Dimulai dari hari-hari awal November, sesekali keping es itu turun dari langit dan angin beku menghembus menembus celah kastil yang luput, atau sengaja dibuat luput, dari perbaikan. Suhu di luar kastil sering menembus angka nol derajat.
Dan dalam kondisi ekstrim begitu, Tim Quidditch Gryffindor tidak pernah absen latihan sekalipun. Berniat mempertahankan kemenangan mereka dalam pertandingan musim dingin, Sisyphus memutuskan untuk membuka topeng senior-baik-hati dan kapten-paling-pengertian di dunia ini dengan menjadi pelatih sparta. Di tengah hujan salju, dengan putih membutakan mata, tujuh orang pemuda-pemudi anggota tim dipaksa naik ke atas sapu dan berlatih.
Semua, tidak terkecuali Kardia yang kini tengah melamun bodoh di dekat gawang. Defteros terbang tidak jauh di sebelahnya, sesekali melirik Kardia dan Sisyphus dan Kardia dan Sisyphus lagi selama beberapa menit, sebelum mengangguk singkat ke arah sang kapten dan melayang terbang menabrak sapu Beater dari kelas lima itu, membuat Kardia oleng dan menjerit kaget dan bergelantung satu tangan pada sapunya sambil menatap galak seniornya yang satu itu.
"Brengsek!" umpat Kardia, setengah menggeram tertahan--takut pada amukan Sisyphus dan detensi Defteros--pada Prefek Gryffindor itu. Defteros mendengus.
"Fokus, Kardia. Kalau bukan karena Isaac menangkap Snitch saat Rhadamanthys menghajarmu, kita tidak akan menang. Camkan itu. Tidak. Akan. Jadi sebaiknya kau buang Degel jauh-jauh dari pikiranmu saat kau ada di lapangan, dan berlatih yang benar."
Kardia ber;'tsk' pelan sebelum mengayunkan tubuhnya dan melayang pergi ke area latihan, bergabung dengan teman-temannya yang lain, menerima amukan Sisyphus karena berani bolos latihan sehingga ia--terpaksa--harus turun ke tanah dan lari seratus putaran sebagai hukumannya.
.
.
.
"Degel."
Sekerat thyme, dua tetes rambut Unicorn....
"Degel."
Potongan kayu ek, tiga ikat insang....
"Degel!!!"
Bunyi 'duk' pelan dari centong kayu yang jatuh ke meja dan jeritan melengking tepat di depan telinganya membuat Degel kembali ke dunia nyata. Ia mengerjap sekali-dua kali, sebelum menyadari bahwa teman-teman Ravenclaw-nya sedang menatap ia horor, dan Albafica sedang menarik lengan jubah hitamnya. Tepat di samping kanan, lewat surai-surai hitam dan manik biru--yang ia lihat dari sudut mata--Poseidon sedang melipat tangannya di dada. Murka.
"Minggu kemarin kau hampir meledakkan tempat ini, dan minggu ini kau tidak membuat ramuan yang aku suruh! Kenapa kau malah membuat ramuan penghilang sakit, dan bukannya ramuan kejujuran?!" sergah Poseidon. Degel menunduk menatap tanah selagi Albafica buru-buru mematikan api dari bawah kuali Degel.
"Keluar! Dan jangan kembali sampai isi kepalamu tertata rapi dan pikiranmu kembali benar!!!"
No comments:
Post a Comment