Friday, 28 September 2012
Years of Youth #6.5.4
.
.
.
"Apa?" geram Kardia galak. Tidak ada tulangnya yang patah--tidak ada luka barang segaris pun di tubuhnya. Detik-detik penyelamatan Hades--yang Kardia tahu bahwa guru berkelakuan emo gila hormat itu sengaja menyelamatkannya di detik akhir demi apresiasi ekstrim dari rekan pengajar dan murid-murid tentang bagaimana tepatnya ia menyelamatkan nyawa Kardia--membuat nyawanya tidak jadi melayang. Satu-satunya yang terluka dalam kejadian Rhadamanthys menghantam Kardia yang sedang menguap lebar di atas sapu itu adalah harga dirinya yang memang kelewat tinggi. Dihantam jatuh oleh Bludger, oleh Rhadamanthys, di hadapan ratusan orang, lalu diselamatkan penuh rencana tentang kehormatan, dan pingsan di tempat karena tubuh yang kena terjang menolak bekerja sama untuk tetap sadar sampai akhir.
Dan di atas itu semua, karena semua kepayahannya itu dilihat, disaksikan, dan diamati langsung oleh pria Ravenclaw yang kini sedang berdiri diam di samping tempat tidurnya.
"Kalau ada yang mau kau katakan, cepat bilang!" sergahnya sebelum bangun dari berbaring. Mata mereka kini sejajar meski Kardia sedang duduk. Ekspresi wajah Degel masih kosong dan datar, seperti biasa. Kardia hapal betul wajahnya yang ini. Berbulan-bulan ia habiskan untuk menebak-nebak apa yang ada dalam pikiran Degel, sampai akhirnya ia menyimpulkan bahwa Degel adalah titisan dari wanita salju (yang membuatnya habis dikerjai Unity--sepupu Degel--ketika berkunjung ke kediamannya musim panas empat tahun lalu).
"..k."
Perhatian Kardia kembali lagi pada Degel setelah melayang-layang di ambang kegilaan dunianya sendiri, hanya untuk menemukan pemuda Ravenclaw itu menggigit bibir bawahnya dan menangis. Me-na-ngis. Air mata mengalir begitu saja seperti air terjun--atau setidaknya itu ungkapan yang bisa otaknya, yang sudah tercemar lagu galau tanah Inggris Raya--dari sudut mata Degel. Degel tidak terisak hebat, tidak meraung keras, atau melemparnya dengan benda apapun. Hanya menangis, sambil berdiri, sambil menatapnya, sambil meremas kantong belanjaan dan ujung seprainya dengan kikuk.
"Kupikir kau..." ujarnya terputus. Satu tangan yang bebas menggosok sudut mata. "Aku pikir...."
"Aku pikir kau akan mati. Kardia. Aku...." Lalu Degel kembali tenggelam dalam isaknya, kini lebih keras, lebih lepas, dan lebih menampar Kardia dengan keras. Kantong cokelatnya sudah jatuh, dan kini Degel terduduk dan merunduk di samping tempat tidur Kardia, melepaskan emosi yang sempat menyelimutinya beberapa jam yang lalu di lapangan kala ia melihat maut sebegitu dekatnya dengan pemuda pirang di depan mata.
.
Lagi. Seprai putih. Jendela besar. Tempat tidur. Bau ramuan aneh. Berbungkus-bungkus cokelat kodok.
Lagi. Berbaring tidak berdaya di atas tempat tidur.
Lagi. Dikelilingi orang-orang yang bercanda, tertawa-tawa, dan tidak tahu malu, yang menertawakan kejatuhannya di pertandingan serta keberhasilan sang Seeker saat menangkap Snitch di detik kejatuhannya, sehingga Gryffindor tetap menang.
Lagi. Dia-yang-namanya-tidak-bisa-lepas-dari-ingatan datang dengan sekantong besar cokelat kodok. Kardia sudah siap jika pemuda berkacamata itu mau melemparnya lagi dengan apapun kali ini, apakah itu bungkus cokelat atau kursi tunggu. Ia sudah siap melontarkan kata-kata keji kalau-kalau Degel tergagu bingung mau berkata apa, siap menghakimi sepihak tentang apa yang ada di kepala pemuda berotak cemerlang itu, siap menjadi laki-laki paling brengsek yang pernah dikenal olehnya.
Lagi. Kardia dibuat jungkir balik kaki di kepala, jatuh ke dalam rasa paling aneh, terjebak dalam penjara rindu, dan merasakan yang disebut dengan cinta. Lagi. Untuk orang yang sama, untuk yang kedua kalinya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment