Alasannya? Simpel saja.
"Kardia selalu kabur dariku setiap kali kami bertemu di koridor."
Camus mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba mencerna informasi. "Oh?" ujarnya setelah beberapa menit. Bahkan otak brilian turunan dari sang ayah--muggle ternama di bidang sains yang terkenal karena otaknya yang dibilang setara dengan seorang penemu rumus kuantum ternama--pun tidak bisa membuat bungsu yang menyandang titel 'Pangeran Es' ini mengerti maksud kalimat sang kakak.
Degel menyuap sup jagung ke mulutnya sebelum memasukkan sepotong besar Baguette ke dalamnya. "Ha! Hahaha hahahnga hia hihahahhaaghu!!!"
"Kak, telan dulu makananmu," ujar Camus, melirik kiri-kanan.
"Iya!" seru Degel tidak sabar setelah menelan makanannya. "padahal katanya dia cinta padaku! Padahal katanya cukup ada di sampingku dan melihat aku bahagia. Padahal...ARGH!" geramnya sembari menggebrak meja dan angkat kaki dari Aula Besar untuk mencari bedebah yang berani membuat emosinya berantakan seperti ini.
No comments:
Post a Comment