Monday, 17 September 2012

Years of Youth #3

disclaimer

Harry Potter : J.K. Rowling
Saint Seiya : Masami Kurumada

.
.
.



!!!

Sahut-sahutan berbentuk seruan-seruan berfrekuensi dan volume tinggi yang memekakkan telinga siapapun yang mendengarkan mereka dari dekat. Pembuluh darah di leher menegang, detak jantung meningkat seiring dengan naiknya kebutuhan darah di organ bicara dua orang tersebut. Tersembunyi di sudut tersembunyi sekolah yang jauh dari lalu-lalang hantu jahil dan siswa maupun guru, apalagi penjaga sekolah iseng, Kardia dan Degel adu mulut untuk yang keseribu kalinya hari itu.

"Dan katamu Kanon hanya membantu tugasmu sebagai Prefek?! Oh, apakah 'tugas' seorang asisten Prefek itu termasuk memeluk dan menyatakan cinta?!" sembur Kardia. Mata birunya menatap tajam hijau milik Degel.

"Sudah kubilang, Kanon hanya latihan, Kardia! Dia--

DUAK! Kardia meninju dinding di sampingnya. Noda merah langsung mewarnai kepalan tinjunya. "Kanon suka padamu, Degel."

"Tidak, Kardia. Dia suka pada Milo. Sepupumu." Degel berkata hati-hati. Hatinya ciut melihat Kardia ber-cih keras setelah mendengar pernyataannya.

"Ya. Tentu. Kanon menyukai Milo, tapi dia dan Camus adalah sepasang kekasih, bukan? Berita tentang mereka sudah jadi rahasia umum. Hebat sekali alasanmu, 'Kanon menyukai Milo'." Kardia mendengus kencang.

Degel merapatkan giginya, kesal. Marah. Pada Kardia yang terlalu cepat naik darah karena hal sepele dan pada dirinya sendiri yang lupa kalau Kardia adalah orang yang mudah meledak. Hubungan mereka baru berjalan lima bulan--empat kalau kau tidak menghitung libur musim panas--tapi mereka bertengkar hampir setiap hari. Penyebabnya? Kecemburuan tidak mendasar dan sikap posesif berlebihan dari seorang Gryffindor kelas lima berambut pirang dan mata biru identik dengan saudaranya di kelas satu asrama yang sama.

"Tidak ada penjelasan untuk semuanya, eh?" tagih Kardia. Kedua tangannya melipat di depan dada. Wajahnya masih keras. Degel menghela napas.

"Aku sudah jelaskan. Semuanya."

"Itu penjelasan?"

"Cukup, Kardia." Degel mendongak, menatap lekat dua biru terang yang sedikit kaget. "cukup. Aku tidak tahan lagi dengan semua sikap cemburu dan posesif konyolmu ini. Tidak."

Kardia menurunkan tangannya ke samping tubuh. Dahinya mengerut. "Apa maksud--

"Kita putus."

No comments:

Post a Comment