Tuesday, 29 January 2013

The One Who Chasing The Sun #6

Aspros yakin ada satu sekrup otaknya yang lepas sampai-sampai ia berhalusinasi seperti ini. Mungkin gara-gara ia terlalu asyik menghajar gerombolan manusia berkacamata hitam di depan cafe tadi, atau gara-gara rambut merah muda lawannya terlalu absurd sampai-sampai merusak saraf matanya. Telinganya pun bermasalah, mungkin sebagai after-effect dari seruan dan makian dari lawan-lawannya itu ketika mereka habis dihajar di wajah--padahal si lawan sudah mengingatkan untuk tidak memukulnya di muka.

Karena sekarang, Aspros melihat Defteros sedang bersenandung senang sambil merebus air untuk kopi dengan senyum lebar tidak lepas dari wajah-super-datarnya itu.

"Err...Defteros?" sapa Aspros ragu-ragu. Defteros menoleh ke arah kakak kembarnya itu. Senyum tipis terulas di wajah berkulit coklat. Aspros merasa semua rambut halus di lehernya berdiri.

"Hoi, Aspros. Aku buatkan kopi kesukaanmu. Cafe latte?"

Pupil mata Aspros mengecil, nafasnya tertahan, otot kakinya menegang, perutnya mulas.

"Defteros...kau...tidak apa-apa?" tanya si kakak hati-hati sambil mundur selangkah tiap frasenya. Satu tangannya siaga di daun pintu.

Defteros memiringkan wajahnya. "Apa? Tidak apa-apa. Oh, hari ini kita makan pasta kesukaanmu. Fusilli saus tomat dengan keju mozarella. Kudapannya bawang bombay tepung goreng dengan mayo--

BRAK!

Aspros membanting pintu dan berlari sekencang-kencangnya, meninggalkan Defteros yang melongo kebingungan.

1 comment:

  1. Si kembar ini astaga banget ya? Sama kek authornya. Hehehehehehe. Peace.

    #Lizzy#

    ReplyDelete