Derum knalpot menderu, selagi mobil itu melaju. Dengan knalpot modif sederhana hasil puasa dan menabung pelan-pelan selama satu semester, Celka menginjak pedal gas dalam-dalam, memamerkan bunyi garang hasil kerja kerasnya menahan nafsu makan selama enam bulan terakhir.
"Asiklah suaranya!" seru Luca, duduk di kursi penumpang sambil menarik-narik sabuk pengamannya--kesenangan. Celka hanya nyengir senang.
"Tadi, kata Risya, berapa kalo mau nge-jailbreak?" tetiba, Celka angkat suara. Luca yang sedang sibuk memencet-mencet tombol radio mengerutkan keningnya.
"Mmmm, sekitar seratus ribu. Tapi kalo yang di-jailbreak macem iPhone sih, kayanya lebih mahal lagi." gumam Luca. "Kenapa? Mau jailbreak iPhone barumu?"
Celka lalu tertawa renyah. "Percayalah aku punya? Mana ada aku punya."
"Lah? Kan tadi kamu bilang begituuu??" protes Luca.
"Percaya aja sih kamu. Dasar."
"We! Celka tukang bohong we!"
"Apaan sih, Luce. Masih ngawur aja mulutnya."
"Alaaah," Luca mengibaskan tangan, "ngatain ngawur, udah lama ngga ngobrol juga. Tau darimana mulut aku sering ngawur?"
.
.
.
"Tapi, sekarang seneng, kan, aku ada di sini?"
Luca diam sejenak sambil melirik Celka dari sudut matanya. Wajahnya tidak terbaca--tidak bisa dibaca. Poker face sialan, misuh Luca dalam hati. Luca lalu menengok ke jendela, melihat pohon-pohon yang bergerak mundur selagi kendaraan yang dikendarainya melaju.
"Pasti lah. Seneng banget."
.
.
.
Orang mana, yang tidak senang, ketika apa yang selalu diimpikannya setiap malam dan pintanya setiap sembahyang lalu dikabulkan dan direalisasikan oleh Tuhan?
No comments:
Post a Comment