Pintu ruang kelas menjeblak terbuka, memperlihatkan seorang pemuda berambut pirang dengan mata biru yang berdiri terengah-engah dengan keringat membanjiri wajah. Semua anak menatapnya, begitu juga dengan sang guru. Pria di usia awal tiga puluh, dengan mata biru gelap dan rambut coklat tembaga. Dahinya berkerut saat melihat kedatangan heboh Kardia.
"Maaf...Sir...saya...terlambat...."
Ares menaruh buku yang sedang ia baca lalu berjalan ke arah Kardia. Tongkat sihir dari kayu Ash dengan inti naga-nya diayun-ayunkan berbahaya. Matanya berkilat jahat ketika ia mengayunkan ke arah Kardia dan meledakkan pintu kayu di sebelah sang Gryffindor.
"Jadi," DAR! "kenapa," DAR! "kau," PRANG, lampu kecil di pilar pintu jatuh. "datang," BRAK, Kardia berguling ke samping dan menabrak meja kayu. "terlam--
"Expelliarmus!" seru Kardia dari balik kursi, disaat yang sama Ares menarik meja dan membiarkan meja malang tersebut meledak jadi kepingan tajam ketika telak dihajar oleh mantra Kardia. "Aku minta maaf, Sir! Bukan mauku datang terlambat!"
"Lalu kenapa kau datang terlambat, Kardia dari Gryffindor, Beater Tim yang pernah memukul Bludger ke arahku sambil cengengesan tolol, anggota Klub Duel yang hobi melucuti pakaian lawan?"
Kardia, yang sudah berdiri dan tidak lagi bersembunyi, membuka mulutnya sebelum merona merah. Sangat-merah. Lebih merah dari rambut sang guru yang warna tembaga, apalagi rambut merah Camus. "Aku...."
Ares sebenarnya ingin bertanya lebih jauh tentang perubahan ekspresi wajah Kardia, tapi ia menahannya untuk lain kali. "Ya?"
"Aku...jalan pintas yang...biasa kulewati...anu," ujar Kardia gugup. Ares makin mengerutkan dahinya.
"Ya? Ada apa dengan jalan pintas yang tidak pernah mau kau bagi dengan kami?"
"...aku butuh ke kamar mandi, Sir," jawabnya tiba-tiba sambil angkat kaki dari kelas, memancing sumpah-serapah dan pengurangan poin asrama dari Ares. Tapi Kardia tidak peduli. Salahkan Minos dan seseorang dari Hufflepuff sahabat Degel yang melakukan hal ngawur di sudut sekolah.
No comments:
Post a Comment