membuka mata. Sinar matahari menerobos masuk pupilnya, membuatnya terpaksa mengedip sekali-dua kali sebelum terbiasa dengannya. Yang pertama kali dilihat oleh pegasus muda itu adalah siluet garis rahang yang tegas, rambut yang berantakan, dan gelombang warna coklat yang dibiaskan oleh matahari.

"Bangun, Kouga. Kau bisa sakit kalau tidur terlalu lama di alam terbuka begini."

Telinganya menangkap suara yang tidak asing. Nada bariton sedikit tenor yang familiar. Intonasi suara yang sudah lama ingin ia dengar.

"Se...iya?"

Kouga lalu mendengar dengus geli, disusul siluet yang menutupi pandangannya itu bergerak ke samping, memberikan akses cahaya masuk ke matanya lebih banyak. Kouga melirik ke arah siluet itu bergerak dan menemukan pria berambut coklat dengan kaus tanpa lengan warna merah dan celana training putih kusam duduk. Mata coklatnya melihat ke depan sebelum beralih menatapnya. Senyum tipis terulas.

"Pagi, Kouga. Tidurmu nyenyak?"

Kouga bangkit dan menggosok matanya. Nyawanya seolah masih melayang-layang di udara, menolak kembali ke dunia nyata.

"Lumayan tapi badanku sakit semua," ujarnya sambil sedikit menyeringai.

"Tidur di rumput begini, jelas saja badanmu sakit."

"Habis, aku tidak bisa tidur di barak ksatria perunggu."

"Kenapa memangnya?" Seiya sedikit mengubah posisi duduknya. Nada suaranya terdengar cemas. 

"Eden selalu menerorku untuk menceritakan tentang kisah legenda ksatria perunggu sebelum kami menurut versimu. Sudah kubilang, tanyakan saja langsung padamu, tapi dia tidak menggubris. Malah, dia langsung bicara panjang lebar soal Leo Mycenae dan tentang Phoenix Ikki dan tentang Mars dan Medea. Mana bisa aku tidur?" protes Kouga. Seiya tergelak mendengar jawaban dari pemuda yang dulu ia selamatkan dari kobaran api itu. Penerus zirah sagittarius itu lalu menepuk-nepuk kepala sang pegasus muda.

"Omong-omong, bagaimana latihanmu dengan Shaina?"

Kouga melempar senyum jahil sebagai jawaban dari pertanyaan Seiya. "Kau menanyakan latihanku, atau pelatihku?"

"Hei, jangan mengganggu orang tua seperti itu," ujar Seiya sambil menggaruk belakang kepalanya. Kouga bisa melihat semburat merah muda tipis mewarnai wajah pria yang lebih tua darinya itu. Ia lalu berdiri dan meregangkan ototnya.

"Ah, aku juga pingin cepat-cepat punya pacar! Hei, Seiya, kalau kalian punya anak, anakmu itu akan jadi adikku, 'kan? Lalu, zirah sagittarius itu tetap milikku, ya!" ujar Kouga cepat sebelum berlari menjauh menuju barak ksatria perunggu, meninggalkan Seiya terbengong-bengong dengan wajah merah merona.

No comments:

Post a Comment