Sunday, 21 October 2012

Years of Youth #13

"Kardia!!!"

Kardia melompati anak tangga tiga-tiga sekaligus, sesekali menabrak-nabrak beberapa senior--yang sudah maklum dengan kelakuan miring Kardia--dan banyak junior--yang rela-rela saja ditabrak oleh Bludger tampan dari Gryffindor. Harusnya sisa hari ini ia habiskan dengan malas-malasan di Ruang Rekreasi asrama, menggelinding di karpet empuk dekat perapian, sambil mungkin mengerjakan tugas Transfigurasi dan Mantra. Harusnya.

Sampai ketika ia turun dari Menara Astronomi dan menemukan Degel di ujung koridor menuju asrama. Memori brengseknya mendadak memutar balik menuju waktu di mana ia menemukan seorang sialan dari Slytherin sedang--

"Kardia! Berhenti kabur!"

Kardia buru-buru mengenyahkan pikiran gila itu dan fokus kabur. Kabur dari orang yang memancing adegan gila di ujung tersembunyi kastil itu terbayang dengan sangat nyatanya.

.
.
.

Tapi, kadang, bahkan, seorang Kardia pun, tidak bisa lolos dari mangsa yang kini berbalik mengejarnya.

.
.
.

Setelah berlari menyusuri kastil, naik-turun tangga, melintasi lapangan, menyusuri tepi danau, dan tersesat di taman labirin, Kardia menyerah. Tidak, niatnya untuk kabur tidak akan pernah bisa menerima keadaan dirinya menyerah. Tubuhnya lah yang membuatnya menyerah.

Jantungnya sudah berdebar dengan ritme yang tidak karuan sejak sepuluh menit yang lalu akibat lari-larian ekstrim yang baru mereka berdua lakukan. Hal ini membuat pasokan oksigen ke seluruh tubuh Kardia menurun drastis; dan kini ia sedang menanggung efek dari hal itu. Terduduk dengan napas sangat cepat dan pandangan buram. Berlari sedikit lebih lama lagi, dan dia akan pingsan di tempat.

Dan di belakangnya, berdiri Degel yang sedang berusaha mengatur napasnya sambil mencengkram kerah kemejanya.

"Berhenti...kabur...dariku...Kardia," sengal Degel di sela-sela napasnya. Kardia hanya diam dan berusaha mengatur tubuhnya, memaksa tubuh lemahnya untuk kembali bekerja dnegan normal.

"Kardia?" tanya Degel, kini berada di hadapan si Gryffindor muda. Kardia mendongak, masih bernapas cepat dan mencengkram dadanya. Ia lalu tersenyum.

"Yo... se...bentar...ya?" ujarnya putus-putus. Mimik wajahnya lebih pucat dari biasa. Kardia memang putih, nyaris pucat, meski tidak sepucat Minos atau Aspros. Meski menyandang gelar Beater dan anggota Klub Duel, Kardia juga merupakan pelanggan tetap Bangsal Rumah Sakit, terutama di awal-awal kehidupan asramanya. Penyakit lama bawaan lahir adalah penyebabnya. Begitu ia aktif di berbagai kegiatan yang melibatkan fisik dan stamina, pelan-pelan frekuensinya berkunjung dan menginap di bangsal berkurang. Namun, sekalinya kumat, ia bisa terbaring berhari-hari

"Kenap...astaga. Maaf, aku lupa. Sungguh, aku..." ujar Degel panik. Ia buru-buru berlutut dan mengobservasi Kardia, melihat apakah pemuda itu membutuhkan penanganan segera. Kardia lalu menepuk lengan Degel.

"Jangan panik begitu, oke?"

"Kau, tidak apa, Kardia? Perlu kubawa ke Bangsal?" tanya Degel. Kardia menggeleng.

"Tidak. Ini, hanya kaget saja. Bukan apa-apa," jawab Kardia, yang kini mencengkram tangan Degel. Degel balik meremas tangan Kardia, berharap bisa sedikit meringankan apapun yang dirasakan pemuda bermata biru di hadapannya itu.

"Benar?"

Kardia mengangguk. "Lagipula, kapan lagi kita kejar-kejaran begini, dengan kau yang mengejarku?" ujarnya, dengan cengir lebar tersungging di wajah. Tangannya kini tidak lagi mencengkram tangan Degel, hanya menggenggamnya saja. Setiap indera perasa di tangannya berusaha menghapalkan lagi kontur tangan Degel. Bagaimana rasanya, bentuknya, hangatnya. Semuanya.

Ketika Kardia sedang sibuk dengan kerinduannya akan Degel, yang bersangkutan malah merengut kesal. "Kalau tidak kukejar, kau tidak akan mau menjelaskan padaku kenapa kau menghilang dan kabur seperti orang melihat hantu setiap kali melihatku."

Kardia tergelak. "Oh, itu. Hahahaha. Tidak ada apa-apa, kok," ujarnya sambil nyengir lebar. Degel makin merengut.

"Lalu, ucapanmu soal selalu ada di sampingku atau mencintai tanpa syarat itu juga bukan apa-apa? Bukan sungguhan?" Degel menyentakkan tangannya. Air wajahnya semakin suram. Kardia lalu menghela napas panjang.

"Degel."

Degel tidak menjawab. Ia hanya menatap manik biru Kardia dalam bisu, sambil menikmati sentuhan lembut Kardia di wajahnya. Ah, betapa ia merindukan tangan hangat itu.

"Degel, aku mencintaimu. Dulu, sekarang, dan seterusnya. Itu adalah satu yang tidak akan berubah."

"Lalu?"

Kardia menghela napas lagi. "Lalu, alasanku tidak mau bertemu denganmu adalah, karena aku tidak mau membuatmu jadi objek imajinasi liarku."

"....hah?"

Kardia menggaruk kepalanya, bingung harus mulai dari mana. "Aku, anak muda. Dan pikiran anak muda kadang, melenceng cukup jauh dari seharusnya, kan?"

Degel mengangguk ragu. "Ya? Lalu?"

"Well, kau tahu, tingkatan paling tinggi yang paling ingin kau lakukan bersama orang yang kau cintai?"

"....apa?"

Kardia face palm. Ia tahu Degel itu polos, tapi...

"Aku melihat Minos dan Albafica."

"...ya? Minos dan Albafica sedang?"

"........................bercinta."

.
.
.

No comments:

Post a Comment