Ciel tetap jatuh untuk orang yang sama.
"Haaaaah," helanya. Satu batang rokok terselip di sela jarinya. Asap nikotin mengambang di udara. Dinginnya udara malam tidak membuat pemuda ini mengurungkan niatnya untuk menghabiskan waktu di teras rumah yang sudah disulap jadi perpustakaan. Duduk setengah selonjoran di dipan kayu beralaskan kasur empuk, Ciel memutuskan untuk lari sejenak dari tanggung jawabnya sebagai seorang mahasiswa. Baru saja ia memulai rutinitas malamnya, isi otaknya langsung berkelana ke hutan gelap terlarang yang diisi monster galak. Monster galak berambut hitam panjang dan menggigit.
"Galau melulu. Kerjain skripsinya, sana."
Ciel tidak perlu repot membalikkan badan untuk mengetahui siapa pemilik suara cempreng semena-mena itu. "Lo sendiri? Malah makan es alpukat malem-malem begini. Babi."
Luca mendengus. "Sidang gue masih hari Selasa, dan alpukat nggak bikin gendut."
"Ya sidang kita kan harinya sama, jamnya sama. Dasar nenek-nenek pikun. Alpukatnya sendiri sih nggak, kalo dikasih gula sebanyak itu sih lain cerita."
Luca menatap sebentar mangkok berisi benda kehijauan yang ditutupi oleh banyak gula merah di tangannya sebelum memasukkan satu sendok besar ke dalam mulutnya. "Mending jadi nenek-nenek pikun daripada masih belum move on juga. Udah ditolak, yang nolaknya sekarang udah punya pacar pula, mau jadi apa idup lo?"
Ciel menyalakan rokok lagi dan menghisapnya pelan. "Hah, omongan orang yang mau-maunya tetep ada di zona sahabat dan ngorbanin perasaannya sendiri pake acara nangis-nangis segala. Ngaca lu."
.
"Luke, jangan lempar Ciel pake mangkok. Dia bisa mati. Ciel, simpen asbaknya di meja. Sekarang."
sompret urang ketohok!!
ReplyDelete#ketawangakakgulingguling