Asrama Gryffindor.
Milo dan sebaskom air dingin serta handuk.
Kardia yang terkapar di atas sofa. Salah satu pipinya memar.
Regulus dan Aiolia yang cekikikan bodoh di sofa seberang Kardia.
Sisyphus dan Aiolos yang sedang mengusir massa asrama untuk segera kembali ke kamar masing-masing dan berhenti mengerumuni Kardia.
Milo menggelengkan kepala melihat kekacauan yang terjadi. Setengah jam yang lalu, Kardia masuk ke Ruang Rekreasi yang ramai dengan tidak biasa. Muka lebam seperti habis ditonjok dan nafas terengah-engah seperti habis lari maraton keliling lapangan Quidditch ketika ia ngawur saat latihan lalu dihukum oleh Sisyphus, sebelum akhirnya pingsan di pintu masuk dan mengagetkan semua orang.
"Payah," gumam Milo seraya mengompres wajah Kardia. Kardia meringis sedikit. "Payah, Kar. Kau payah. Titel-mu saja troublemaker. Lawan satu orang Ravenclaw saja kalah. Kalau kau melawan Rhadamanthys lalu kau kalah, itu sedikit bisa dimengerti. Degel? Leluhur Gryffindor bisa malu," cerocos Milo.
"Diam, boc--ADUH!!!" seru Kardia ketika Milo menekan memarnya dengan emosi.
"Jangan memanggilku bocah ketika kau tidak lebih dewasa daripada aku," ujar Milo ketus.
"Hei, sudah kalian berdua."
Kardia dan Milo mendongak dan menemukan Defteros sedang berdiri sambil melipat kedua tangannya. "Milo, bisa tinggalkan aku sendiri dengan Kardia? Dan itu juga berlaku untuk kalian," ujar Defteros pada kuartet Regulus-Aiolia-Aiolos-Sisyphus. Milo lalu berdiri dan pergi, setengah lari, setelah sebelumnya menjulurkan lidah pada Kardia. Kardia menggeram, kesal. Kalau kondisinya tidak sepayah ini, ia pasti sudah menjitak adik kelasnya itu.
"Nah, jadi, Kardia, apa lagi yang kau lakukan hari ini?"
.
.
.
"Uhk--apa?!" Camus hampir saja memuntahkan kembali pai labunya. Alasannya sederhana.
"Itu alasannya," gumam Degel sambil menunduk, nyaris berbisik. Camus mengelap mulutnya yang sedikit dinodai remah kulit pai. Dahinya mengerut.
"Itu...alasan...Kardia.... Oke."
Degel mendongak dan menemukan Camus sedang--sedikit--tersenyum padanya. "Oke?" tanya Degel. Camus lalu mengangguk
"Itu artinya dia sangat menghargai dan mencintaimu lebih dari apapun, sampai tidak mau menodai dirimu bahkan dalam pikirannya sendiri, Degel. Kau harusnya bangga."
.
.
.
No comments:
Post a Comment